
Aku tak menyadari bahwa Pak Rey adalah tetanggaku selama setahun ini. Dan aku merasa ada seseorang yang terus memperhatikanku setiap malam di balik jendela kamarnya.
Aku juga tak menyadari bahwa guru baru yang membuat sekelas bahkan satu sekolah heboh adalah Pak Rey. Sungguh, perempuan mana yang berani menolak pesona pria tampan, cerdas dan berkharisma.
Hampir sebulan dia telah mengajar di sekolahku. Saat dia mengajar di kelas ku, tanpa ku sadari aku larut dalam pesonanya. Dan aku semakin tidak fokus akan pelajaranku.
Ya, pesonanya sungguh membuat seisi kelas terutama murid perempuan hanyut dalam khayalan mereka masing-masing.
Aku sama sekali belum memiliki pacar. Ah, membayangkannya saja aku sudah merasa aku tidak akan punya waktu untuk hal seperti itu.
Ada beberapa teman sekelas bahkan kakak kelas yang berniat menjadi pacarku namun ku tepis dan ku tolak halus karena aku ingin fokus pada sekolah dulu.
Oh ya mengenai bibiku.
Bibi ku ada lah sepupu jauh dari ayahku.
Beliau seorang janda. Pamanku meninggal 10 tahun yang lalu dalam keadaan sakit. Paman mengidap sejenis tumor dan harus di operasi.
Saat operasi selesai, beberapa bulan kemudian Paman wafat. Itulah yang ku ketahui dari ayahku sebelum berangkat ke Jakarta.
Mengenai anak.
Aku tidak berani bertanya pada bibi.
Setiap kali aku menyinggung mengenai anak, beliau selalu terdiam sebentar dan mengatakan anaknya telah lama meninggal.
Tapi aku tak bertanya lagi apakah anaknya laki atau perempuan. Umur berapa. Dan kenapa meninggal karena aku tak ingin bibi larut dalam kesedihan.
Poto di dinding saja tak ku temukan gambar anaknya. Hanya poto gambar bibi dan paman saja.
Bibi ku seorang ibu yang berhati lemah lembut namun sedikit tegas dan disiplin. Tidak mentolerir sebuah kesalahan. Aku bisa mengatakan seperti itu karena pernah aku melihat ada tamu datang berkunjung ke rumah.
Tamu tersebut meminta maaf dan berlutut sambil menangis mohon ampun sampai memegang kedua kaki beliau. Bibiku tak bergeming. Beliau tak mau menatap tamu tersebut. Aku mengintip dari celah dinding dapur.
Hanya satu kalimat yang kudengar waktu itu.
" Pergilah..!!! Kau telah membuat suamiku meninggal... Aku tidak akan pernah memaafkanmu, " bentak bibiku saat itu.
Tamu tersebut pun berlalu dan bibi kembali ke kamar sambil menangis. Sepanjang malam bibi menagis dan menatap poto suaminya.
Sungguh aku kasian melihat bibiku.
Eaok paginya aku tak berani bertanya pada bibiku siapakah tamu tadi malam itu karena kulihat wajah bibi sudah sembab karena menangis semalaman.
Balik ke Pak Rey.
Mengapa sudah setahun ini dia tinggal di sebelah rumahku.
Apakah memiliki tujuan
Atau hanya kebetulan
Dan lagi mengajar di sekolahku juga.
Mungkin hanya sebuah kebetulan saja.
Karena dilihat dari penampilan Pak Rey bukan seperti orang susah yang menyewa di rumah kontrakan sederhana dan lingkungan yang tidak begitu elite layak komplek perumahan orang kaya.
Semoga hanya firasat saja pikir ku.
Lagii.. lagi sosok Dia terbayang di pikiranku.
Sungguh pesona guru tampan dan berkharisma tapi dingin sedingin es.
Seandainya saja teman sekelasku tahu bahwa dia sosok yang hangat di kelas namun dingin di luar setelah itu.
Pernah tanpa sengaja aku menabrak punggungnya saat hendak pergi ketoilet kemarin. Aku terburu -buru dan aku melihatnya sambil berkata maaf padanya. Tak ada reaksi dia pergi berlalu dan tak memandangpun sedikit kearahku.
Sungguh kesal hatiku saat itu ingin rasa ya memakinya.
Kalau saja ini bukan sekolahan.