
" Berhentilah menertawaiku Rin... !
kesal Reino melihat ekspresi sahabatnya itu.
Rinto pun mulai tenang. Dan ia kembali melanjutkan niat yang sebenarnya.
" Ayolah Rei, jangan marah.
" Aku hanya bercanda.
bujuk Rinto.
" Aku hanya sekedar liburan disini. Sekaligus ingin melihat keadaanmu.
" Pikirku.. sahabatku Rei masa harus jadi jomblo selamanya.."
" Mari kita jelajahi kota indah Paris...!
Rinto berkata lagi.
" Akhir minggu ini ada even di ibukota.
" Banyak model cantik dan seksi dari penjuru dunia meramaikan even tahunan ini..."
" Sebelum pergi meninggalkan kota ini, tidak adakah sedikit kenangan indah yang dibawa pulang ke Indonesia...?"
katanya lagi.
" Kau sudah tahu. Aku hanya mencintai gadis itu Rin....!
kata Reino.
" Siapa Rei.... Cintaa... atau Rinduu..?"
Rinto berusaha mencari jawaban atas dilema sahabatnya itu.
Deg.
Reino seperti dihadapkan pada piliha yang sulit.
Ia tak mampu menjawab.
Ia pun diam dan Rinto pun berusaha membujuk sahabatnya itu untuk menyerah akan kedua gadis itu dan kembali memulai lembaran baru dengan perempuan yang baru pula.
" Thanks Rinto... aku bukan seorang playboy.
" Jangan kau pikir karena aku sendiri. Aku tak laku... ! Dasar kau...! Bagaiman kalau Sinta tahu tabiatmu ini mengajakku melihat model cantik dan seksi..??."
balas Reino.
Rinto pun tersenyum mendengar semua perkataan sahabatnya itu.
" Tetapkan hatimu Reino. Tetapkan satu nama.
" Kalau kamu ingin keduanya. Itu tak mungkin.
" Kecuali kamu mau berpoligami.
kata Rinto.
" Cinta adalah gadis yang baik . Tapi katamu ia masih terlalu muda.
" Rindu juga gadis yang baik kelihatannya.
Tapi ia hilang bagai ditelan bumi.
pikirkan masa depanmu kawan. Orangtuamu akan sedih melihat anak satu satunya larut dalam dilema dan tak ada ujung penyelesaiannya..."
Ia pun melirik jam tangannya dan berkata lagi
" Nanti kita bicarakan lagi. Sinta sudah lama menungguku di hotel. Aku tak sendiri Reino.
Sinta yang menyarankan liburan ini dan sekalian mengajakmu ikut. Hee...hee...
" Tapi mengenai lamaran. Aku serius untuk melamarnya.... jadilah saksi atas cinta kami yang suci ini...dan sampai ada akhirnya akan ada yang memanggilmu paman dan kamu masih sendiri.. "
Rinto tersenyum sumringah dan berusaha membuat Reino memahami pembicaraan mereka tadi. Ia pun menepuk pundak sahabatnya itu dan berlalu.
" Jangan lupa Rei...!
" Kami menginap di hotel Charlton..
" Datanglah sesekali. Ajak wanitamu yang mana saja..
canda Rinto karena ia tahu Reino tak mungkin mengajak perempuan manapun selain Rindu ataupun Cinta.
Reino pun kembali memikirkan tawaran dari Rinto tadi.
Even tahunan..
Haruskah aku pergi kesana.
Reino kembali batang rokok ketiga.
Sepertinya ia mulai sedikit jenuh.
Dan hanya kepulan asap rokok yang selalu menemani kesendiriannya selama ini di Paris.
" Rinto sialan.
" Beraninya menguji tingkat kesabaranku.
" Ku kira ia benaran akan mengajak seluruh keluarga pacarnya kemari.."
guman Reino.
" Beruntungnya Rinto mendapatkan hati Sinta.
batinnya.
Ya Rinto dan Sinta sudah lima tahu pacaran.
Memang sudah sebaiknya mereka menikah.
Dan lagi kedua keluarga tak ada yang keberatan akan hubungan mereka selama ini.
" Baiklah Rinto. Ku terima ajakanmu kali ini.
" Mana tahu takdirku masih memiliki nasib yang baik mempertemukanku dengan orang yang ku cintai..."
" Siapapun itu... " gumannya lagi.
Kemudian ia pun bergegas kembali ke hotel tempat ia menginap.
Tak lama jarak dari kantor dan hotel membutuhkan waktu lima belas menit.
Pada saat lampu merah di persimpangan jalan.
Semua mobil berhenti.
Ia pun melihat kaca spion mobilnya yang mulai basah akibat rintik hujan.
Ya sore ini mendung.
Ia mengusap kaca spion tersebut dengan tangannya. Dan seketika ia melihat wajah itu.
Deg.
Wajah yang terpantul dari spion mobilnya itu.
Mirip sekali.
Kali ini ia tak mungkin berhalusinasi.
Ia pun melirik asal wajah tersebut.
Melihat mobil yang ditumpangi sosok yang selama ini dicarinya tersebut.
" Sedan hitam..."
tepat di sebelahnya berhenti namun masih agak jauh dibelakang mobilnya
Dan tak lama.
" Tiinnn...!
tinn... !
bunyi klakson mobil yang di belakang mobil Reino.
" Lampu hijau. Sial..!! kesal Reino.
Saat ia berusaha mengejar mobil sedan hitam itu. Ia kehilangan jejak.
"Wajah itu mirip sekali dengan Rindu gadisku... " suara hatinya.