
Dirumah sakit Rv medika tampak ramai, dikarenakan kedatangan keluarga besar Addison Tuan Arkan, Nyonya Talia dan jangan lupakan si kecil Aryan, Mereka menyusuri koridor rumah sakit mencari ruangan seseorang yang sangat disayangi seperti keluarganya sendiri. Perasaan bersalah menyeruak di hati sang Nyonya besar akibat kesalah pahaman.
Revan yang tengah melintas menghampiri keluarga Addison yang nampak kebingungan mencari sesuatu.
''Permisi Tuan dan Nyonya, ada yang bisa saya bantu??'' Tanya Revan.
''Begini Nak kami mencari kamar Aaron katanya tadi pagi dirawat disini.'' Sahut Talia.
''Ow Aaron . Apakah anda orang tua Aaron??'' Tanya Revan lagi.
''Iya benar'' Sahut Talia lagi.
''Perkenalkan saya sahabat Aaron nyonya, kebetulan Aaron saya yang menangani juga.'' Timpal
''Ow sahabatnya berarti sahabat Ben juga ya??'' Tanya Arkan. Orang tua Aaron memang tak mengetahui para sahabat Aaron yang mereka tau hanya Benlah sahabat si sulung. Maklumlah si Aaron kan orangnya dulu menutupi semuanya dari semua orang bukan hanya wanita yang dicintainya, orang tuanyapun sama.
''Tentu Tuan. Mari saya antarkan ke kamar Aaron'' Sahut Revan.
Mengikuti langkah Revan sesekali berbincang- bincang dengan anak muda yang sukses dengan kecerdasaan yang dimiliki membuat seorang Arkan bangga apalagi orang tuanya.
ceklekkkk...
Aaron dan Tiara menoleh ke sumber suara, Memastikan siapa yang membuka pintu.
'' Papa ,Bunda.'' Aaron beranjak dari kursi menghampiri Papa dan Bundanya tak lupa menyalaminya.
''Gimana keadaannya son??'' Arkan bertanya mendekati brankar Maya. Mereka mengetahui keadaan Maya karna Aaron telah menceritakan semuanya kepada sang papa lewat handpone. Mengetahui hal itu membuat Talia bergegas ke rumah sakit untuk melihat langsung keadaan Maya yang sudah dianggap putrinya sendiri.
''Masih belum siuman pa, Mungkin dia masih syok apalagi kata dokter kemarin dia mengalami mimisan hebat akibat tamparan dari bunda. Mungkin ini juga dampaknya pa , Dia lama bangunnya.'' Tutur Aaron dengan suara melemah. Dia begitu sedih melihat kekasihnya tak berdaya.
Talia meneteskan air mata, Akibat kesalah pahaman membuat ia begitu emosi hingga menyakiti putri tersayangnya. Ia memeluk tubuh Maya meski dalam keadaan mata tertutup, Talia menangis sesegukan dalam pelukan Maya.
''Maya hanya syok Nyonya keadaan kemaren belum pulih dan sekarang di tambah masalah lagi, Sehingga dia berfikir ektra. Disini masalahnya Maya tidak bisa berfikir terlalu berat itu akan mengakibatkan dirinya pusing dan drop lagi.'' Papar Revan.
Maya mulai mengerjabkan matanya setelah setengah jam tak sadarkan diri. Ia mendengar sekelilingnya begitu ramai sehingga tak menyadari bahwa dirinya telah membuka mata.
Tiara melihat sekilas ke arah brankar, Ia melihat Maya membuka matanya namun ia seperti melamun menatap dengan pandangan kosong.
'' May lu udah sadar May.??'' Tanya Tiara. Membuat yang berada disana mengalihkan pandangannya ke arah Maya.
''Sayang'' Aaron berjalan mendekati Maya yang masih dengan tatapan kosongnya.
''Sayang kamu dengar aku kan??'' Tanya Aaron lagi Ia menggenggam tangan Maya, sekilas mencium pucuk kepala sang kekasih.
''Aku gak apa- apa A. Hanya capek'' Akhirnya Maya menjawab ia pandangi lelaki yang begitu sabar menanti cintanya meskipun sudah dikecewakan beberapa kali oleh dirinya.
''Kenapa sayang???'' Tanya Aaron ketika mendapati Maya memandang dirinya.
''Wanita yang mendapingi dirimu kelak pasti beruntung A memiliki pria sabar sepertimu.'' Ungkap Maya dengan mata yang mulai memanas.
''Dan wanita itu dirimu sayang.'' Timpal Aaron mencium kening Maya.
''Lupakan aku A. Aku gak pantas buat kamu, benar apa yang dikatakan bunda kalau kamu akan kehilangan arah jika bersamaku. Aku yang menye....''
''Nakk'' Suara Talia menahan tangisnya. Maya membulatkan matanya melihat Talia juga berada disana , Ia berusaha bangun meski badannya masih lemah.
''Bun... Tante. Maaf Tan aku gak ada niat mengganggu Aa lagi Tan. Aku hanya..'' Ucapan Maya terpotong lagi.
Talia memeluk Maya dengan erat meminta maaf atas segala tindakan yang telah ia perbuat. Ia menyesal sungguh merasa menyesal karna emosi ia membuat kesalahan fatal.