
Tak lama bagi Reino membawa Cinta keluar dari kamar hotel dan meninggalkan tempat tersebut.
Reino ingin membawa Cinta pulang ke rumahnya tetapi dengan keadaannya seperti ini akan menyulitkannya menjelaskan pada buk Sudarti, bibinya Cinta.
" Apa ku bawa ke rumah saja..pikirnya... Tetapi ada pembantu dan pasti akan memberitahu papa bahwa aku membawa perempuan pasti akan banyak pertanyaan lagi.. " batinnya.
Saat mobil Reino melaju terus dengan kecepatan tinggi dan akhirnya ia memutuskan membawa Cinta ke apartemennya yang dekat dengan kantornya.
Sementara Cinta terus kesakitan dan terus mendesah.
Reino sesekali mengusap kepala gadis itu dan berusaha menenangkannya.
" Sabar gadis kecil, sebentar lagi kita sampai.... " Dasar pria brengsek, tega sekali melakukan ini kepada gadis sekolahan.."
geram Reino mengingat wajah dari bos Royalty Grup tersebut.
Mereka pun tiba di gedung apartemen tersebut.
Reino pun terpaksa menggedong tubuh gadis itu dan menaiki lift untuk sampai ke aprtemennya.
Sesampai di apartemen Reino.
Ia bingung harus bagaimana.
Ia berusaha menyadarkan Cinta tapi tak berhasil.
Malahan Cinta yang terus menarik tubuhnya dan hendak mencium Reino namun dia menolaknya. Ia tahu Cinta masih dalam pengaruh obat perangsang.
Ia membiarkan tubuhnya dipeluk gadis itu.
Tapi gadis itu semakin berani bahkan berusaha membuka bajunya dan ingin Reino membalas pelukannya.
" Cinta sadarlah..!!
ini aku Reino, gurumu
ujar pria tersebut berusaha mengendalikan dirinya.
Reino adalah pria normal.
Nafsu siapa yang tak meledak melihat perempuan dengan baju lingre yang seksi dan menggoda sedang memeluknya.
Tampak lekukan tubuh indah gadis tersebut yang selama ini tertutupi seragam sekolahnya.
Bila diperhatikan tubuh gadis ini menggoda karena tidak kurus amat dan lagi ia merawat kulitnya yang putih dan bersih tanpa cacat
Tubuh Rindu saja belum pernah ia tahu lekukannya karena ia adalah pria yang menjunjung moral.
Tak ingin pikiran Reino kacau dan semakin tak terkontrol. Ia menghidupkan shower kamar mandinya dan meletakkan tubuh gadis itu kedalam bath up.
Masih memakai pakaiannya Cinta basah kuyup dan sesekali meringis kedinginan.
" Pak.. tolong aku.. dinginnn
rintih Cinta.
"Dingin pak.. pak..
aku tak tahan lagi...
Ada 15 menit Cinta di dalam bath up.
Dan sesekali Reino memasukan sedikit demi sedikit es batu dari kulkasnya sekaligus membuat gadis itu menggigil.
" Ahh.. aku harus bisa menahan hasratmu ...batinnya.
Melihat pertolongan pertama yang diberikannya kepada Cinta membuahkan sedikit kemajuan.
Ia pun menelpon Rinto sahabatnya.
" Rin.. tolong belikan aku sesuatu ke apotik..
Reino pun menjelaskan beberapa merek obat untuk di beli sahabatnya itu.
" Sekalian bawakan aku perempuan, ujarnya lagi.
Sontak Rinto tak percaya.
Apakah sahabatnya itu butuh pelepasan sehingga menyuruhnya membawa perempuan.
Rinto masih diam tak merespon panggilan sahabatanya itu.
" Rin.. Rin...kamu masih disitu kan..
" Kok diam.. Halooo.. Halooo..
Reino mulai emosi.
" Aku tak percaya sahabatku ini akhirnya akan melepaskan keperjakaannya malam ini.. kata Rinto tersenyun dan kekeh.
" Apaa...??
" Melepas paa kamu maksud..??
" Dasar kamprett..!! otakmu perlu di cuci biar jangan ngeresss aja..!
Reino pun memaki sahabatnya dari ujung ponsel.
" Heii kawan.. jangan emosi..
" Salah kamu sendiri buat aku nyuruh bawa perempuan.. Malam malam begini lagi..!
balas Rinto.
" Makanya pakai telinga dengan benar, simak dari tadi saya bilang.
" Bawa perempuan yang ada di samping mu sekarangg...!
Reino menjelaskan lagi.
Sekarang Rinto sedang menikmati makan malam romantis dengan pacarnya.
" Apa maksudmu buat bawa pacarku kepadamu...Rinto mulai khawatir.
" Jangan karena kamu sahabatku, pacarku ku pun akan ku berikan !
" Tidakkk.. ! teriak Rinto kesal dari ponselnya dan mulai memikirkan yang aneh aneh.
Reino sungguh tak percaya bahwa sahabatnya menuduh ia akan merebut pacarnya.
" Sudah cepat bawa obat yang kusuruh tadi beli dan jangan lupa bawa sekalian Sinta pacarmu.. Nanti aku jelaskan.. !
tak lama Reino mematikan ponselnya karena tak ingin lagi berdebat dengan Rinto.