Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Mengantarkan keperistirahatan terakhir



Semua keluarga Addison sedang sibuk mempersiapkan pemakaman si sulung Aaron Addison. Baik Maya ataupun Talia mereka nampak menangis tersedu- sedu di samping liang lahat yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Aaron.


Begitupun keluarga dan para sahabat baiknya yang merasakan kehilangan sesosok orang terpenting dalam kehidupannya.


Jasad yang sudah dikafani hendak di kebumikan namun Maya seakan enggan melihat untuk yang terakhir kalinya. Bukannya tak mau melihat sang suami ke peristirahatan terakhir namun rasa nyeri pada perutnya membuatnya memalingkan wajahnya dan semakin mengeratkan cengkeraman pada bahu Tiara.


Tiara menoleh pada sang sahabat yang nampak bercucuran seperti tengah menahan rasa sakit entah itu apa.


"Kenapa May?." Tanya Tiara berbisik di telinga Tiara.


"Aku gak apa- apa ra." Ujar Maya pelan dengan menggigit bibir bawahnya kuat- kuat agar tak membuat orang- orang disekitarnya tak kebingungan.


"Kalau lu baik lihatlah kesana , Suami lu mau ditutupi tanah itu." Terang Tiara kala Maya masih memalingkan wajahnya.


Dengan pelan Maya menoleh ke arah liang lahat yang sudah di tutupi tanah tersebut. Air matanya tak mampu lagi di tahannya kala tubuh Aaron sudah berada di dalam tanah.


"Inikah caramu membalas keegoisanku by." Batin Maya menghapus air mata yang membasahi pipinya. Walau dirinya tak mengiklaskan kepergian Aaron , Namun apapun itu alasannya Maya harus ikhlas dan pasrah dengan kodrat yang sudah di tentukan olehNya.


Maya kini sadar bahwa kematiaan seseorang harus bisa di ikhlaskan agar perjalanan menunju syurgaNya di permudahkan. Apalagi seseorang itu adalah pria tersepesial di hatinya.


Semua pelayat sudah pergi dari tempat peristirahatan Aaron hanya kedua orang tua dan sahabat yang masih memanjatkan doa agar semua kebaikan diterima disisinya. Dengan hati yang kehilangan tak mampu mengurungkan niatnya untuk mendoakan sang pemilik pusara tersebut.


Maya hanya memandang ke arah pusara dengan nisan bertuliskan Aaron Addison. Tatapan kehilangan tak mampu ditutupinya walau dengan senyuman sekalipun.


Setelah usai berdoa, Mereka meninggalkan pusara tersebut dengan keadaan yang memilukan hingga suara Tiara membuat yang berada disana menoleh ke arah wanita yang masih setia berdiri di depan pusaran suami tercintanya.


"May yuk pulang." Ajak Tiara mengapit lengan Maya agar ikut dengannya.


"Maaf ra, aku mau disini dulu. Pergilah jangan khawatirkan aku." Ujar Maya melepaskan apitan tangan Tiara.


"Nak ayok pulang, ikhlaskan nak Aaron jangan biarkan dia terbebani dengan sikap kamu ini nak." Sahut Tio menghampiri putrinya dalam keadaan rapuhnya.


"Aku sudah ikhlas yah tapi aku masih ingin disini," Ucap Maya tanpa melihat ke arah ayahnya.


"Baiklah tapi cepatlah pulang, tak baik wanita hamil sendirian disini apalagi akan turun hujan nak." Papar Tio mengelus bahu Maya.


Dirinya sangat tau bagaimana perasaan anaknya saat ini karena ia juga pernah merasakan kehilang sesosok wanita yang begitu di cintainya untuk selamanya.


Mereka akhirnya meninggalkan Maya yang enggan melihat kepergian mereka. Air mata kembali mencelos takkala kenangan manis bersama Aaron melintas diingatannya.


"Kamu ninggalin aku by, Ninggalin bayi yang belum tau rupa ayahnya. Apa segini bencinya kamu pada anakmu ini by hingga tak mau menunggu kedatangan buah cinta kita, anak kita by. Dia perlu kamu by huhuuu." Ucap Maya membelai nisan dengan kerapuhan hatinya.


