Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Kekecewaan Aaron



Entah mengapa hati Aaron sangat gundah dengan tingkah istrinya yang seperti tengah menghindarinya. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu. Kini tibalah mereka di rumah minimalis milik Aaron dan Maya. Sikap Maya yang sedari tadi mendiaminya seakan banyak fikiran yang mengganjal hatinya tak mampu membuat Aaron berfikir jernih.


Jika dirinya memaksa sang istri terus terang, Ia sangat takut jika emosinya kembali mendera. Seperti tadi sewaktu di dalam mobil, Aaron bertanya dengan rasa cemburunya ketika sang istri seperti tak menghiraukan keberadaannya di sampingnya.


"Jangan ungkit dulu By aku belum siap." Ujar Maya dengan linangan air mata. Aaron menjadi salah mengartikan semua itu hingga terjadilah cekcok di dalam mobil. Ben yang mendengar hanya bisa mendengus kesal dengan pengantin baru yang mengalami masalah.


"Jangan buat aku mikir yang macam- macam Hummy." Sergah Aaron dengan rahang mengeras, Namun ia berusaha mengontrol emosinya takutnya ia menyakiti istri tercintanya. Sungguh dirinya enggan menyakiti sang istri.


"By aku janji akan cerita tapi jangan sekarang, Aku mau sendiri." Ucap Maya berlari ke arah kamarnya, Setelah Ben memarkirkan mobilnya di bagasi dengan sempurna.


"Akhhhh..." Teriak Aaron meninju udara, Beginikah rasanya cemburu pada wanita yang sudah berstatus istrinya. Meskipun dulu Maya melakukannya juga dengan sahabatnya di depan mata kepalanya sendiri tapi entah mengapa rasanya saat ini berkali- kali lipat sakitnya.


"Mmm Ar, Bukan maksut gua mengompori nih ya. Mmm gua penasaran aja sih sedari tadi. Apa mungkin Maya ada main..."


"Jangan berfikir hal bodoh Ben, Lu tau dia setia sama gua , Dia cinta sama gua, gak mungkin baginya bisa membagi hatinya pada pria lain." Sergah Aaron menyela ucapan Ben, Ia juga mencengkeram kerah kemeja Ben dengan erat menyalurkan rasa geramnya yang sudah ia tahan sedari tadi.


"Oke... Gua salah, Semoga itu cuma fikiran bodoh gua." Timpal Ben mengangkat tangannya. Ia sebenarnya juga takut mengatakan pemikirannya pada Aaron.Dan hasilnya apa yang sudah ia duga. Aaron akan tersulut emosi dan menjadikan dirinya pelampiasan semata.


Aaron pergi dengan hati yang sudah sangat dongkol, Melangkahkan kakinya ke arah kamar pribadi miliknya dan sang istri. Berusaha berkali- kali mengetok pintu namun tak ada jawaban dari dalam kamar.


"Buka atau aku dobrak hummy." Teriak Aaron menggelegar ketika pintu kamarnya di kunci, Sehingga membuat seisi rumah terjingkat kaget dan membuat dua orang pelayan yang bekerja disana lari terbirit- birit kelantai atas termasuk Ben.


"Waduuhhh bisa jadi perang dunia ke 10 nih." Batin Ben Melebarkan langkahnya menaiki tangga, Ben takut jika Aaron tak bisa mengontrol emosinya dan membuat Maya membencinya dan meninggalkannya lagi. Cukup dulu dia seperti orang gila karena mencari kekasih hatinya yang hilang entah kemana.


"Ar tahan emosi lu, Jangan sampai lu ngelakuin hal gila." Bentak Ben mencekal tangan Aaron hingga membuatnya berbalik menghadap ke arah Ben.


"Gua tau apa yang harus gua lakuin Ben, Dia istri gua yang sangat gua cintai. Tak terfikir sama gua buat ngelukain dia, Gua hanya minta penjelasan. Apa itu salah hah ?? Dia istri gua Ben, Udah menjadi hak gua buat tau apa yang menjadi masalahnya." Bentak Aaron yang tak mau kalah, ia tau betul apa yang di khawatirkan Ben pada dirinya.


