
" apaaa...??"
" Prancisss..??
" Nooo.. Cintaaa.. kamu bercandaa...?"
tanya Desi tak percaya akan perkataan sahabatnya itu.
Cinta pun tersenyum sambil mengangguk. Ia membenarkan semua pertanyaan sahabatnya itu.
" Aku tidak bercanda Desi.
" Aku akan berangkat besok.
ujar Cinta.
" Oh my God...
" You realy a lucky girl..!
tersenyum bahagia.
" Jadi apakah semuanya sudah siap..?"
tanya sahabatnya itu lagi.
" Sudah Des. Aku sudah mempersiapkan semuanya dikoperku. Tapi aku mau pinjam beberapa sweatermu. Disana pastinya dingin..
" kata cinta.
" Okey sayang... setelah kita menghabiskan bakso ini.. kita pulang sebentar kerumahku...
" Tapi jangan lupa bawa oleh oleh ya..
ujar Desi.
Sebenarnya Desi hanya bergurau saja.
Bagaimana Cinta membawa oleh oleh untuknya.
Itu luar negeri bukan Indonesia.
Semua mahal.
"Jangan murung gitu lohh.. aku bercanda...
Desi tersenyum.
"Jaga diri disana ya... pulanglah dengan selamat... ujar Desi lagi.
" Ia Desi. Makasih...
Maaf liburan kali ini, aku tak bisa bersama kalian ke puncak.. balas Cinta.
" Tidak apa Cinta sayangg..
" Nikmatilah liburanmu..
balas Desi.
Cinta dan sahabatnya itupun kembali membahas yang lain dan mereka berdua tertawa kegirangan.
Kedua gadis itu pun tak menyadari sedari tadi ada yang memperhatikan tingkah laku keduanya.
Tampak seorang laki laki memakai pakaian rapi dan tampaknya seperti ajudan.
Ya siapa lagi kalau bukan. Bawahan dari Reino.
Sesampai dirumah Desi.
Cinta memilih beberapa sweater untuk dipakainya disana.
Ia pun tak meyapa kedua orangtua Desi.
Mereka ramah dan bersahabat kepadanya.
Ia pun menganggap Cinta sudah seperti anak mereka sendiri.
" Nak Cinta.. baik baik disana ya..
"Jangan lupa selalu menghubungi keluarga sesampai disana... "
pesan ibu Desi.
"Iya tante... makasih... kata Cinta.
Mereka pun kemudian pergi menemani Cinta menukarkan uang yang diberikan bibi Cinta.
"Mau ditukar semua Cin...
tanya Desi.
" Ya enggaklah Des..
uang ini untuk digunakan beli apa disana.
"Beli tas , pakaian... tidak mungkin..
kata Cinta.
ujar gadis itu berusaha membuat Desi iri.
"Ohh Cintaa... aku pengen ikut..
tapi sepertinya tak mungkin. Alangkah bahagia seandainya kita dapat pergi bersama..
Raut muka Desi sedih.
"Jangan sedih des.
" Nanti disana aku akan video call kamu.
" Aku kasi lihat indahnya kota Prancis..
"Jadi kamu pun ikut merasakan..walau dari kejauhann..
Cinta berkata lagi sambil merangkul pundak sahabatnya itu.
Tak terasa sudah sore .
Ia pun kembali pulang kerumahnya.
Sesampai dirumahnya ia kembali menyusun beberapa pakaian yang dipinjam dari sahabatnya itu.
" Semua sudah beres.
pikirnya.
" Apalagi yang kurang yaa...
gumannya.
^^^^
" Baik baik disana ya nak.
" Jangan lupa kasi kabar sampai disana.
peluk ayahnya mengantarnya sampai bandara.
Cintapun mencium tangan ayahnya
Dan tak lama muncul semua teman kampusnya.
Dan tak lama juga muncul Mr.Louis.
Pria itu bersama asistennya.
Asistennya memberikan paspor mereka masing masing juga memberikan arahan kepada semua mahasiswa tersebut.
Sementara Mr.Louis dengan beberapa wali dari mahasiswa yang turut mengantarkan sedang berbincang bincang.
Tiba waktunya para penumpang tujuan negara Prancis untuk segera bersiap siap.
Mereka pun secara teratur pergi beriringan menuju pesawat.
" Hanya tuk beberapa minggu tapi rasanya untuk pergi setahun... ayah terus saja menangisi kepergiaanku....
" Bagaiamana kalau aku nanti menemukan pria yang menjadi suamiku dan menikah kelak..
batinnya sedih sambil melihat lambaian tangan ayahnya dari kejauhan.
Setelah memasuki pesawat,
Cinta duduk disamping kakak kelasnya.
Dia tepat duduk disamping jendela.
Ia merasa kagum.
Ini tuk pertama kali baginya naik pesawat dan lagi keluar negeri.
Tapi ia tak terlalu menunjukkannya.
Ia menyimpan rasa kagum dan senangnya hanya dalam hati saja.
Ya sama seperti orang yang telah mencuri hatinya. Ia menyimpan semuanya dalam hati.
Siapa yang tahu,
Ia belum bisa melupakan sosok gurunya tesebut.
" Di saat seperti ini.
" Aku ingin menceritakan rasa bahagiaku kepadanya.
" Seperti dulu saat ia menjadi guruku.
" I miss you.. Reino..
suara hatinya saat pesawat mulai terbang dan gadis itu terlelap dengan lamunannya.