Forever Love

Forever Love
Kesabaran yang diuji



David tak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia masih diam.


Ia terus menatap Rindu lurus sehingga membuat gadis itu merasa canggung dan takut.



" Dav..


ujar Rindu lirih.



" I'm Sorry.


" But thanks for all


" I love it.


Rudu berusaha mencairkan suasana.



Sampai pemain musik biola mengakhiri lagunya David masih diam dan mulai berkata,



" Rindu..


" Pemberianku ku semua tulus padamu.


" Bila kau tak suka hadiahku. Buang saja..!"


kata David kembali dingin.



Kesabaran David kali ini pun teruji.


Karena tuk kesekian kali penolakan yang diterimanya. Dan ini yang terakhir baginya karena ia tak tahu harus bagaimana lagi.



" Sepertinya kau masih marah padaku..


" Baiklah cincin ini akan ku terima tapi tidak kukenakan.. Rindu menenangkan David.



David pun membalas,



" Itu terserahmu.


" Niat baikku kenapa selalu kau salah artikan.


" Percaya dirimu yang tinggi itu akan membuatmu jatuh suatu saat Rindu.


" Engkau akan merasakannya saat tiada lagi yang benar benar memperhatikanmu.



Kini Rindu yang terdiam mendengar


semua perkataan David.



" Sepertinya acara makan malam telah berakhir. Sebaiknya kita kembali kehotel


"Besok aku harus kembali bekerja.


ujar Rindu.



Saat Rindu berdiri dan akan hendak pergi.


David menahan tangan gadis tersebut.



" Malam ini kau tak ingin bersamaku...?"


bujuknya memohon pada perempuan itu.



" Tidak Dav...aku lelah.


" Dan lagi mood mu yang sering berubah-ubah membuatku tak mengerti dirimu.


" Mungkin sebaiknya kita akhiri hubungan ini saja.


Rindu membuat keputusan yang dirasanya benar.



David tak menahan kepergian gadisnya itu.


Ia merasa terpukul mendengar perkataan gadis itu tadi.



Rindupun berencana kembali pulang menuju hotel tempat menginap dan tanpa sengaja ia menabrak seseorang di pintu masuk restauran itu.



Rindu pun menatap orang tersebut.



Deg.



" Reino..


batinnya.



" I'm sorry , Sir.


kata Rindu.



Reino menatap peremuan yang menabraknya tersebut.



Rindu tertunduk dan berusa menutupi sebagian wajahnya dengan rambut panjangnya.



" Kamu... ?


Reino berusaha mengenali wajah dan suaranya walaupun Rindu masih memakai kacamata hitam.



Rindu selalu tak lupa dengan kacamata hitamnya tersebut. Dengan begitu tak banyak orang yang akan mengenali dirinya.



Apalagi dengan profesinya sekarang akan banyak mengundang berita negatif.



" Anda mungkin salah orang. Kita tidak pernah bertemu. Maaf saya terburu buru..


Rindu mulai berusaha menghindari perkataan Reino.



Saat Reino ingin berkata lagi.


Rindu langsung pergi.



Ia tak ingin berada dalam kesesakan diantara dua pria yang menjadi dilema dalam hidupnya.



" Perempuan itu...


batin Reino.



Reino pun telah mengakhiri jamuan makan malamnya dengan Mr.Louis, ia pamit pulang dan saat di pintu masuk ia bertabrakan dengan Rindu tadi.



Perempuan itu masih berdiri di pinggir jalan.


Ia berusaha menghubungi taksi. Tapi belum juga ada yang datang.



" Sial..


" Tahu begini aku akan menyuruh asistenku menjemputku kembali.


" Semua ini gara gara David.


" Seandainya ia tak merusak suasana hatiku.


" Apa aku harus kembali ke restauran dan memintanya mengantarku pulang.


gumannya kesal dalam hati.




Sementara Reino yang mulai mengeluarkan mobilnya dari parkiran. Melihat perempuan tadi berdiri di pinggir jalan.



" Sepertinya dia membutuhkan tumpangan.


" Ahh. Tapi perempuan itu terlalu... kita lihat saja bagaimana responnya..


gumannya dan melajukan mobilnya tepat dihadapan Rindu.



" Tiiitt.. tiittt...


Reino membunyikan klakson mobilnya.


Karena tak ada respon dari perempuan itu Reino membuka kaca mobilnya.



" Hei nona.


" Enggak capek berdiri.


" Masuklah. Aku mau kembali ke hotel. Kamu mau ikut...


ajak Reino.



Rindu pun menatap pemuda yang didalam mobil itu dan berkata.



" Maaf.


" Tidak perlu. Pergilah . Sebentar lagi akan ada yang menjemputku.



Reinopun membalas permataan perempuan itu.


" Baiklah.


" Tapi pikirkanlah ini sudah jam berapa. Tak baik bagi perempuan cantik sepertimu menunggu terlalu lama. Pikirkanlah..


" Aku tidak akan berbuat jahat padamu.



Rindupun memikirkan perkataan Reino barusan kemudian memutuskan ikut masuk kedalam mobilnya.



" Bagaimana mungkin kau menjahatiku Reino.


" Kau orang baik. Aku tahu itu.


batin perempuan itu sesekali melirik Reino mengemudi dibalik kacamata hitamnya.