Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Lucunya Nina



Tiara dan Tio menemani Maya di rumah kecil tersebut atas permintaan Noah yang tak tega melihat Maya yang terpuruk. Apalagi dengan perkataan Ben yang sangatlah menyayat hatinya.


Noah memang sengaja menelvon mereka, mungkin dengan begitu Maya bisa berbagi cerita atas penderitaan dirinya.


Apalagi niat Ben menyuruh Maya tinggal di rumah kecil itu agar Rangga atau siapapun tak bisa menemuinya. Ben juga manyuruh orang-orangnya untuk terus memantau kehidupan Maya dan sekitarnya nantinya.


Meskipun sifat Ben sekarang terkesan tegas dan kasar tapi dirinya masih bisa memikirkan keselamatan Maya dan janin dalam perutnya. Apalagi dengan kehadiran Rangga yang masih gencar mengganggu kehidupannya.


"May, udah ya. Maksut Ben juga baik kok mau ngelindungi kamu dan janin kamu tapi mungkin dia salah bicara tadi. Udah jangan di ambil hati, kamu kan tau orangnya memang kayak gitu terlalu ceplas ceplos ngomongnya. " Ucap Tiara menenangkan Maya dalam dekapannya.


"Iya nak tinggal disini aja, gak perlu pergi jauh untuk melupakan kenangan nak Aaron, Ayah yakin kalau nak Aaron pasti sependapat sama nak Ben nak. Tolong jangan mikir yang aneh- aneh kasihan janin kamu yang masih lemah ini. " Papar Tio membelai rambut hitam Maya.


"Baik aku akan tinggal disini, tapi aku mau sendirian gak mau ada yang ganggu aku. " Ujar Maya final, jika Aaron senang dengan keputusannya. Dirinya akan melakukan itu.


Baik Tiara dan Tio hanya mengangguk pasrah, jika Maya sudah mau begitu ya mau bagaimana lagi. Dari pada Maya harus tinggal menjauh dari sisinya lebih baik apa yang dimaunya dituruti.


"Tidak ada kata sendirian May, ingat bukan cuma kamu saja yang di khawatirkan semuanya tapi janin yang masih ada di kandunganmu. Apa kamu gak mikir, gimana sedihnya Aaron kalau janin yang ada di perutmu terjadi apa- apa apalagi kondisinya masih lemah. " Ujar Ben, entah keluar dari mana hingga dirinya mendengar percakapan dirinya dan Tiara.


Maya memalingkan wajahnya, terlalu enggan berurusa dengan Ben yang sifatnya bertolak belakang tak seperti dulu.


Rasa geram dan dongkol menjadi satu kala wajah Ben muncul di hadapannya, Ingin sekali dirinya mencabik- cabik wajah sangar Ben dengan kuku panjangnya.


Walaupun tak terima dengan keputusan sepihak Ben, Mau tak mau Maya menerima kemauan Ben walau dengan keadaan yang sangat terpaksa. Setidaknya ini untuk kebahagiaan Aaron menurutnya.


...****************...


Malam menjelang di kediaman yang agak jauh dari pemukiman penduduk bisa dibilang dengan tempat plosok karena sangatlah jauh dari karamaian kota. Tak seperti tempat tinggalnya setelah bersama Aaron, walau ada tetangga namun letaknya agak berjauhan.


Maya terduduk di depan teras rumahnya, memandang gelapnya malam dan diiringi alunan suara jangkrik di sekitarnya.


Banyak kunang-kunang kunang ditaman yang berada di depan rumahnya menambahkan kesan indah dan alaminya. Setelah keluarganya pergi bersamaan dengan para sahabat Aaron, kini Maya menikmati waktunya sendiri. Walaupun ada seorang pelayan yang di dalam rumah, tak mampu mengusik ketersendirian seorang Maya.


Memandangi bingkai foto pernikahannya dengan Aaron yang sudah berjalan hampir sebulan namun kenyataan pahit harus diterimanya. Dimana suami tercinta harus mengalami hal tragis dan membuatnya pergi untuk selamanya.


Maya berusa tegar menghadapi kesulitan hidupnya tanpa adanya Aaron disisinya .Itu semata-mata hanya karna si calon buah hatinya bersama Aaron.


