Forever Love

Forever Love
Mengharapkan pertolongan



Terdengar suara langkah sepatu memasuki kamar tersebut.



Pintu terbuka.



" Mari kita lihat wanita seperti apa yang telah kita dapatkan...?"


kata madam itu.



Berdiri disebelahnya wanita yang sudah dipersiapkan memoles wajah mereka.



Cinta yang melihat keduanya dengan tatapan masih bingung.



" Siapa kalian...?"


" Tolong lepaskan kami..!"



Madam itu hanya tersenyum sinis dan berkata,


" Melepaskan kalian...?" Mustahil...!"


" Kalian sudah dijual pada kami..!


" Jadi menurutlah atau kami bisa lebih kejam lagi..!



Cinta pun merasa takut. Apakah kejadian setahun silam akan terulang kembali pada dirinya kali ini.



" Ya Tuhan.. Tolonglah kami.."


batin gadis itu mulai menangis.



"Tolong lepaskan kami. Kami bisa bayar berapa yang telah anda keluarkan. Kami akan ganti. Lepaskan kami.."


ujarnya memelas memohon.



Madam tersebut menjawab,


" Haaa.. kalian mau ganti ?"


" Kamu pikir saya bodoh. Uang saya keluarkan tidak seberapa dengan bayaran yang saya terima kelak apabila memuasakan pelanggan saya..."



Wanita tua itu menarik dagu gadis itu sambil mengeluarkan sebilah pisau dan berkata lagi,


"Ingat jangan harap coba kabur dari sini. "


" Semua pengawal saya telah menjaga mansion ini sangat ketat dan lagi...


" Nyawa kalian akan taruhannya. Pisau ini akan menggores sedikir wajah cantikmu itu menjadi cacat seumur hidup...Mau...??"



" Jangan lakukan itu.. ku mohon kasihanilah kami..." isaknya.



Madam tua itu tak memperdulikan perkataan gadis itu dan pergi meninggalkan mereka.



" Lakukan seperti biasa..Jangan ada kesalahan atau nyawa kalian taruhannya..!


perintahnya kepada pengawal dan pelayan wanita.



Gadis itu pucat dan berani berkata apa lagi.


Rina yang masih belum sadar dengan segera dibangunkan seorang pengawal dengan air.



" Heii...Bangunnn..!" bentak pengawal sambil menepuk pipi Rina.



Kemudian tersadarlah temannya itu. Dalam keadaan masih pusing. Ia pun bingung kenapa ia berada ditempat itu



Dilihatnya Cinta berada disebelahnya masih terdiam dan wajahnya basah dengan airmata.



seru Rina menatap sekelilingya tampak pengawal laki dan pelayan wanita yang bersiap mempercantik diri mereka.



" Kita dijebak Rina. Kita telah dijual. Dan sebentar lagi kita akan mrnjadi wanita penghibur...tangis Cinta menerus.



Rina yang mrndengar perkataan Cinta ikut larut dalam tangis.



" Seandainya kita tak terperdaya oleh pria asing itu... Maafkan aku Cinta. Ini semua salahku. "



" Sekarang kita harus bagaimana... ujarnya lagi.



Cinta menjawab dengan menggelengkan kepalanya.



" Berharaplah semoga ada yang menolong kita... katanya pelan.



Pelayan wanita itu sudah mempersiapkan dres seksi untuk mereka.



Gadis itu di poles bergiliran. Sementara Rina sedang didandani, Cinta tiba tiba ingin ke kamar mandi. Ia memohon untuk diperkenankan keluar dari kamar itu.



" Aku mau kekamar mandi. Tolong ijinkan aku.. kata gadis itu memelas



"Baiklah tapi jangan coba kabur atau nyawa sahabat kamu taruhannya. Ayo pergi..!



Gadis itu dibawa menuju kamar mandi yang ada disudut lorong yang terdapat beberapa kamar. Dan terdengar erangan serta desahan dari dalamnya.



" Cepat jalan..! Jangan memikirkan rencana apapun untuk kabur. Sebentar lagi kamu dan temanmu juga akan seperti mereka yang didalam."



Cinta pun masuk kedalam toilet.


Ia mengambil ponsel disaku celananya yang masih dijaganya dari tadi.



Ia menghubungi nomor Mr.Louis beberapa kali namun tak ada jawaban. Ia pun lalu menghubungi ponsel Rina. Ya tas sahabatnya tertinggal di taman.



" Tak ada jawaban... "


" Sepertinya kedua pria tadi tak menyadari tas Rina masih ketinggalan di taman.


gumannya.



Ia pun menghubungu sahabat lainnya di hotel namun belum juga sempat dilakukan pintu sudah digedor dengan keras oleh pengawal itu sehingga mengakibat ponsel ditangannnya terjatuh kedalam bak mandi.



"Plukkk... ! bunyi ponsel yang tercebur ke air.


Ia mengambil dan membunyikan ponselnya


berharapa masih hidup.



" Apa yang harus kulakukan. Ponselnya mati.


"Tak ada cara lagi .. gumannya sedih.



"Hei nona.. Cepatlah keluar..!


" Jangan berlama lagi. Ini waktunya dirimu didandani. Jangan coba kabur. Tak ada celah di mansion ini... !


terdengar suara pria dengan kerasnya dari luar pintu kamar mandi.