
Reino segera mencegah tindakan keji Rindu tersebut.
" Apa kau sudah gilaaa..?!!
" Kau mau membunuh darah dagingmu sendiri..?"
" Ibu macam apa kau...?"
katanya sambil mengambil gunting tersebut dan melemparkannya ke sudut ruangan.
Dipeluknya tubuh Reino dengan sangat erat.
Ia menangis dan menyesali perbuatannya barusan.
" Maafkan aku Reino.
" Akuuu.. akuu.. bukan bermaksud..
" Aku mencintaimu. Hanya kau seorang..
isaknya lagi.
Reino yang hanya bisa pasrah tubuhnya dalam dekapan Rindupun mengelus rambut perempuan itu.
Sebenarnya ia pun masih menyayanginya namun sudah tidak seperti dulu lagi.
Ia menganggap Rindu hanyalah masa lalunya dan ia merasa menyesal tidak mengejar Cinta waktu itu.
Entah bagaimana nasib gadis itu sekarang.
Reino pun melepaskan pelukan Rindu dan berkata,
" Kita akan segera menikah tetapi.."
" Setelah anak itu lahir."
ucapnya pelan.
Rindu pun terlihat kesal.
Apakah Reino mencurigai bayi dalam kandungannya ini kelak.
" Oh tidak.. "
" Jangan sampai.."
batin Rindu.
Reino melanjutkannya lagi,
"Lusa kita akan bertunangan dan hanya dihadiri kerabat dekat saja.
"Aku tidak bisa menjanjikan pernikahan seperti yang kau inginkan...
" Aku tidak bodoh Rindu.
"Sebelum aku tidur bersamamu.. Kau sudah bersama David selama ini.
"Siapa yang tahu .. Calon bayi dalam perutmu.. Anakku atau David..?""
Rindu pun terdiam, Ia nasih memikirkan lagi rencananya. Reino harus percaya bahwa ini adalah anaknya.
Apapun akan dilakukan perempuan itu.
"Kau meragukan anakmu sendiri Reino. "Baiklah.
"Tapi aku punya satu syarat..
" Selama kau menjadi tunanganku..
"Kau tidak boleh dekat dengan perempuan lain.. terlebih gadis itu. Cinta .
"Aku adalah tunangan dan calon isterimu. Reino..
balas Rindu.
Reino pun berusaha mengiyakan syarat yang diajukan Rindu walau berat hati.
Bagaimana dia bisa menahan kerinduannya kelak bersama Cinta.
Pemuda itu belum bertemu kembali dengannya.
Sebenarnya bisa saja Reino menolak dengan tegas dan membalikkan semua rencana licik perempuan itu.
Namun ia tak bisa berkutik.
Perempan tersebut memiliki kartu As.
Potret dirinya dengan wanita itu dalam.pose bugil.
Menjadi senjata pemungkas Rindu.
Namun kesehatan mamanya saat ini dengan kondisi jantungnya yang baru saja stabil setahun belakangan, Ia tak berani mengambil resiko.
"Aku setuju... Tapi ingat kalau ia terbukti bukan anakku. Pergilah kau jauh dari hidupku Rindu.
ujar Reino dingin.
Ia pun menyuruh Rindu pulang dan ia akan segera mengabari keluarganya terlebih dahulu mengenai masalah ini.
Saat meninggalkan pintu ruang kerja Reino, perempuan itu tersenyum puas.
Tinggal selangkah lagi.
Sembilan bulan bukan waktu yang lama pikirnya saat itu.
Dan dalam waktu kurun waktu itu ia akan berusaha membuat Reino jatuh cinta lagi kepadanya seperti dulu lagi.
"Reino. Mengapa kau begitu dingin.
"Kau milikku.
"Selamanya tetap begitu..
gumannya pelan dan meninggalkan perusahaan Reino.
Reino masih terus memandangi potret wajah gadis kecilnya dalam galeri ponselnya.
Ia begitu merindukan Cinta.
"Sabarlah sedikit. Cinta.
"Aku akan datang menemuimu.
pikirnya lagi dan tak terus menatap gambar gadis itu.
Reino tak jadi melanjutkan pekerjaannya.
Ia pun meninggalkan semuanya dan berpesan agar sekretarisnya menghandle untu sementara.
Ia melajukan kecepatan mobilnya dan segera menemui gadis pemilik hatinya saat ini yaitu Cinta.
Saat sampai dikediaman gadis itu, tampak ia sedang duduk di teras halamannya sedang membaca buku.
Cinta tak pernah menghabiskan waktunya terbuang percuma diluar. Ia gadis pintar. Itulah yang membuat Reino kagum akan gadis itu.
Walaupun watak keras kepalanya namun sikap kesederhanaan gadis itu sungguh nyata dan tidak dibuat buat.
Lama ia menatapinya dari balik kaca jendela mobilnya.
Sungguh ia ingin berlari dan memeluknya serta menciumnya.
Semua terjadi karena kebodohan dirinya sendiri.
Terjebak di memori masa lalu bersama Rindu.
Pikirnya saat itu seandainya ia tak datang menjumpai wanita licik itu kekamar hotelnya.
Mungkin semua ini takkan terjadi.
Cinta yang merasa hanyut dalam bacaannya tiba tiba kembali teringat Reino.
Jantung pun berdegup kencang.
Padahal ia tak memikirkan pria itu.
Ia pun memperhatikan sekeliling rumahnya.
Ia tak melihat sosok Reino.
Namun dari seberang jalan depan rumahnya tampak sedan hitam bertepi di pinggir jalan.
Mobil itu memakai kaca hitam yang tidak tembus pandang dari luar sehingga Cinta tak mengenali siapa didalam mobil tersebut.
Entah karena rasa penasarannya ia menuruti langkah kakinya mendekati mobil tersebut.
Seperti ada yang menggerakkan kata hatinya.
Namun tak lama. Bibinya memanggilnya seperti ada yang perlu dibantu. Mau tak mau ia tak melanjutkan niatnya.
Dan mobil Reino pun berlalu.