
Setelah melihat ayahnya Cinta telah kembali kantin, Reino pamit keluar sebentar.. Reino menuju ke bagian administrasi rumah sakit untuk melunasi sisa pembayaran untuk operasi besok.
Dan tak lama ia pun menghampiri Heru ayahnya Cinta dan mengajak beliau karena ingin mengatakan sesuatu.
" Om ada yang ingin saya bicarakan.. " katanya dan mengajak lelaki paruh baya itu mengikuti langkah kaki Reino.
" Ada apa nak Reino...tanya Heru.
Sambil mengeluarkan amplop yang berisi uang dari saku jasnya.. Reino memberikan langsung ketangan Heru.
" Apa ini nak.. ?? " lelaki paruh baya itu tampak kebingungan dan memandang isi amplop yang tebal.
" Ini ada sedikit uang dari saya Om, tolong di terima. Bukan saya bermaksud lancang tetapi saya tahu biaya rawat dan inap rumah sakit ini agak mahal.. Dan lagi saya sudah melunasi sisa pembayaran untuk operasi tersebut.. "
kata Reino .
" Saya berterimakasih nak, atas kepedulianmu terhadap keluarga kami. Tapi saya tidak bisa menerima amplop ini. Sudah cukup dengan biaya operasi isteri saya saja... ujar Heru.
Reino tak menerima amplop yang disodorkan lagi itu kepadanya.
" Tolong terima om, saya tidak bermaksud apa apa. Saya ikhlas.. Tolong om, pikirkan lagi... Sebentar lagi Cinta akan tamat dan untuk gadis secerdas dia sangat disayangkan bila tak lanjut kuliah.. Pergunakanlah ini sebaik mungkin. "
ujar Reino
" Dan lagiii ... ujarnya.
Sebenarnya Heru berat hati menerima pemberian Reino tersebut. Namun semua perkataan Reino benar. Dia harus memikirkan masa depan putrinya kelak.
" Apa nak.. balas Heru ayahnya Cinta.
Reino pun dengan wajah serius mengatakannya.
" Jangan beritahukan Cinta saya yang melunasi biaya rumah sakit dan uang dalam amplop ini.. kata Reino melanjutkan lagi.
Reino tahu mengapa ia harus merahasiakan ini dari Cinta. Karena ia tak ingin gadis kecil itu berpikir yang bukan - bukan akan niat baiknya dan lagi pasti Cinta akan menerima tapi menganggap jadi hutang budi tapi Reino tak ingin hubungan mereka yang sudah baik jadi timbal balik dan terkesan seperti balas budi.
" Baiklah nak Reino, saya menerima walau terpaksa karena keadaan kami sekarang dan saya juga masih memikirkan masa depan Cinta kedepannya.
" Saya akan berusaha mengingat semua kebaikan nak Reino dan biarlah saya yang berjanji akan melunasinya suatu saat nanti...
kata Heru walau berat hati.
" Cinta, gadis kecilku kau masih harus tumbuh dewasa.. aku tak ingin membebanimu... "
batin Reino
Mereka pun kembali ke kamar tempat Cinta yang terus menjaga kondisi ibunya.
Sementara Cinta masih terus setia menemani keluarganya.
****
Desi, Ruben dan Fikri serta tak lupa Fani datang menjenguk ibunya Cinta.
Mereka mendapat kabar Cinta sudah di rumah sakit. Yang paling cemas adalah Fani. Karena ia tak yakin Cinta pulang dengan kondisi baik.
" Sayangggku.. maafkan aku.. ujar Desi memeluk Cinta.
Mereka saling berpelukan dan tak lupa menangis. Melihat kejadian tersebut Ruben dan Fikri merasa aneh. Mengapa tangis mereka seperti tertahan.
Tak lama Fani pun menghampiri dan memeluk Cinta sekalian minta maaf dengan menangis.
" Eheemmmm.. heemm.. kami dicuekin disini yaaa....kenapa kalian jadi mewekkk sih.. apa yang terjadi ..? "
tanya Fikri penuh selidik dan membuat adegan tangis menangis tadi sirna seketika.
Sebuat jari telunjuk mengenai jidat Fikri dan berkata,
" Ibunya Cinta lagi sakit sayangg.. dan besok harus di operasi sekaligus berjuang nyawa antara hidup mati.. Jadi kami harus ketawa gituu.. !
ujar Desi kesal.
" Maafkan aku... kalian menagis seperti sudah terjadi sesuatu... kata Fikri lagi.
Kemudian.Ruben memberikan sedikit cemilan dan buah - buahan kepada Cinta.
" Gimana kondisi ibumu Cinta.. apakah masih sama.. tanya Ruben.
" Iya seperti itulah..makasih ya kalian udah datang jenguk....ujar gadis itu.
Kemudian cinta memperkenalkan sahabat sahabatnya kepada ayahnya.
Ada sekitar sejam mereka disana kemudian pamit pulang.