
Rangga mengebrak meja kebesarannya dangan keras membuat pengawal yang berada di depannya terlonjak kaget. Bukan apa- apa dirinya marah, sebab pengawal yang ia suruh mengintai wanitanya dan membawa kehadapannya gagal total karena kebodohannya yang tak bisa mengatur strategi terbaik.
"Maafkan saya tuan tadi nona sebenarnya tengah sendirian tapi ada seseorang yang menghampiri dan membawanya pergi..."
"Akhhhh... hentikan bualanmu bodoh." Sergah Rangga melempar benda apa saja yang bisa tangganya gapai.
***Prangggg...
prangg....
pranggggg...
"Maya kamu membuatku gila.." Teriak Rangga sembari menendang meja di depannya hingga terbalik***.
"Pergi kau brengsek, Dasar tak becus." Bentak Rangga lagi pada pengawal yang gemetaran dengan tingkah Rangga yang menurutnya berlebihan hanya karna seorang wanita.
"B-aik tuan." Ujar Pengawal membungkuk dan berlalu dari ruangan Rangga dengan perasaan lega. Tubuhnya aman tanpa luka lebam di sebabkan amukan dari Rangga. Biasaanya Rangga akan mengamuk dan memukul membabi buta pada pengawalnya jika apa yang di inginkannya tak tercapai.
"***Tertawalah dahulu cantik, Esok kita liat apakah dirimu bisa tertawa lagi setelah ini." Batin Rangga menyeringai, memandangi potret wanita cantik yang tengah tersenyum di pangkuannya.
"Aku kurang apa hah.... Kenapa kamu susah sekali membuka hatimu untukku, Segitu tak pantasnya diriku bersanding denganmu cantik. Kamu jahat, bener- bener jahat."
Prangggg***...
Tanpa perasaan Rangga membanting bingkai foto yang terdapat ia dan wanita yang membuatnya gila. Entah bagaimana nanti jika Rangga sampai berhasil membawa Maya kehadapannya, Akankah Maya akan mati di tangan Rangga dengan tragis.
"Dasarr jalangggg" Teriak Rangga menggelegar di ruangan kerjanya.
......................
...****************...
...----------------...
Setelah perdebatan di ruangan Tiara, Kekonyolan keempat sahabat tersebut membuatnya melupakan pertanyaan yang sedari tadi masih terngiang- ngiang di kepala Maya. Namun setelah bubarnya keempat sahabat tersebut, entah mengapa rasa penasaran itu kembali muncul lagi di benaknya tentang, siapakah wanita itu .Bagaimana tidak penasaran jika seorang wanita mendatangi meja dan dengan lancangnya memanggil sayang pada suaminya. Dan yang lebih parahnya lagi mencium suaminya di depan mata kepalanya.
Meskipun dalan benaknya mengatakan jika wanita tersebut mantan sang suami namun perkataan suaminya sendirilah yang membuatnya semakin bingung. Jika memang Aaron tak mencintainya mengapa si wanita tadi masih kekeh dengan keadaannya yang takkan mampu membuat Aaron mencintainya.
Dalam perjalanan pulang Maya tengah memikirkan sesuatu yang menurutnya sangat sulit sekali terpecahkan. Sebelum tokoh utamanya sendirilah yang mampu berterus terang.
"Hummy ada apa.?" Tanya Aaron memegang sebelah tangan Maya, ia sedari tadi bingung dengan sikap Maya setelah pulang dari rumah sakit karena dirinya hanya diam saja.
"Gak apa- apa by." Ucap Maya menoleh sekilas ke arah Aaron kemudian memandang keluar cendela kembali.
"Aku ada salah.?" Tanya Aaron segera menepikan mobilnya, ia takut jika dalam mode seperti ini dirinya tak bisa mengontrol kecepatan mobilnya.
Usai menepi, Aaron menarik dagu Maya agar melihatnya dengan jelas. Setaunya dia tak ada salah pada sang istri tetapi sikap istrinya sangat berbeda dari biasanya.
"Ada apa hmmm... kasih tau aku." Ujar Aaron semakin mendekatkan tubuhnya ke arah sang istri meski terhalang dasbord tak membuat niatnya diurungkan.
"Aku mau kamu jujur by."
"Tentang."
"Siapa wanita yang menciumu di restoran tadi."
"Dengarkan aku sayang, Dulu semasa kuliah aku dan dia berteman di perancis sempat terbesit sih mau menjadikan dia teman hidupku." Ucap Aaron melirik ke arah Maya yang nampak cemberut.
