Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Aaron berulah



Keduanya saling memandang dan menyelami kerinduan yang hampir mencuat di hati Aaron. Selama dua bulan tak saling bertemu dan kini menemukan fakta baru jika wanitanya hampir kehilangan nyawanya dan lupa ingatan.


Aaron sangat terpukul ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, namun apa mau di kata semuanya sudah terlanjur terjadi. Dan betapa bodohnya Aaron menelan kekecewaan ketika dirinya kamarin bertemu dengan wanitanya namun wanitanya tak mengenalnya sekalipun. Sekarang dirinya tau mengapa Maya tak mengenalnya, Semua itu semata- mata karena kesalahannya yang menyebabkan wanitanya kecelakaan dua bulan yang lalu.


"Kamu." Ucap Maya agak ragu memegang pipi berbulu tipis Aaron.


"Iya sayang ini aku Aaron calon suami kamu." Sahut Aaron memegang tangan Mayra yang berada di sisi wajahnya. Terihat jelas semburat air mata yang hampir menetes di mata Aaron.


Aaron menarik Mayra ke dalam dekapannya, Ia bersyukur bisa dipertemukan dengan wanitanya meskipun keadaannya kini sangat memprihatinkan. Aaron merasa bersalah atas apa yang menimpa Maya, Karena dirinya yang terlalu kolot membuat semuanya hancur. Harapan dan impian menyatukan cinta mereka harus sirna atas kesalahan yang di lakukan Aaron sendiri.


Maya memejamkan matanya menikmati sensasi berbeda dengan pria yang baru ditemuinya dan mengaku sebagai calon suaminya. Entah rasanya sangat bahagia ketika berada dalam pelukan seorang Aaron Addison yang baru ia jumpai dua kali.


"Ikut denganku sayang, Kita pulang ke indonesia dan melanjutkan semuanya yang sempat tertunda." Timpal Aaron melerai pelukan, ia membungkukan badannya agar dengan mudahnya memandang wajah cantik wanitanya yang lebih pendek darinya.


"Aakkuuu. Mmm maaf aku gak bisa." Sergah Mayra menarik tangannya kembali dan memalingkan wajahnya. Dalam hatinya ingin sekali mengikuti kemanapun pria di depannya ini, namun ketakutan terbesarnya adalah Rangga Luxio akan menghalalkan segala cara jika apa yang ia miliki di usik orang lain.


"Kenapa."? Tanya Aaron memegang bahu Mayra. Dirinya perlu penjelasan mengapa wanitanya tak mau kembali bersamanya, Apa cintanya telah lenyap untuknya.


"Aku gak bisa Maaf." Sahut Maya menggeser tubuh Aaron agar dirinya bisa melangkah keluar toilet. Maya takut apa yang di dengarnya tempo lalu di balik pintu ruang kerja Rangga terjadi , Dirinya mendengar jika Rangga akan membunuh pria bernama Aaron Addison. Ketika Rangga tau jika Maya berusaha mengingat kejadian di masa lalu dan itu menyangkut Aaron. Walau Maya tak bisa mengingat apapun tentang itu tetapi reaksi Rangga sunggu menyeramkan.


Belum sempat tangannya memegang gagang pintu, Maya merasakan tubuhnya melayang hingga membuat Maya terjingkat kaget ulah siapa lagi kalau bukan Aaron. Ia sengaja menggendong Maya dan mendudukkan wanitanya di depan wastafel agar Maya bisa tau ketulusan cintanya. Dirinya meradang ketika wanita yang di cintainya menolak untuk bersamanya .Ia berfikir, Maya sudah tak memiliki perasaan cinta lagi untuk Aaron.


"Jangan macam- macam sayang, Aku bisa saja berbuat nekat disini." Nafas Aaron memburu menerpa kulit wajah Maya yang hanya beberapa senti di depannya.


"Maammpt." Ucapan Mayra terhenti ketika Aaron mencium rakus bibir yang sedari tadi terus menolaknya itu, menggigit kecil agar bibir manis itu bisa leluasa ia kuasai.


Maya bingung, Mengapa dirinya sangat menikmati sentuhan dari Aaron padahal ketika Rangga menyentuhnya dirinya akan menolak atau menghindar dan berakhir kepalanya pusing. Nah ini, Maya sangat menikmatinya seperti menuntaskan rasa yang pernah bergelora di dada.


Memeluk Aaron dengan erat seperti takut kehilangan, Maya menyukai cumbuan Aaron dan sangat menikmatinya hingga tak ingin mengakhiri.


