
Esoknya Desi sahabatnya mendapat kabar mengenai pernikahan Reino yang akan diadakan bulan depan setelah acara pertunangan tadi malam.
" Kamu gak apa Cin..
ujar Rindu yang dari tadi memperhatikan raut wajah Cinta.
Namun Cinta tak memberikan reaksi sedikit pun. Hal itu membuat sahabatnya menjadi khawatir.
" Cinta.. katakanlah sesuatu..
" Aku menjadi takut kalau kau hanya diam saja.
"Aku tahu kamu pasti sedih.
kata Desi lagi.
Setelah sekian lama Cinta menahan airmatanya agar tidak tumpah maka kali ini bersama Desi sahabatnya, ia pun menangis.
Gadis itu memeluk sahabatnya erat dengan isakannya.
Ada sekitar lima menit dia menangis.
" Cinta. Apa sebenarnya yang terjadi..
" Ceritakanlah...
"Aku akan selalu mendukungmu..
Desi berusaha menenangkan gadis itu.
Cinta melepaskan pelukannya. Dia yang sedang duduk disebelah Desi pun akhirnya berbagi isi hatinya selama ini yang ia simpan sendiri saja.
"Aku gak tahu mulai darimana aku mulai menyukai dia, Des..
"Ia menjadi tetangga, guru bahkan pria sempurna dimataku yang selalu menghiasi mimpiku disepanjang malam tidurku."
katanya pelan.
"Tetapi setelah dia pergi tanpa kabar setelah kejadian dengan David dulu.. Aku bertemu kembali dengannya di Paris.
" Perasaan yang berusaha aku kubur mulai bersemi kembali walau aku tahu ia memiliki cinta pertama yang belum sepenuhnya ia lupakan...
katanya lagi.
Desi pun menyela cerita sahabatnya itu,
" Tidak ada yang salah dengan perasaanmu sayang, Kamu tulus. Dan Reino juga begitu aku tahu. Karena salah satu teman yang ikut bersamamu ke Paris telah bercerita bahwa perlakuan Reino padamu tulus dan romantis disana.."
Cinta melanjutkan lagi,
" Mungkin sebagian benar.
" Namun pertemuan Reino dan kekasih lamanya itu disana membuat aku menjadi seperti orang ketiga dalam hubungan mereka.
" Dan lagi Reino tak berusaha mencariku lagi. " Maka aku mengambil keputusan akan pergi jauh dari kehidupan Reino dan melupakan semua apa yang terjadi di antara kami.."
Desi membalas perkataan Cinta lagi.
" Terus apa yang sekarang kamu tangisi Cinta. "Kamu telah memutuskan segalanya telah berakhir maka kamu harus bersiap akan dimana hari bahagia mereka ini..
"Jangan sedih aku selalu bersamamu. Aku kana mengenalkan pemuda yang lebih baik dari Reino..
ujarnya sambil melirik undangan yang masih ada di meja.
Desi memegang tangan sahabatnya itu lagi,
" Aku mendukung apapun keputusanmu.
"Sekarang ayo kita makan. Kamu terlihat kurus.
" Kasian cacing di perutmu udah kelaparan sebulan..."
katanya bercanda.
Cinta mulai sedikit tersenyum,
" Sebulan..?"
" Aku makan ya tiap hari..
"Kalau tidak pasti sudah end.."
ujarnya sambil mengusap airmatanya yang tersisa.
Desi yang hari ini datang ke rumah Cinta datang untuk melihat keadaan sahabatnya itu.
Berita mengenai pernikahan Reino telah tersebar. Namun mengenai kisah mereka hanya beberapa saja yang tahu.
Desi pun sebenarnya baru mengetahuinya
"Assalamualaikum..
sapa beberpaa pemuda didepan pintu rumah itu.
" Siapa ya yang datang . Aku tidak ada mengundang tamu..
ujarnya pelan.
Desi berdiri dan berkata,
"Biar aku yang buka pintunya,
ujar Desi.
Cinta yang sedang menyiapkan menu makan siang mereka pun tampak heran.
Ruben bersama teman mereka lainnya datang mengunjungi gadis itu.
" Haii Cinn.. Masak apa.. hari ini..
sapa Diki dan Deni secara serempak.
Ruben yang melirik kearah dua sahabatnya itu pun berkata cepat,
" Jangan banyak omong atau kalian tidak dapat makan siang gratis...
ancam Ruben menggertak.
"Wuihhh ada rendang jengkol. Aku suka ni..
seru Deni.
Dan dilanjutkan lagi dengan Diki.
" Teri sambal petai.. Maknyusss.."
serunya.
"Dasar kalian ya... Lupa tujuan utama kalau sudah lihat makanan..
Ruben mengingatkan.
Melihat tingkah Ruben dan kedua sahabatnya tanpa disadari Cinta tersenyum.
Melihat itu Desi menyikut lengan Ruben dan mrmberi kode.
"Kau berhasil membuatnya tersenyum. Selanjutnya buat dia bahagia..
bisik Desi
" Ayooo buruaan.. Makanannya gak akan habis kalau dipelototi...
seru Diki dan paling cepat menyendok ke piringnya.
Ruben menjitak kepala Diki sehingga membuatnya meringis kesakitan.
"Mau makan aja bawel banget..
kata Ruben jengkel.
"Sudah, sudah,, silahkan dimakan ya... kalau gak enak jangan diomongin sekarang.. nanti aja.. abis makan.
kata Cinta tersenyum tipis dan mata sedikit bengkak.
Saat Ruben menyantap, ia kagum.
Masakan gadis ini lumayan enak.
"Masakanmu enak kok. Layak dijual di restauran..
"Aku pasti beli tiap hari.
puji Ruben.
Desi pun ikut nimbrung di tengah acara makan siang mereka.
"Capek deh.. makan tiap hari harus beli lagi..
"Mending dijadiin pacar terus isterii..
"Opsss... maaf keceplosan ni bibit... hehe..
Desi berkata sambil tersenyum berharap Cinta memberi kesempatan pada Ruben.