
Setelah kejadian Noah dan Revan bertengkar di bar. Noah kembali menegguk dua botol bir hingga membuat kesadarannya hampir hilang . Noah mengenderai mobilnya yang terkesan ugal- ugalan memecah keramain ibukota. Ia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apertement yang di tempati sang kekasih。
Noah turun dari mobil bergegas menuju lift dengan berjalan sempoyongan.
Tokk...tokkk.tookkk.
''Siaapp.....'' Ucapan Tiara terputus ketika mendapati orang yang sangat di bencinya berada di hadapannya.
'' Sayang aku merindukanmu.'' Ucap Noah sambil memeluk Tiara yang dia kira kekasihnya. Memeluk dengan erat seperti takut untuk kehilangan.
''Noahh lepas ,gua bukan Maya brengsek.'' Umpat Tiara. Noah melepas pelukannya menelisik wajah yang menurutnya tadi adalah kekasihnya. Namun seketika kesadarannya kembali namun dirinya mengeram dengan apa yang dilakukannya. Noah mencengkram dagu Tiara dengan kuat hingga membuat wajah Tiara pucat dengan kelakuan Noah.
''Lu tau kan kalau gua cinta banget sama Maya'' Ucap Noah dengan penuh api kemarahannya apalagi tangan itu semakn mencekram erat dagu Tiara.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Noah. Ia tak tau harus berbuat apa karna tenaga Noah sangat kuat mengintimidasinya.
''Lalu kenapa lu lempar tubuh lu di ranjang gua hah.'' Bentak Noah dengan tatapan nyalangnya dan semakin kuat mencengkram dagu Tiara hingga menimbulkan warna merah keabuan di dagu itu.
''Saakkiiittt. Noahhh.'' Rintih Tiara dengan meneteskan air mata yang tanpa izin meluncur dipermukaan pipinya.
'' Luuu Maabbbbuukk Nnooahhh.'' Ucapan Tiara tergagap sembari mencium bau alkohol dari diri Noah. Tiara sangat yakin jika Noah dalam keadaan mabuk karena memang dirinya sangat hafal betul dengan kondisi orang mabuk.
'' Lu udah ngerasa hebat nglayani di atas ranjang hah... jawab gua ******.'' Bentak Noah lagi ia melepas cengkramannya dengan menghempaskan wajah itu kesamping.
Noah dengan kasar merobek baju Tiara hingga lengan bajunya sobek. Tiara tak tinggal diam, Dia berusaha memberontak tapi usahanya sia- sia. Ketika Noah berusaha membuka kancing bajunya, Tiara dengan sigap mendorong tubuh Noah hingga terjunggal kebelakang. Tiara segera berlari keluar apertemen mencari pertolongan dengan berlari sekuat tenaga . Agar Noah tak bisa menyusulnya langkah larinya yang terkesan agak lambat. Ketika Tiara sudah berada di trotoar jalan, Ia melihat Noah masih mengejarnya . Tiara segera memberhentikan taxi yang tengah melintas di depannya agar Noah tak mengejarnya lagi. Dan berhasil Noah tak lagi mengejarnya kala Tiara sudah berada dalam mobil dengan nafas tersenggal- senggal.
''Gua gak sudi Maya sampek nikah sama sibajingan itu. Gua lebih setuju Maya sama si Aaron meskipun gua belum tau orangnya tapi gua yakin Aaron jodoh Maya. Dan gua pastiin si bajingan itu bakalan menangis darah melihat orang yang dicintainya menikah dengan sahabatnya. Gua harus resign dari kantor itu bisa mati gua kalau terus sekantor sama bajingan.''' Batin Tiara berperang dengan pikirannya.
Sudah cukup sekali Noah menginjak harga dirinya hingga Tiara terlena dengan sentuhan yang Noah berikan. Penuh kelembutan namun yang disayangkan Noah mendesah nama sahabatnya.
''Kita kemana Non'??'' Tanya sang sopir taxi yang melihat Tiara tengah melamun seperti tengah memikirkan sesuatu.
''Eh... Kita ke Jalaan ini ya pak.'' Tiara menunjukkan kertas yang berisi alamat rumah temannya.
...----------------...
Sinar matahari sudah mengeluarkan cahayanya . Burung- burungpun sudah berkicau menari kasana kemari. Aaron berusaha mengumpulkan kesadarannya ketika sang surya menyorot dirinya lewat cendela.
Ia bergegas membersihkan tubuhnya karna hari ini adalah hari yang spesial buatnya. Ia akan berusaha membuat Maya nyaman kembali ketika bersamanya seperti dulu. Mungkin Maya akan memberi kesempatan untuknya kala rasa nyaman itu kembali muncul dan menerima Aaron untuk menjadi pendampingnya.
Setelah semua sudah beres, Aaron melangkah keluar menuju kamar kekasihnya. Diketuknya kamar itu namun tak ada sahutan dari dalam .
''Sayang buka pintunya.'' Ucap Aaron mengetuk pintu kembali. Aaron menarik handle pintu namun hasilnya tak terkunci. Aaron melenggang masuk ke dalam kamar kekasihnya yang sunyi dan sepi. Tak ada siapa- siapa di sana semuanya masih nampak rapi, mungkinkah Maya pergi darinya lagi seperti dulu fikir Aaron.
Kekhawatiran kini melanda hati Aaron fikirannya bermacam- macam sudah bersarang di kepalanya. Apakah Maya diculik, Atau dia pergi meninggalkan dirinya lagi. Aaron menggelengkan kepala sembari berfikir positif itu paling penting dibenaknya.