Tangan Aaron menurunkan resleting gaun Maya hingga kini tampak menyembullah ke dua gundukan sintal sang wanita. Membuat Aaron menghentikan aktivitas ciuman kerinduannya, Memandang wajah sayu itu yang nampak kecewa ketika Aaron tak melanjutkan aksinya.


Aaron kembali mendorong Mayra supaya terlentang di atas Wastafel, Dengan gerakan gesit pula bibir tebal Aaron menyusup di pucuk benda sintal tersebut. Membuat Mayra menggelinjang dan meracau tak karuan.


"Mm stt Stop it ahhh." Racau Mayra namun tangannya menekan kepala Aaron agar tak menghentikan aktivitasnya. Sebagai wanita dewasa ia pasti haus dengan belaian apalagi yang melakukannya pria yang di cintainya dulu.


Tangan Aaron semakin turun ke bawah, Mencari lembah kenikmatan dari diri wanitanya. Aaron semakin mengakangkan kaki Mayra agar dirinya bisa dengan mudah menemukan titik paling sensitif dari sang wanita tanpa melepas cumbuan di bagian dadanya.


Setelah ketemu sesuatu yang di ingikannya, Jari Aaron bermain di area sana hingga membuat Maya memegang erat benda apapun yang dapat ia gapai. Maya pasrah dengan perlakuan Aaron, Tak menolak ataupun tak juga menginginkannya.


Jari Aaron semakin lihai di area sana, Menusuk dan terus memberikan kenikmatan pada wanitanya.


"Ohh my ahhhh Aaronn you ahhhh Mmmmst." Racau Mayra semakin mencengkram kepala Aaron yang masih sibuk dengan aktivitas dibagian dadanya.


"Ikut bersamaku sayang, Aku akan memberikan kenikmatan yang sesungguhnya padamu." Bisik Aaron ketika cengkraman tangan Mayra melonggar.


"Ahh Akkuu ggakk bisa ahhh." Sahut Maya tersenggal- senggal akibat permainan jari Aaron yang memabukkan.


Aaron berhenti dari aktivitasnya ketika mendapati wanita masih keras kepala menolak untuk bersamanya. Dirinya masuk ke bilik toilet untuk menuntaskan hasrat yang sedari tadi yang tak bisa ia tuntaskan dengan wanitanya.


Ia kecewa pada Mayra, mengapa sangat sulit sekali membujuk Mayra agar mau ikut bersamanya. Aaron tau jika wanitanya hilang ingatan, Apa tak ada perasaan sedikitpun ketika dia bersamanya . Apa tak ada secerca harapan untuk kembali menggapai impian yang sempat tertunda dulu.


Setelah selesai dengan ritualnya, Aaron membuka pintu toilet tersebut dan masih mendapati Mayra yang kesusahan memasang resleting gaunnya. Aaron berjalan ke arah Mayra dan memasangkan resleting itu, Mata mereka saling bersitubruk lewat pantulan cermin.


"Jangan tunjukkan indahnya tubuhmu pada pria lain. Tubuh ini hanya milikku dan hanya aku yang boleh menyentuhnya." Bisik Aaron tepat di cuping Mayra membuatnya merinding seketika. Melepas jasnya dan menutupi bagian bahu yang terlihat jelas oleh siapa saja yang mendekat.


Aaron memandang tubuh Maya yang memang membuat siapa saja ingin menggaulinya.


Setelah usai dirinya melangkahkan kakinya keluar toilet. Menjentikkan jarinya, Mengkode rekannya agar rencana yang mereka susun di mulai.


Ya, mereka Aaron, Ben dan Noah telah merencanakan sesuatu untuk kelanjutan hubungan Aaron dan Maya.


Setelah beberapa menit Aaron meninggalkan Maya ditoilet, Ia masih memandangi wajahnya dari pantulan cermin. Sungguh dirinya tak bisa melupakan sentuhan dan cumbuan yang Aaron berikan hingga membuat wajahnya keluar semburat merah.


"*Kamu sangat memabukkan Aaron Addison" Batin Mayra tersenyum malu sembari menggigit bibir bawahnya yang telah di cumbui Aaron hingga nampak bengkak. Mengendus jas pria yang telah mencumbuinya membuat Mayra tersenyum. Selama berada di london sifat Mayra seperti bertolak belakang tak seperti ketika dirinya berada di indonesia yang sangat pemalu.


Maya melangkahkan kakinya keluar dari toilet, Setelah dirinya berada di tengah- tengah keramaian lagi .seseorang yang baru di kenalnya menyapanya, Alhasil Mayra menoleh dan mendapati sosok perempuan cantik berjalan menghampirinya*.