Forever Love

Forever Love
22. PERTEMUAN KEMBALI



Malam sebelumnya,



Reino pun memasuki sebuah kamar hotel VIP yang ditunjukkan oleh asisten dari kliennya.



Kunci telah ditangan.


Ia pun segera membuka pintu kamar tersebut.


Tapi terlebih dulu asisten tersebut pamit dan pulang meninggalkan Reino sendiri.



" Krekk.."


suara pintu pelan.



" Gelap.. "


batin Reino.



" Ahhh..


" Uhhh..


terdengar suara di sudut kamar.



" Seperti suara wanita...batin Reino.



Ia pun berusaha mencari tombol untuk menghidupkan lampu dan lampu kamar pun tersebut hidup. Dan Reino pun melihat seseorang.



Deg.



Reino terkejut.


Tampak di hadapannya seorang perempuan dengan dandanan norak dan berantakan.



Dengan pakaian.


Maaf kurang pantas untuk diceritakan Reino.



Perempuan tersebut seperti kesakitan dan terus mengerang.


Bukan menangis tetapi seperti kepanasan.



" Ahhh...Uhh..Panass .. ujar perempuan tersebut mendesah.



Reino tidak dapat mengenali wajaj tersebut.


Karena mata perempuan tersebut ditutup oleh kain.



" Menjijikann..!


" Dia pikir aku pria seperti apa, sampai harus dengan wanita murahan seperti ini...!



" Awas kamu David..!


" Saya tak butuh klien sepertimu..


geram Reino.



Ia pun berpaling dan hendak pergi meninggalkan kamar tersebut.



Tak lama ponsel Reino bergetar dan mendapat pesan dari kliennya tadi.



" Selamat bersenang senang, pak David.. Semoga kerjasama kita bisa dilaksanakan dan bonus yang saya berikan dapat memuaskan malam indah anda. "


isi pesan tersebut.



" Pria brengsekkk... jangan harap kerjasama ini dapat terjadi .. lirihnya pelan.



Ia pun kembali menghubungi sekretarisnya yang dia suruh pulang duluan tadi.



Saat itu Cindy masih berada di bar dan belum kembali pulang ke rumahnya. Ia disana membuang suntuk dan sekaligus membayangkan bosnya tersebut yang tidak pernah meliriknya sedikitpun.



Tak lama ponsel wanita itu berbunyi,


Cindy tersenyum dan membayangkan bosnya tersebut pasti merindukanya tapi kenyataanya sungguh..



" Cindyy.. Tolong kerjasama kita dengan Royalty Grup di cancel ya.. dan jangan pernah terima lagi proposal kerjasama yang ditawarkan.. Reino bertelepon.



tuut...tuutttt..



Reino mematikan panggilannya dan Cindy dengan wajah kesal berujar..



" Lihat saja Reino Hartawan, suatu saat kamu akan bertekuk lutut di hadapanku dan memohon belas kasih ku... ! "



Ia sambil menegak minumannya dan tak lama datang seorang pria menghampirinya dan berusaha merayunya. Ingin mengajak wanita tersebut berkencan.



Cindy pun menuruti kemauan pria tersebut karena ia sudah dipengaruhi minuman dan masih kesal atas perlakuan bosnya selama ini .


Dia pun meluapkan hasratnya yang tertunda kepada bosnya melalui pria yang mengajaknya berkencan tersebut.



Tak lama untuk dua insan tersebut membooking hotel dan melakukan yang menjadi hasrat dan nafsu mereka.



Reino masih di kamar tersebut.


Saat hendak ingin membuka pintu dan keluar dari kamar tersebut.



Terdengar lagi suara dari sudut kamar tersebut.



" Panass.. ahhh.. uhh.. tolongg aku...


" Aku sudah tidak tahan lagi.. panasss..


ujar perempuan tersebut berulang-ulang.



Kemudian keluar lagi suara erangan dan desahannya dan Reino pun mendengar lagi



Deg.



" Pak Reinooo.. tolong aku... panass..!


" Ahhh...ah...


kata perempuan itu



Reino pun berbalik dan mendekati perempuan itu. Ia penasaran mengapa suara tersebut seperti tak asing dan memanggil namanya.



" Mengapa perempuan tersebut memanggilnya nama Reino, apa ia mengenalku atau aku mengenalnya .. batin Reino.



Terdengar suara langkah kaki mendekat dan semakin dekat ke arah perempuan tersebut.



Perempuan tersebut pun menangis.


dan berteriak.



" Jangan mendekat.. Jangan.. Jangan ..!


" Aku ingin pulang.. Lepaskan aku..!


isaknya lagi.



Reino segera melepas penutup mata perempuan itu.



Deg.



Reino berusaha mengenali wajah yang penuh polesan murahan itu dan sesekali mengusap wajah wanita tersebut.



" Cintaaaa...!


Reino tak percaya.



Ia menarik tubuh gadis itu dan memandang dengan wajah memerah dan malu. Dan Ia pun segera menutupi tubuh gadis itu dengan jasnya.