
Esoknya orangtua dari Rina datang menjenguk Cinta.
Mereka tidak menyalahkan gadis itu karena kejadiaan ini malahan mereka mnegucakan terima kasih karena sudah menolong putri mereka walaupun akhirnya tidak sepenuhnya berhasil.
" Makasih om dan tante datang menjenguk saya.
kata gadis itu di akhir perbincangan mereka sedari tadi.
" Jangan sungkan Cinta. Kami sudah anggap dirimu seperti putri kami sendiri.
kata mamanya Rina.
" Bagaiman kalau kamu ikut pulang bersama kami sekalian. Takutnya tidak ada yang mengurusmu disini.
kata papanya Rina ikut berkata .
Cinta merasa senang akan tawaran dari orangtua Rina namun disatu sisi ia tak ingin membuat orangtuanya khawatir dan cemas akan kejadian ini.
Ia tahu kondisi ibunya belum begitu pulih akibat insiden tahun lalu.
Dan lagi tugasnya di kantor Mr.Louis belum juga selesai.
" Makasih Om. Tetapi masih banyak yang harus Cinta selesaikan dahulu. Beasiswanya nanti hangus. Saya sangat mebutuhkan beasiswa ini.
ujar gadias itu menolak halus tawaran papa Rina.
Tak lama mereka pun pamit pulang karena mereka harus segera ke bandara.
Rina yang duduk di kursi roda hanya bisa tersenyum sambil meneteskan airmata melihat Cinta dari balik pintu kamar inap gadis itu.
Ia tak berani masuk. Ia yang sebenarnya bersalah dalam kejadian ini. Seandainya ia mendengarkan peringatan dari Cinta akan bule bule yang menipu mereka ini semua tidak akan terjadi.
" Maafkan aku Cinta. Aku yang bersalah.
katanya lagi sedih.
Orangtuanya pun membawanya keluar dari rumah sakit itu setelah mengurus semua adminstrasinya.
Sementara Cinta hanya bisa menunggu kapan ia diperbolehkan keluar dari rumah sakit itu.
Ia sudah merasa bosan walau hanya dua hari saja.
Desainnya belum juga ia selesaikan. Ia tak ingin beasiswanya hilang.
Kemudian muncul sosok lelaki pujaannya datang membawa makanan.
" Bagaimana keadaanmu..
sapa Reino.
" Sudah jauh lebih baik Pak.
" Apakah aku sudah boleh pulang dari sini.
kata Cinta bersemangat
Reino pun menyergitkan alisnya.
Ia merasa tua dengan sebutan Pak dari bibir gadis kecilnya.
" Apakah kau mau dihukum lagi..
kata Reino dan mendekati Cinta dengan dekat.
" Apa salahku Pak sehingga kau menghukumku dengan cara seperti itu.
kesal gadis itu.
Reino pun semakin menjadi dan
di kecup bibir gadis kecilnya tanpa meminta persetujuaannya.
" Cuppp.."
suara bibir mereka bersentuhan dengan lembut.
" Kauuu.."
" Sejak kapan menjadi seperti ini.
Cinta mengambil bantal dan membungkam wajah Reino sehingga ia tak bisa mencium Cinta untuk keduakalinya.
"Jangan panggil aku Bapak ingat itu.
" Nanti orang mengira aku merayu bocah ingusan padahal adalah ia sekarang seorang gadis manis dan cantik yang telah tumbuh dewasa.
kata Reino memuji.
Cinta yang mendengar perkataan Reino kembali memerah wajahnya. Ia seperti sedang di gombal oleh lelaki dihadapannya itu.
"Lihat wajahmu memerah.. Berarti kau menikmatinya...
goda Reino lagi.
" Aku lapar makanya wajahku merah begini.
"Kemana saja dirimu dari tadi.
" Dan aku bosan disini terus.
kata gadis itu lagi membenarkan diri
Reino pun mengusap rambut Cinta. Ia mengecup kening Cinta dan tak ada penolakan darinya.
" Makanlah segera. Aku sudah mengurus administrasimu. Sore ini kau sudah bisa pulang.
kata Reino lagi sambil memberikan makan siang Cinta dan mereka pun makan bersama.
Sesudah itu Cinta tidur sejenak. Ia merasa mengantuk .Mungkin pengaruh obat yang diminumnya sehabis makan tadi.
Reino pun tidak meninggalkan Cinta.
Ia menemaninya walau sedang terlelap.
"Ia kelihatan sangat manis dan imut saat tertidur membuatku semakin ingin menggenggamnya terus. Tidak ingin melepasmya lagi.
" Aku jatuh dalam perangkap hatimu Cinta. " batin Reino yang terus memandangi gadis itu hingga ia pun ikut terlelap.