Forever Love

Forever Love
Kekasih hati



" Rindu sudah cukup... !


candamu terlalu kekanakan.



David pun kembali berkata dan mulai meluapkan emosinya.



" Awas saja.. kamu pulang Indo tiada ampun bagimu... tiga hari tiga malam tak ada ampun..."


David pun mulai menggoda Rindu.



Masih pembicaraan mereka melalui telepon.



" Dav... jangan bercanda.. Aku takutnya kamu yang menyerah masih satu ronde .. heheh.. balas Rindu.



" Rindu. kamu meragukan keperkasaan ku ya... nih aku lagi di kamar mandi juga


" Video Call sayang.


" I miss u.


kata David pergi ke kamar mandi dan mulai membuka baju sambil menantikan video call dari Rindu.



" Si iblis David ini kalau sudah kepancing mesum pasti bawaannya terus begitu... "


batin Rindu.



Ia tak menggubris permintaan David.


Ia mematikan ponsel dan ingin tidur.



Beberapa menit lagi muncul video call dari David.



Rindu tak menggubris.


Ada lima kali.



" David kamu itu memang iblis.


" Sekarang apa mau mu sihh..


guman gadis itu tak tahan dering video call ponselnya dan mengangkatnya.



Deg.



" Daviddd...!!


" Gilaa..!!


ketus gadis itu tak percaya.



Tampak dari video call itu tubuh seksi David setengah telanjang.



Dan dengan senyum sumringan David memamerkannya dan berkata,



" Sayang apa kau tak merindukan ini dan yang dibawahnya lagi... "


David mulai mengarahkan kamera pknselnya ke bawah dan melihat ekapresi wajah gadis itu memerah malu.



" Cukup Davidd.. Stupidd..!!!


Rindu tak dan menutup wajahnya.



David puas membuat Rindu kesal dan mengarahkan kamera ponselnya kearah bawah. Tampak David masih mengenakna celana jeans panjang.



" Rindu kamu munafikk..!


" Kamu menutup wajahmu seolah - olah kamu tidak pernah merasakan tubuhku yang seksi ini.


Goda pria itu lagi.



Rindu memang malu. Bukan karena ia munafik atau sok suci.



Tapi melalui ponsel dan video call ini untuk pertama kali baginya dipertontonkan secara langsung.



Ia tak percaya David senekat itu.



" Haha.. ayo lihatlah Rindu, buka matamu.."


David tertawa.



Kemudian Rindu membuka matanya dan melihat.



Deg.



" David kamuuuu.. !


" Ini gak lucuu .. Sudahlah aku mau istirahat. Aku capek. Byeee... !


Rindu merasa candaan David keterlaluan.



" Oke baby.. Jangan marah. Jangan matikan ponselmu. Lima menit lagi.


" I miss you.."


ujarnya lirih.



David menunggu balasan dari gadis itu.


Entah apa yang diharapkan David dari Rindu.



suara hati David.



Rindu sudah tahu apa maksud perkataan David itu. Tapi mengenai hatinya. Tiada yang tahu.


Apakah ia memiliki kekasih hati.


Karena hatinya masih ada Reino.


Namun tubuhnya menginginkan David.



" Mungkin aku sudah terjebak dalam dilema.." gumannya.




" David.... "


kata gadis itu pelan.



" Ya sayang.


Jawab David.



" Maafkan aku. Dav. "


" Aku belum bisa menyerahkan hatiku padamu"


" Seperti pertemuan kita tiga tahun yang lalu,


Engkau pernah berucap takkan pernah serius kepada perempuan manapun apalagi diriku yang sudah kotor.. Bagaimana mungkin aku memberikan hatiku pada pria yang hanya suka bermain...." Rindu berhenti berkata.



Kemudian ia melanjutkan lagi.


" Aku hanya teman ranjangmu.


" Kita sama sama butuh pelepasan.


" Tapi untuk yang satu itu, aku sudah punya kekasih hati..."


ujar Rindu seketika hening dan David diam.



Karena yang diharapkan David dari mulut gadis itu tak sesuai harapannnya.



Ia pun mematikan ponselnya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun.



Sementara Rindu pun mengerti mengapa David begitu



" Mungkin begini lebih baik Dav.


" Jangan mengharapkan lebih.


" Aku hanya pelepasan. Kau yang mengatakan itu. Apakah kau mau menarik ucapamu..."


Rindu berkata sendiri.



Ia pun terlelap tidur dengan segala dilema hatinya



Apakah ia akan memberanikan dirinya menjumpai Reino atau biarkan Reino yang pada akhirnya menjumpainya.



Dan David.


Sambil mnghisap rokoknya termenung menatap poto wajah gadis itu yang ada di ponselnya.



" Rindu... aku berkata seperti itu tiga tahun yang lalu karena aku benci kepada papaku.


" Aku frustasi dan menghabiskan malamku dengan wanita murahan yang berbeda.


" Dan aku pikir kau sama dengan mereka tapi aku salah. Kau berbeda walaupun sudah pernah ternoda.



David pun melihat agendanya minggù depan.


Tak ada jadwal penting.



Ia menelepon sekretarisnya.



" Hallo...


" Beib..Pesankan satu tiket pesawat tujuan Paris untuk minggu depan.


perintah David.



" Atas nama siapa Dav..


" Untukmu... ?


balas sekretarisnya.



" Ya.. atur ulang jadwalku minggu depan ya.. Kemungkinan aku disana seminggu...


katanya lagi.



" Baiklah Dav.. sekretaris itu menutup teleponnya.



David dan sekretarisnya memang terlihat akrab tak ada panggilan formal kepada bos lain umumnya.



Ya tepat. David pun pernah mencicipi sekretarisnya itu. Tapi sudah lama tak lagi sejak bertemu lagi dengan Rindu.



" Rinduuu.. tunggu aku..."


guman David.