"Kamu harus yakin ya by, kalau aku akan jaga anak kita baik- baik. Hanya dia yang ku punya saat ini. " Ujar Maya membelai wajah Aaron yang berada di foto tersebut, Entah buliran bening selalu saja turun kala dirinya teringat kenangan manis yang dilakukannya bersama Aaron.


Maya memeluk benta tak hidup itu dengan erat seolah dirinya telah memeluk seorang pria yang begitu di cintainya dan dirindukannya.


Seseorang yang berada di balik tembok terus saja mengarahkan kamera handponenya ke arah Maya yang terduduk di taman. Ia merasakan iba pada wanita malang tersebut, Walau baru mengenalnya namun dirinya yakin jika wanita yang tengah terduduk di taman itu adalah wanita yang lembut dan baik.


Klikkk....


Dirinya mengirim rekaman vidio tersebut ke nomer sang tuan, Bukan karena perintah tapi dirinya ingin memperlihatkan kerapuhan Maya disana.


"Semoga Tuhan selalu memberkatimu Nona. " Batin Nina melangkahkan kakinya ke arah Maya yang masih setia memeluk foto pernikahannya.


"Nona. " Panggil Nina membuat Maya terpaksa membuka matanya secara perlahan, dirinya terlalu merasapi pelukan yang diberikan pemilik foto tersebut.


"Iya mbak. " Sahut Maya menggeser tubuhnya agar Nina duduk di sebelahnya.


"Nona menangis. " Tanya Nina masih setia berdiri karena dirinya merasa tak enak jika harus duduk di samping majikannya.


"Duduklah mbak dan tolong jangan panggil Nona, Kita kayak seumuran loh. " Sergah Maya mencoba mengalihkan pembicaraan Nina.


Dengan berat hati Nina duduk disebelah Maya walau rasanya masih agak canggung. Nina menatap lekat wajah yang sembab itu dengan tatapan menelisik hingga membuat Maya yang melihat tatapan itu cengengesan.


"Kok gitu banget lihatnya mbak, apa aku jelek ya. " Tanya Maya mencoba menghapus sisa air mata yang masih tersisa dipipinya.


"Nona mah bisa aja, yang bilang nona itu jelek siapa sih. kalau Nona mah bukan jelek namanya, tapi kayak titisan dewi loh non cakep bener dah. Apa iya sih non kita kayak seumuran perasaan kulit nona masih kenceng kok gak keriput kayak saya nona. " Cecar Nina membuat Maya tertawa lepas, Siapa yang tak terhibur jika lawan yang di ajak bicara kita tak memberi sedikitpun cela untuk kita bicara.


"Kan bener Nona bohong buktinya ketawa tuh sampai keluar air mata, Jangan gitu atuh nona. saya kan malu. " Ujar Nina lagi menelungkupkn wajahnya idi telapak tangannya.


"Idihhh ngapain malu sih mbak, orang cantik juga." Timpal Maya dengan sisa tawanya.


"Iyain aja deh biar nona bahagia. " Ucap Nina membuat Maya kembali tertawa, tak salah Ben menyuruh Nina untuk menemaninya disini pikir Maya.


"Plis jangan Nona mbak, panggil Maya saja. " Pinta Maya.


Nina menggeleng, takut nanti ketahuan tuannya dan dirinya akan dipecat dari pekerjaannya dengan gaji yang sangat fantastik ini.


...****************...


*Tringgg....


Suara handpone berdering, membuktikan bahwa ada yang mengirimkan sebuah chat pribadi padanya. Sebuah rekaman yang menunjukkan seorang wanita tengah menangis memeluk bingkai foto dengan rapuhnya.


Dirinya meneteskan air mata kala pemandngan itu sangat menyayat hatinya, apalagi kondisi si wanita tersebut sangatlah pucat.


Pria tersebut mengusap layarnya dengan lembut, menyalurkan kerinduan yang teramat pada wanita yang tengah menangis disana.


cuppp...


Ia mengecup layar handponenya, Membayangkan dirinya tengah mengecup wanita rapuh itu begitu dalam*.