"Tapi Pliss jangan sekarang, Biarin dulu dia sendiri. Mungkin dengan begitu dia bisa lebih rilexs besok ceritanya." Ucap Ben hingga detik kemudian Aaron pergi melangkahkan kakinya ke arah ruang kerjanya dengan Ben yang setia mengekorinya.


Bukannya tak mau berbagi masalahnya pada Aaron suaminya namun ketakutannya saat ini hanyalah pria misterius itu akan selalu menghantui fikirannya. Bahkan bisa membuat dirinya dan orang di sekitarnya terluka.


Sebelum menceritakan masalahnya Maya harus yakin jika nanti apa yang difikirannya itu salah, Ia sangat tau sifat pria tersebut dengan jeli. Ketakutan terbesarnya adalah suaminya akan celaka di tangan si pria misterius itu. Tak dapat di pungkiri hatinya gelisah memikirkan itu semua sehingga ia juga mengabaikan Aaron yang sedang geram padanya.


"Kamu kenapa ada dimana- mana, Tak bisakah kamu mengahargai keputusanku. Bukannya aku melupakan semua kebaikanmu tapi caramu sungguh membuatku semakin ketakutan berada disisimu. Plis jangan buat aku gila dengan kelakuanmu." Monolog Maya pada dirinya sendiri, Air mata terus membasahi pipi mulusnya dengan santainya.


Maya mengusap wajahnya dengan kasar, membaringkan tubuh dengan hati yang di landa kecemasan mendalam. Berusaha memejamkan mata sembabnya namun usahanya nihil fikirannya melalang buana ke setiap ucapan yang terlontar dari bibir pria tersebut. Di depannya atau malah secara diam- diam ia menguping pembicaraannya dengan beberapa orang yang menurutnya disuruhnya.


Tepat di tengah malam Maya masih belum sanggup memejamkan mata, fikirannya merasa bersalah pada sang suami karna sudah acuh terhadapnya.


"Apa aku salah membiarkan suamiku sendiri menerka- nerka apa yang membuatku jadi begini." Ucap Maya bingung, Akankah dirinya pergi menemui suaminya dan menceritakan semua keluh kesahnya.


Maya beranjak dari kamarnya membuka pintu kamarnya yang memang sengaja di kuncinya agar Aaron bisa mengerti jika dirinya butuh sendiri.


Ceklekk.....


Berusaha mengintip di balik cela pintu, Netranya menangkap pemandangan remang- remang dengan kesunyian . Ia melihat ke arah ruang kerja Aaron yang pintunya terbuka sedikit dengan lampu yang masih menyala.


Ia kembali melangkahkan kakinya ke arah cela pintu yang sedikit terbuka, Kembali mengintip apakah apa yang di carinya .


Matanya kembali berembun ketika penampakkan pertama yang ia lihat adalah tubuh prianya yang duduk di kursi kebesarannya sembari mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya. Dengan rambut gondrongnya yang sudah acak kadut mungkin akibat sikapnya yang sangat tak pantas untuk sang suami.


"Maafin aku by." Ucap Maya pelan. Mengusap air mata yang kurang ajarnya membasahi pipinya kembali dengan kasar .


Memutari meja kebesaran sang suami tanpa basa- basi ia duduk dipangkuan Aaron dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Membuat Aaron yang sedari tadi berusaha memejamkan mata hingga terjingkat kaget atas ulah istrinya.


"Hummy,." Ucap Aaron tercekat, ia fikir istrinya sudah tidur dengan pulasnya berbeda dengan dirinya yang masih memikirkan sesuatu yang tak berujung.


"By maafkan aku. Jangan salah faham atas sikapku." Ujar Maya semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Aaron. Namun Aaron tak membalasnya, ia hanya diam saja tak menanggapi terlalu sakit hati dengan sikap Maya yang menurutnya berlebihan.


"By." panggil Maya mendongak menatap Aaron yanh sedari tadi tak menggebrisnya.


"By." Panggilnya lagi memegang dagu Aaron agar melihat ke arahnya yang sudah rapuh dengan sikap yang di perbuat sendiri.