"Kamu tau by, Aku sebenarnya gak mau mengucapkan kata- kata yang membuatmu sakit hati. Tapi saat itu aku sangat kecewa sama kamu hingga kata- kata itu meluncur dengan sempurna dari bibirku." Ucap Maya lagi dengan menarik nafas dalam- dalam kala sakit di perutnya kembali datang dan semakin menggila.


"Aw.. kenapa lagi ini." Rintih Maya memegang perutnya.


"By aku kesakitan dan sekarang aku sendiri disini. Aku harus gimana by Awww..." Timpal Maya lagi, walau tak ada yang menyautnya tak mengurungkan niatnya untuk mencurahkan isi hatinya pada sang pemilik pusara.


"By aku Aww pulang dulu ya Mmpp A-ku mau cek ke dokter aww ya by." Ucap Maya tergagap kala rasa sakitnya semakin membuatnya tak berdaya.


Ingin bangkitpun dirinya tak bisa ketika rasa sakit itu terus saja membuatnya seperti mati rasa.


"Tuhan t-olong aku dan anakku Awww.." Rintih yang kesekian kalinya namun kali ini air hujan mulai merintik membasahi bumi.


Maya seakan tak peduli dengan kesakitannya, dirinya mempererat pelukannya pada nisan sang suami. Air hujan yang tadinya hanya gerimis kini meluncur membasahi bumi dengan derasnya apalagi di tambah petir menyambar kesana- kemari. Tak mampu membuat Maya bangkit dari posisinya selain dirinya kesulitan berdiri karena perutnya sakit, dirinya juga masih ingin menemani sang suami di tempat peristirahatan terakhirnya.


Maya mengerutkan keningnya kala tubuhnya yang sedari tadi di basahi oleh rintikan air hujan kini sepertinya sudah tak ada. Tetapi kenapa hanya di tempatnya yang reda, Maya mendongak ternyata sebuah payung besar telah menghalau tubuh rapuh yang basah akan air hujan.


"Kamuu..." Ucap Maya dengan suara tercekat di tenggorokannya.


Maya geram pada pria di hadapannya ini, apa dirinya tak mempunyai rasa malu ketika telah melukai Aaron dan masih dengan santainya muncul di hadapannya.


"Cantik jangan menyakiti dirimu sendiri." Ucap Rangga berjongkok di hadapan Maya sembari memegang payung agar tak semakin membuat Maya basah oleh air hujan.


"Gak usah sok baik kamu, aku tau kamu seneng kan liat suamiku mati hah.. kamu bahagia kerena rencanamu berhasil membuat hidupku menderita." Bentak Maya tak menghiraukan rasa sakitnya yang membuat kepalanya pening.


Rangga membuang payung dan dengan gerakan cepat menarik Maya dalam dekapannya. Tak peduli jas mahalnya akan kotor dan basah karena ulahnya. Yang terpeting baginya mendapat kepercayaan dari si wanita hamil di depannya kini.


"Bukan aku yang melakukannya cantik, Meskipun aku membencinya tapi aku masih bisa berfikir rasional apalagi dengan menggunakan hal licik seperti ini, Sungguh itu bukan aku." Papar Rangga semakin mendekap erat tubuh Maya kala tangan Maya berusaha menjauhkan tubuhnya agar tak disentuh oleh Rangga.


"Aku akan lapor ke Awwww..." Ucap Maya terpotong kala perutnya semakin menyakitinya dan tak bisa di tahannya.


"Cantik kenapa?" Tanya Rangga kala Maya memegang perut ratanya dengan wajah kesakitannya.


"Jangan mendekat Ngga Aww P-erg...." Maya limbung dengan spontan Rangga membawanya ke pelukannya agar tubuh Maya tak sampai menyentuh tanah.


"Cantik bangun." Ucap Rangga menepuk pelan pipinya dengan penuh kekhawatiran. Dengan keadaan basah kuyup Rangga membawa Maya ke dalam gendongannya. Membawanya ke rumah sakit agar sang cantiknya mendapat pertolongan pertama tak peduli dengan pakaian yang di kenakannya.