
Hari ini Cinta beserta rombongan telah kembali dari perusahaan tersebut.
" Bagaimana desainmu Cinta.. Apakah banyak perbaikan..?" tanya teman disebelahnya saat bus hendak melaju pulang.
"Hanya beberapa kak.
"Desain kakak gimana..?"
balas gadis itu.
" Sepertinya aku begadang malam ini untuk memperbaikinya bayak sekali... ujar temannya lagi sambil menutup matanya hendak tidur.
Gadis itu tersenyum melihat tingkah teman disebelahnya tersebut yang mengeluh akan begadang malam ini.
" Aku sepertinya tidak begadang. Alangkah baiknya aku keluar malam ini untuk meihat keindahan Eifel lebih dekat..."
gumannya dalam hati.
Ia pun memejamkan matanya sejenak hingga bus akhirnya sampai dihalaman hotel.
Tak banyak yang dilakukan gadis itu tadi malam.
Ia tak lupa menghubungi keluarganya kembali. Kali ini ia meminta Desi untuk mampir ke rumahnya agar ia bisa video call dengan orangtuanya. Betapa rindunya ia kepada keluarganya. Ia meneteskan airmata hingga membasahi bantal tidurnya.
Kemudian sahabatnya Desi.
Banyak perbincangan yang mereka ceritakan.
Mulai dari liburannya di puncak hingga akhirnya Desi harus merelakan hubungan jarak jauhnya dengan fikri pacarnya.
Sesampai dirumah Desi kembali menghubungi Cinta.
" Cinta apakah kau temukan Cinta sejati disana....kata Desi di ujung telepon.
Ia penasaran dengan kehidupan pribadi sahabatnya selama di Paris. Dan ketika dirumah orangtua Cinta, Desi segan bertanya tentang itu.
" Kenapa dipikiranmu hanya kekasih sih.. Ga ada topik lain... Aku mau tidur.. "
gertak Cinta .
Desi sontak mengalihkan topik pembicaraannya.
" Jangan marah begitu sayang... Aku hanya tidak tahu harus berkata apa... Ruben selalu menanyakan tentang dirimu.."
" Apakah kau sudah pacar disana..?"
" Mengapa chat dari Ruben tak pernah kau balas... "
kata Desi.
Cinta pun memeriksa chat whats upnya.
" Oh.. Maaf Desi. Aku tak begitu perhatikan. Jaringan internet disini mahal dan lagi biaya ku terbatas. Aku tak banyak memakai ponselku sehingga aku tak perhatikan chatnya.
balas gadis itu merasa bersalah.
kata Desi lagi.
Cinta pun terdiam sejenak. Selama ini Ruben sangat baik kepada dirinya juga keluarganya.
"Apakah membalas semua kebaikannya harus dengan menjadi pacarnya. Aku harus memberinya kesempatan. Dan lagi aku tidak mungkin mengharapkan Reino... batinnya.
" Halloo Cintaa.. Sudah tidurr.."
seru Desi lagi.
"Belum Des. Aku masih bingung. Apakah ku terima saja perasaan Ruben. Selama ini dia sudah baik sekali. Aku tak tega menyakitinya.
ujar Cinta lagi.
Mendengar pernyataaan sahabatnya itu Desi kembali memberi nasehat.
"Cobalah pikirkan Cinta..
" Hubungan itu dilandasi saling menyayangi dan mencintai. Kalau hanya Ruben menyayangimu tapi kamu tidak, lama kelamaan hubungan kalian hambar dan suatu saat kalian akan saling menyakiti.
" Tetapi kalau kamu mau berusaha mencintainya. Bersabar dan memberikan dia waktu membuktikan ketulusannya. Mungkin suatu saat kamu akan luluh kemudian mencintainya.
"Semua ini hanya masalah waktu.
katanya Desi lagi.
Cinta memikirkan lagi perkataan Desi dan akhirnya ia berkata,
" Baiklah. Pulang dari sini aku akan memberikan keputusan akan hubungan kami ini. Aku juga tak ingin membuatnya menjadi sedih.
" Makasih ya Desi. Kamu sahabatku yang paling baik.. Muachh..hehehe
suara Cinta.
" Idihh sejak kapan kamu genit gitu Cinta. Baru beberapa hari kamu disana sudah bertingkah seperti bule..pakai cium lagi. Simpan saja untuk pacarmu kelak... balas Desi.
" Ya sepulang dari Paris. Aku akan memiliki pacar. Jadi kamu tak akan bersusah payah menjodohkan aku dengan teman teman mu itu lagi... ujar Cinta mengingat semua kelakuan sahabatnya itu tiga bulan yang lalu dipesta ultah Desi.
" Makasih juga Cinta sudah menjadi sahabatku. Tetaplah jadi Cinta yang kukenal. " " Jangan pernah berubah.
" Sudah malam sebaiknya kita tidur.
" Met malam Cin.. mimpi indah. Bye.."
Desi mengakhiri obrolan.
"Malam juga Desi..Bye..."
Cinta menutup ponselnya.