
Sekembalinya dari perusaan Mr.Louis ia segera mempercepat kepulangannya ke Indonesia
Ia sudah tak memiliki harapan lagi kepada Reino.
Setelah pamit kepada Mr.Louis bahwa ia ingin mempercepat kepulangannya ke Indonesia. Ia membereskan segala perlengkapannya dnag menyusunnya dengan rapi dalam kopernya.
Ia menangisi segala keputusannya. Namun untuk sekarang hal itu merupakan keputusan yang tepat. Ia tak ingin menjadi penghalang.
Cinta menyadari sosoknya selama ini hanya pengganti.
Reino hanya mencintai Rindu.
Dilihatnya banyak pesan dari Reino juga ada sepuluh kali panggilan darinya.
Ia pun menuliskan semua isi hatinya di selembar kertas.
Dengan sangat lama ia menulis.
Tangannya bergetar. Bibirnya menahan suaranya. Tangisannya meluap hingga membasahi beberapa tulisannya.
Isi surat tersebut.
" Reino. Apakah kau tahu hatiku begitu sakit.
"Kenapa kau tak datang mengejarku tadi.
" Kenapa kau tak mencari tahu aku berada dimana sekarang.
" Mungkin sekarang kau bingung.
" Baiklah aku akan pergi jauh dari kehidupanmu. Aku harap saat bertemu kembali kita tidak saling mengenali.
Tetapi,
Sebagai tanda perpisahan temui aku jam 7 malam di taman biasa dekat menara Eifel
Cinta.
Ia menitipkannya kepada bagian resepsionis hotel kemudian pergi mengunjungi menara Eifel untuk terakhir kalinya.
Hari telah hampir petang
Ia tidak ingin melewatkan matahari terbenam karena pasti sangat indah.
" Seperti biasa tempat ini takkan pernah bisa sepi...
batinnya sesekali memandangi area tersebut.
Sementara di hotel, Rindu telah menyiapkan keberangkatannya lusa, ia ingin sekali bertemu dengan Reino.
" Dimana pria itu .
gumannya berdecik.
Ia pun bertanya ke bagian resepsionis dan ternyata pria yang dinantinya tidak datang sama sekali ke hotel.
"Aku akan mencoba menghubunginya..
gumannya.
Ia pun berpesan kepada pegawai tersebut apabila Reino datang segera menghubunginya.
Ia menuliskan " Datanglah, temui aku untuk yang terakhir kalinya..." disertai namanya 'Rindu.
Hampir jam 7 malam akhirnya Reino pun tiba di hotel. Segera ia memeriksa bagian keuangan hotel dan lagi ada beberapa berkas yang perlu tanda tangannya.
Kemudian di akhir kesibukannya, datanglah pegawai tersebut memberikan dua surat yang ingin disampaikan kepada bosnya.
Namun karena terburu buru ia membuka surat paling atas kepunyaan Rindu.
Membuka kertas tersebut membuat Reino terkejut dan tanpa ia sadari surat dari Cinta terlepas dari tangannya kemudian jatuh diselah kolong mejanya.
Ia bertanya kepada pegawai tersebut,
" Apakah sudah lama dia datang kemari..
Selidik Reino.
" Sekitar 30 menit yang lalu, pak.
" Ia sepertinya masih dikamarnya. Dan saya juga mendengar bahwa ia kan out dari hotel lusa.
Reino bingung.
Apa yang harus dilakukannya.
Apakah ia harus menemuinya untuk terakhir kali karena tidak mungkin baginya memilikinya seutuhnya.
Dia milik David.
Dan kebenarannya mengenai hidupnya selama ini menjadi misteri dan tanda tanya besar baginya.
" Aku akan bertanya langsung padanya.
" Masalah ini harus selesai disini.
" Aku tidak ingin larut lagi dalam kebimbangan.
batinnya.
Segera ia bergegas naik ke lift dan menghampiri kamar Rindu.
Sementara beberapa menit yang lalu.
Bagian resepsionis menghubungi teelpon kamar Rindu dan memberitahu kedatangan Reino.
Ia segera bergegas membersihkan dirinya. Ia tak ingin terlihat kotor di depan Reino.
" Aku akan memberikan diriku padamu Reino.
" Tanpa penghalang .
gumannya sambil tersenyum bahagia.
Didepan kamar Rindu.
" Krekkkk..."
pintu tak terkunci.
"Seperti ia sengaja..
batin pria itu.
Mendengar suara langkah kaki dan itu pasti Reino. Rindu sudah menduga bahwa Reino masih sama seperti dulu.
" Reino hanya milikku..."
ujarnya pelan sambil tersenyum penuh siasat.
" Masuklah Reino.. Aku sudah lama menunggumu..
sapa Rindu dari dalam kamar.
Ada perasaan yang tidak enak dalam hati pria itu namun ia tetap saja menggerakkan kakinya masuk kedalam.
" Tutup dan kunci pitunya Reino..
ujar Rindu lagi namun sosoknya tidak kelihatan didalam.
Reino mencari asal suara dan berasal dari dalam kamar mandi.
Tak lama keluarlah wanita itu mengenakan handuk yang dililitkan di tubuhnya.
Rambut pirangnya yang panjang basah ia tutupi dengan handuk kecil.
Ia tersenyum melihat Reino berdiri terpaku menatap dirinya yang hanya dililiti handuk saja.
Ada beberapa detik Reino terdiam.
Ia hampir gila.
" Apa yang sedang direncanakan wanita ini sebenaranya...
" Baiklah. Aku akan ikuti permainanmu.
" Rindu.
ujarnya dalam hati.