Forever Love

Forever Love
Hotel in love part 1



" Aku boleh tahu namamu siapa...?


tanya Reino yang sedari tadi memperhatikan perempuan disebelahnya hanya diam.



" Akuuu..akuu..


Perempuan itu tak melanjutkan lagi.



" Ya kamu ... siapaa.. nama..


" Apa kamu tak memiliki nama.


" Kita berasal dari negara yang sama. Awalnya aku tertipu dengan parasmu yang ke bule bulean. Sungguh rambut yang kamu warnai, aku tidak suka..


ujar Reino membuka perbincangan mereka didalam mobil.



Rindu terdiam mendengar pernyataan Reino yang tak menyukai penampilannya sekarang.


Ia mengutuki dirinya dalam hati. Apakah ia akan langsung membuka jati dirinya saja.



" Aku Sheila.


" Dan kamu...


tanya Rindu.



Reino pun membalas.


" Aku Reino. Lengkapnya Reino Hartawan.


" Dan aku sedang mengurusi bisnis papaku disini.


" Kamu.. sedang liburan atau..



Rindu tak berani membuka jati dirinya.


Ia masih merasa belum siap. Dan lagi David masih disini. Ia tidak ingin semuanya menjadi kacau.



"Reino kamu tidak berubah..


" Ketampananmu semakin bersinar..


" Apakah kau masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu...


batin perempuan itu melihat lagi wajah Reino.



Reino yang sedang menunggu jawaban dari perempuan itupun meliriknya.



" Hei nona.


" Ditanya kok melamun.


" Apakah kamu sedang ada masalah...bertengkar dengan pacarmu.. atau...?



Entah mengapa Reino menjadi begitu ingin tahu tentang perempuan itu.



Apa karena ia sudah lama tidak berinteraksi dengan lawan jenisnya selama ini.



Kemudian ada panggilan masuk ke ponsel Rindu. Siapa lagi kalau bukan David.



Rindu pun mengambil ponselnya dan melirik nama yang tertera. Ia tak mengangkatnya.


Sikapnya menjadi gugup.Dan Reino pun memperhatikan sambil mengendarai mobilnya.



" Mengapa tidak diangkat ..?


" Kabarilah dia. Katakan kamu pulang dengan selamat. Dan besok kembali berbaikan.


" Aku sudah melihat semuanya tadi di reatauran...


kata Reino.



Sontak Rindu terkejut.



Deg.



" Apakah Reino mendengar semua percakapan kami... pikirnya.



" Bodohnya aku tak menyadari kami berada restauran yang sama.. pikirnya lagi.



Rindu pun membalas.



" Ternyata tuan Reino adalah orang yang suka menguping pembicaraan orang.. sayang sekali.. "



Reino tersenyum dan berkata,



" Jangan salah sangka nona. Aku tidak mendengar pembicaraan kalian.


" Aku hanya melihat. Sungguh pria itu tulus mencintaimu.. Mengapa kamu begitu kasar...??


" Tidakkah kamu melihat usaha yang dilakukannya untuk menunjukkan rasa cintanya kepadamu..??



Rindu lagi terdiam.


Semua yang dikatakan Reino ada benarnya.



" Reino.. aku hanya mencintaimu.


" Bukan David.



" Apa kamu menyebut namaku...?


tanya Reino spontan karna ia mendengar namanya disebut.



" Telingamu bermasalah tuan.


" Apa anda terlalu memikirkan seseorang sehingga anda ingin sekali disebut namanya oleh seorang perempuan..


pancing Rindu.



Reino memikirkan perkataan perempuan disebelahnya dan membalas.



" Ya kamu kok tahu.


" Aku memang sedang memikirkan seseorang.



Rindu berkata lagi.


" Pacar atau...



" Teman.


kata Reino lagi.



Rindupun seketika menunjukkan raut wajah sedih.



" Apakah kau sudah melupakanku Reino.


" Teman katamu... siapakah.. apakah aku.. atau pacarmu.."


suara batin Rindu.



" Dia seorang gadis.


" Dan ya .. masih sebatas teman tapi aku merindukannya sepanjang hari.


lanjut Reino.



Rindupun mendengar semua perkataan Reino.


Ingin rasanya ia mengatakan bahwa ia adalah Rindu, teman spesial yang selama ini yang dicarinya.



" Ini aku Reino. Ini aku yang kamu rindukan.


" Rindu.. gadismu.


batinnya lagi dan tak terasa airmatanya keluar.



Sepertinya pembicaraan mereka terhenti karena mereka telah sampai di depan pintu masuk hotel.



" Baiklah nona Sheila sepertinya kita telah sampai. Mungkin lain kali kita lanjutkan obrolan ini.


Reino dan Rindupun memasuki lobi hotel.



Rindu sebenarnya memiliki banyak pertanyaan dalam hatinya.



Tapi hanya satu pertanyaan yang ingin tanya dan jawaban langsung dari mulut pria disebelahnya itu.



Pintu lift pun terbuka. Dan mereka memasukinya. Hanya mereka berdua saja.


Reino pun menekan tombol lantai kamarnya. Dan tak lama pun Rindu menngikuti.



" Maaf tuan Reino.


" Apakah saya boleh mengetahui nama temanmu itu..


" Temanmu mungkin spesial dihatimu hingga tak mampu untuk dilupakan..


tanya Rindu.



Reino pun membalas.


"Ohhh.. ya benar. Cintaaa...



" Saya tanya nama. bukan apakah anda mencintainya atau tidak.


tanya Rindu lagi senang karena Reino masih mencintainya.



Reino menatap perempuan itu dan berkata


" Namanya gadis itu Cinta... nona Sheila.


" Mencintainya .. itu hanya waktu yang mampu menjawabnya...



Deg.



"Cinta.


" Siapa perempuan itu.


emosi Rindu sampai tak memperhatikan Reino telah sampai dan meninggalkannya.