"Tapi yang harus kamu tau, Setelah aku mengenalmu dan meninggalkanmu karena Noah yang dengan liciknya menikungmu dari ku, Padahal dia tau kalau kamu dan aku saling cinta malah dia ngancem kamu." Tutur Aaron, ia masih berharap ingatan Maya pulih meskipun diri Maya sudah menjadi miliknya.
"Ihhh jangan kemana- mana kalau cerita to the point aja siapa dia by, Jangan bawa- bawa noah juga. Dia pasti bersin." Cecar Maya menahan kesal, Dirinya sudah sangat penasaran dengan wanita tadi, kini Aaron malah bercerita tentang yang lainnya.
"Iya- iya gak sabaran banget."
"Aku dulu pernah di jodohin sama dia tapi aku gak maulah, aku aja gak bisa move on dari masalalu. Padahal sudah 6 tahun aku berusaha melupakan wanita itu tapi gak bisa, Dia terlalu dalam menanam bibit cintanya di hatiku."
"Begitukah, Siapa wanitanya by. Terus kenapa kamu malah nikahin aku sih by jahat banget, Atau jangan- jangan kamu sengaja buat aku jadi pelarian yah atau kamu ngambil kesempatan mumpung aku lupa ingatan. By kamu jahat banget sihh." cecar Maya memukul lengan Aaron dari samping.
Dengan sigap Aaron menggenggam tangan Maya, Bukannya sakit yang ia rasakan tetapi sebuah senyuman kebahagian. Sengaja memang menggantung ucapannya agar sang istri berekpetasi sendiri.
"Dengar dulu dong jangan main nuduh aja." Ucap Aaron menghentikan aktivitas tangan Maya.
"Apaan coba, Dasar nyebelin." Umpat Maya.
"Wanita itu kamu sayang, 6 tahun aku hidup di perancis agar bisa melupakanmu. Berjauhan dengan keluarga tak membuat niatku goyah. Hanya satu yang ku mau, melupakanmu. melupakan kenangan kita" Ucap Aaron menatap intens netra sang istri. Namun tetap sama, membuat Maya kebingungan dengan ceritanya.
"Aku by, kenapa kamu ingin melupakanku? Lalu selama itukah kamu berusaha menghindar dari keluarga dan semuanya hanya untuk melupakan aku." Cecar Maya.
"Ya, tapi nihil kamu wanita pertama yang membuatku tak bisa lepas dengan bayang- bayanganmu." Ucap Aaron membelai pipi Maya dengan lembut.
"dulunya aku berfikir bahwa aku benci sama kamu karna kamu memilih Noah dari pada aku padahal jelas- jelas kita pernah saling mengungkapkan perasaan tapi kamu malah menjadi kekasih Noah."
"Noahnya suami Tiara maksut kamu?."
"Iyalah siapa lagi."
"Oh my, Kok bisa gitu sih. Dia kan sahabat kamu kok bisa aku oh Tuhan, Jahat banget aku dulu ya by sama kamu."
" Enggak juga Hummy, Kamu malah ngelindungi aku. Aku baru tahu fakta itu ketika aku kembali dari perancis, dan kamu menceritakan semuanya sama aku."
Dengan asiknya mereka berdua bercerita ria dan tanpa terasa malam semakin larut dan jalanan sudah semakin lenggang. Mereka masih serius membahas sesuatu yang terlupakan oleh ingatan Maya hingga membuat mereka melupakan tempat dan keberadaannya saat ini.
Tempat sepi dan tak ada pemukiman ataupun hilir mudik kendaraan yang menlintas, Hingga membuat Gampangnya seseorang melancarkan aksi kejahatan.
***Tookkk.... tokkk....
Mereka berdua terjingkat kaget ketika mobil yang mereka tumpangi di ketuk dengan kerasnya oleh orang tak dikenalnya. Pria memakai pakaian hitam dan teropong yang hanya memperlihatkan matanya.
"By siapa mereka." Tanya Maya ketakutan sembari memegang lengan Aaron.
"jangan panik sayang, Tetep di dalam dan apapun yang terjadi nanti kamu jangan keluar. Kalau ada apa- apa nanti denganku hubungi Ben dan minta bantuannya. Kamu mengerti sayang." Papar Ben menenangkan sang istri yang sudah berlinang air mata.
"By jangan, Aku takut mereka..."
"Sssttt jangan berfikir negatif, Aku minta doamu."
cupp.
Satu kecupan mendarat sempurna di kening Maya menyalurkan bahwa semua akan baik- baik saja***.