Forever Love

Forever Love
Episode 115



Flash Back....


**Fani sebenarnya tak sengaja bertemu David di RS Jiwa Harapan tempat ia bekerja.


Kebetulan ia memiki teman yang menawarkan pekerjaan padanya setahun yang lalu.


Berbekal ilmu yang didapat dari buku buku psikolog yang menjadi kegemarannya, ia sedikit paham cara berkomunikasi juga berempati terhadap beberapa pasien di RS teesebut.


Siang itu ia melihat sosok pemuda yang wajahnya takkan mungkin bisa ia lupakan.


Siapa lagi kalau bukan David.


Ia terkejut.


Mengapa pemuda gagah dan tampan sepertnya menjadi orang pesakitan terlebih di RS jiwa.


Sebenarnya ia tak ingin ambil pusing toh mereka sudah menjalani kehidupan masing masing selepas ia kabur dari rumah orangtuanya.


Namun tiga hari kemudian terjadi keributan yang luar biasa di RS itu.


Seorang pasien mengamuk dan membabi buta seluruh isi kamarnya.


Keningnya memar akibat ia benturkan ke dinding.


Ia ngin menghapus sosok wanita yang terbayang dipikirannya karena membuat hidupnya hancur sekarang.


Ia mendapat gunting entah darimana dan mengancam akan menyakiti dirinya sendiri.


"Aku tidakkk gilaaa..!!


"Kalian harus mati semuaaa..


"Kauuu....juga.. harus mati...!!


ujar pasien tersebut menunjuk ke arah Fani


Sontak beberapa perawat berusaha mendapatkan David dan mengambil gunting di tangannya.


Namun lagi lagi. David lebih kasar dan beringas. Akal sehatnya sudah mati sama sekali. Mereka tak berdaya.


Sosok Fani di depannya pun tak ia kenali.


"Kami akan membantumu.


"Tolong jangan sakiti dirimu.


"Mari serahkan gunting itu...


ujar Fani berusaha membujuk David.


Tapi David tak menggubris


"Haa.. haaa..


"Jangan sok baik.. Kau jalanggg..


"Murahann.. kau pikir tampang polos dan lugumu dapat membodohiku.. haaa...!!


teriaknya lagi sambil mendekatkan ujung mata gunting ke arah nadinya.


"Jangan lakukan itu.


"Aku memang jalang. Aku murahan.


"Aku seperti yang kamu katakan..


"Mari serahkan itu..


kata kata Fani sambil mendekat dan berusaha merampas gunting namun apa yang terjadi.


Deg.


"Awwww....!!


"Tolongggg dia...!!!


jerittt Fani


Terlambat gunting ia iriskan di pergelangan nadinya dan seketika darah mengalir keras.


Melihat itu Fani hampir tak percaya.


Hatinya sakit sekali.


Dan tak terbayang melihat kejadian itu ia pun pucat.


David pun tersenyum puas.


"Lihat ini yang kau mau kan..


teriaknya lagi.


Petugas pun datang berusaha menenangkan David dan salah satunya telah menancapkan suntikan penenang ke bagian bahunya dari belakang.


Tak lama David merasa lemas dan tak berdaya kemudian terlelap.


Mereka pun menggotong tubuhnya kebagian isolasi khusus.


Kaki dan tangannya diikat untuk menghindari hal yang sebelumnya.


Sampai David sadar Fani selalu berada disamping pria itu.


Ia pun kini peduli terhadap nasib pria itu.


Tak lama David sadar biusnya.


Ekspresi David seperti tak ada kejadian


Ia melihat Fani dengan tampang sinis.


"Dimana aku..?


"Apa kau yang membawaku kesini.. Lepaskan aku...!!


"Jangan nenatapku


"Tampang polosmu seperti jalang..Aku benci..!!


sinisnya kepada Fani


Fani tampak kesal dalam hatinya dengan ucapan David


Namun ia berusahan tetap tenang.


"Apa kau masih ingat denganku..?


kata Fani.


"Kau...?? .O.. iya .. wanita murahan kan...??


"Haa.. ha....!!


tawa David dengan ejekannya karena ia pun tahu sebenarnya wanita yang berada disebelahnya duduk itu.


"pleaseee.. David.


"apa yang terjadi padamu..?


"aku tak percaya kau bisa seperti ini dengan kegilaanmu.


"Dan aku pikir tak bisa berbicara lagi denganmu..


ujar Fani.


Melihat tangan dan kakinya di ikat.


David tampak pasrah.


"Urus masalahmu sendiriii..!!


"Atau kau akan ku sakittii..


"pergiiii...!!pergii.. aku tak mau melihat wajah pelacurmu ituu...!!


teriaknya kepada Fani.


Tak ingin membuatnya jadi kacau lagi.


Fani pun pergi meninggalkan kamar isolasi David.


Tanpa terasa airmata Fani berlinang dipipinya.


Ia tak tahu apa yang terjadi pada David, tapi ia merasa kasihan sekali.


Melihat kepergian Fani.


Davidpun mengeluarkan emosinya yang tak tertahankan.


Ia menangis sejadi jadinya. Dan menyebut nama Rindu berulang kali.


Sebenarnya Fani belum pergi sama sekali.


Dari balik dinding kamar itu ia mengintip dan melihat semua kesakitan yang David rasakan itu.


*BERSAMBUNG***......