
" Malam juga pak.. " ujar Cinta kembali membalas sapaan Reino.
" Silahan masuk. Maaf rumahnnya agak sempit.." ujarnya lagi.
Reino pun memasuki rumah sederhana tersebut dan duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu.
" Cinta ... Apakah gurumu sudah datang..??" seru bibinya melangkah keluar dari kamarnya.
" Sudah bii..." balas Cinta dari dapur membuatkan minuman.
Sudarti pun terperangah melihat sosok Reino tetangganya dengan wajah sumringah dan sedikit pucat Sudarti duduk berhadapan dengan Reino.
" Ternyata nak Reino ya guru Cinta.. " ujar Sudarti memulai obrolan.
" Ya buk..Maaf saya lupa memperkenalkan diri sebelumnya. Reino Hartawan, guru pengganti mata pelajaran Ekomomi di kelas Cinta.." balas Reino tersenyum.
"Cinta memang pernah bercerita ada guru pengganti kalau tidak salah namanya Pak Rey dan saya tidak tahu bahwa nak Reino orangnya.. " Sudartipun bercerita.
" Nak Reino sudah pacar..??"" ujar Sudarti
Seketika Reino terdiam dan berkata
" Sudah buk.. bukan pacar tapi calon isteri..." jawab Reino menegaskan.
" Baguslah .. sahut Sudarti
" Semoga langgeng samapi ke pelaminan ya nak. Tolong di jaga kepercayaan suatu hubungan .. karena kalau sudah rusak akan susah untuk di rajut kembali.."
Sudarti menjelaskan tak terasa wajahnya murung dan seakan ingin menangis.
Reino memandangi sosok yang didepannya tersebut. Beliau sungguh seorang ibu yang hangat dan bersahaja. Walau sudah tampak keriput namun tak memudarkan senyumnya yang mirip dengan kekasih pujaan hatinya .
Tak lama Cinta muncul dengan dua gelas teh yang sudah di seduhnya di dapur.
" Cinta sudah datang. Silahkan nak Reino kalau ada yang mau di bahas dan di pelajari bersama Cinta. Saya kembali ke kamar.." ujar bibi Cinta.
Beliau pun melangkah pergi ke kamar meninggalkan Cinta dan Reino berdua di ruang tamu karena memang kesehatannya terganggu sudah seminggu ini.
Di dalam kamar Sudarti seperti familiar wajah Reino dari dekat. Ya selama ini mereka berpapasan bahkan jarang sedekat ini dan mengobrol berdua. Nama Hartawan sepertinya juga tak asing.
" Mungkin hanya kebetulan.."
batin sudarti.
Di ruang tamu.
Suasana sedikit canggung bagi Cinta.
Untuk pertama kali bagi Cinta berduaan dengan seorang lelaki diluar sekolah .
Reino menatapi seisi ruangan.
Rumah yang sederhana. Rapi dan bersih.
Kemudian Reino memandangi dinding dan tiada gambar orang yang dicarinya.
Disisi lain.
" Halooo... haaloooo... Pak !!
seru Cinta sambil melambaikan tangan ke arah Reino.
Reino memasang ekspresi dingin dan mulai mendekati Cinta dan akhirnya.
" Pak...Silahkan diminum tehnya..!!"
Cinta mengagkat cangkir teh tersebut tepat di wajah Reino dan dia merasaka panas cangkir tersebut.
Sontak Reino terkejut. Reino kembali merapikan tempat duduknya.
" Kamu sungguh murid yang tidak berkeprimanusiaan. Bagaimana kalau teh tadi tumpah melukai wajah tampanku.." ketus Reino.
" Salah sendiri.. !! ketus Cinta
Jantung Cinta tak berhenti berdegup.
Tak di pungkiri wajah tampan Reino sunggu memikat. Selama ini hanya memandang saat mengajar dikelasnya. Namun sekarang tepat berada dihapannya. Dan sedikit lagiii..
" ahhh.. hampir saja..." batin Cinta.
First Kiss tidak boleh pada Om Om apalagi yang sudah memiiki calon isteri.
Reino pun menyadari kegundahannya.
Dia seperti terbius berada didekat Cinta.
Entah karena kepolosan Cinta atau cara bicaranya tapi mata itu sungguh mengingatkannya akan sosok gadisnya.
" Mana Pak yang harus di perbaiki.." ujar Cinta tanpa basa basi.
Reino pun mengeluarkan sebuah makalah punya Cinta.
Dia pun menjelaskan secara detail pokok permasalahan.
" Ada sedikit kesalahan dalam neraca keuangan yang kamu buat 10% biaya akomodasi dan peralatan dan dalam biaya pengeluaran keseluruahan bisa menjadi 30%, coba kamu cek dimana perbedaannya..."
Reino menjelaskan.
Cinta pun mempelajari dan sedemikiannya telitinya menghitung dengan kalkulasi manual bahkan kalkulator.
Tak lama.
"Masalah ini harus gimana saya menjelaskan ya pak Rey alias Reino alia Om alias Pak tuuu... " cetus Cinta tak berani melanjutkan.
" Kamu bilang apa...??? " Reino melotot
"Saya tua trus kamu apa bocah ingusan..!!! " hardik Reino.
Memasang ekspresi bersahabat.
Cinta berkata lagi,
" Tidak ada yang salah pak. Saya sudah menghitung dengan benar. Dan terjadi selisih 10% biaya pengeluaran setelah adanya biaya konsumsi dan biaya tak terduga. Dibawah ini sudah saya beri catatan dan keterangan loh pak.." Cinta menjelaskan ekspresi sedikit kesal.
Cinta pun menjelaskan sedemikian rupa tentang tugasnya tersebut.
Tak ada yang salah dengan penjelasan Cinta.
Semua hanya rekayasa Reino untuk mendapat perhatian dari Cinta.
"Sungguh aku kagum denganmu Cinta.."
batin Reino.