Forever Love

Forever Love
Perasaan bersalah



Rinto dan Shinta pun menyaksikan kedua insan tersebut menumpahkan segala perasaan mereka.



" Eheemmm... "


suara Rinto memberi kode masuk.



Sontak keduanya melepaskan rangkulan mereka dan merasa canggung.



" Kalian begitu larut dalam suasana sehingga tidak memperhatikan kami datang sedari tadi.."


sapa Rinto melihat mereka dengan senyuman.



Reino yang mendengar perkataan Rintopun membalas,


" Ketuklah pintu terlebih dahulu. Kau ini... "



Rinto berhasil membuat Reino salah tingkah dan berkata lagi.


" Ini aku membawakan pakaian ganti untukmu. " Mandilah sana. Nanti Cinta tak ingin dekat denganmu lagi. Karena bau.



Reino pun melotot ke arah Rinto sambil mengambil pakaian itu dan segera pergi kekamar mandi.



Sementa Reino membersihkan diri. Rinto dan Shinta pun menemani gadis itu dan berbincang.



" Hai Cinta. Kita bertemu kembali. Bagaimana kabarmu..?"


sapa Shinta kekasih Rinto yang datang dengan berbagai macam buah yang dibawanya.



Cintapun membalas,


" Sudah agak mendingan kak.. Trimakasih sudah merepotkan kalian datang menjengukku.



Rinto pun kemudian ikut berkata,


" Cinta, kami merasa khawatir tentang keadaanmu disini. Seperti halnya keadaan temanmu namanya Rina.. bukan..?"



" Ya kak. Dia teman yang bersamaku semalam. Bagaimana kak Rinto tahu.. Bagaimana keadaannya..?"


ujar Cinta merasa khawatir pada temannya itu.



Rinto pun menjelaskan,


" Dia sudah sadar namun belum bisa banyak bergerak. Ia hampir kehilangan nyawanya karena kehabisan darah.


" Juga dia belum bisa menjengukmu dan kemungkinan ia akan pulang kembali ke Indonesia besok.



Cinta yang mendengar kabar Rina dari Rinto pun merasa bersalah kepada gadis itu.


Semua itu saran darinya untuk berjaga jaga menggunakan silet itu. Tapi ia tak membayangkan Rina sampai mencelakai dirinya sendiri.



kata Cinta dengan raut wajah sedih.



Shinta pun berusaha menenagkan hati gadis itu dan berkata,


" Semua yang kau lakukan sudah benar. Kau hanya ingin membantu. Kau sendiri pun terluka jadi tidak ada yang disalahkan disini.



Rinto pun membenarkan ucapan kekasihnya dan kembali berkata,


" Rina sudah menjelaskan semuanya Cinta. Ia berkata lebih baik kehilangan nyawa daripada kehormatannya. Jadi ia melakukan melakukan itu demi menjaga kehormatannya. Ia pun meminta maaf padamu karena tak mendengarkan nasehatmu.



" Makasih ya ka.


ujar Cinta dengan raut sedih sambil meneteskan airmatanya



Reino yang kembali dari kamar mandi pun melihat gadis kecilnya kembali sedih seperti ikut merasakannnya.


Ia pun mengusap kepalanya dan berkata,


" Sudahlah. Semua sudah terjadi.Tak perlu ada yang disesali. Rencanamu berhasil menyelamatkan hidupnya dari perbuatan bejat tetapi yang lainnya diluar kendali kita.



Rinto dan Shinta pun ikut menenangkan hati gadis itu.



" Orangtuanya besok akan datang menjemput. Mereka akan bertemu denganmu besok.


" Lekaslah sembuh.


kata Rinto lagi.



Karena kondisi Cinta belum bisa untuk keluar dari rumah sakit maka Ia harus menginap disana untuk beberapa hari lagi.


Setelah berbicang bincang,


tak lama Rinto dan kekasihnya pun pamit meninggalkan Reino dan Cinta.



" Apakah Reino benar sudah melupakan Rindu dan membuka hatinya untuk Cinta..?"


tanya Shinta saat mereka berjalan meninggalkan rumah sakit.



"Aku tidak tahu, sayang. Tetapi gadis itu. Cinta sudah berhasil mengisi kekosongan hati Reino selama ini. Semoga hubungan mereka berjalan baik kedepannya.


" Dan mengenai Rindu. Aku sudah mendapatkan informasi dari mata mataku.


" Ia memang berada disini di Paris.


" Tetapi aku tak ingin merusak ketenangan Reino sekarang. Biarlah aku yang mencarinya sendiri.


kata Rinto lagi dan mereka pun meninggalkan parkiran rumah sakit itu.