Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Terbangun



Sudah berjam- jam lamanya Maya belum sadarkan diri. Dan sudah berjam- jam juga mereka menunggu dengan gelisahnya. Kala dokter yang biasanya menangani Maya tak kunjung keluar dari dalam kamar yang pintunya masih setia tertutup rapat.


Aaron bersandar di dinding dekat pintu dengan perasaan gusar. Aaron menyalahkan dirinya hingga membuat Maya tak sadarkan diri.


Semua keluarga inti Addison sangat bahagia atas apa yang terjadi , apalagi anak sulung dari Arkan Addison telah kembali dalam keadaan baik- baik saja. Walau beberapa bulan belakangan ini membuat Talia berusaha menguatkan hatinya untuk menerima kenyataannya. Namun Tuhan masih berbaik hati padanya dengan membawa Aaron kembali ke tengah- tengah mereka.


Talia, Arkan dan Tio juga berharap- harap cemas kala Aaron masih gelisah di depan pintu kamar. Sesekali dia juga ingin mendobrak pintu yang tak terbuka hingga berjam- jam itu, namun Talia menenangkannya dengan pelukan kasih sayangnya.


"Sabar nak, jangan mudah gegabah. Dokter itu sudah menjadi teman Maya setelah kamu pergi." Ujar Talia mengusap punggung Aaron yang semakin kekar dan berotot itu.


"Tapi aku khawatir bun." balas Aaron membalas pelukan Talia .


"Mengertilah nak, Maya masih syok. Mungkin dokternya masih menasehatinya. Tolong kendalikan emosimu." Pinta Talia melerai pelukannya dan memandang lekat wajah sang buah hati yang teramat dirindukannya.


Ceklekkk..


*Semua yang mendengar pintu terbuka sontak melihat ke arah pintu tak terkecuali Aaron yang langsung mencecar sang dokter.


"Lama sekali dirimu hah.?" Sergah Aaron kala tubuh snag dokter sudah berada di luar, dirinya menutup pintu agar seseorang yang ada di dalam sana tak mendenamgar kebisingan di luar kamar.


"Maaf para tuan dan Nyonya. May ehh maksut saya nona Maya masih shock atas apa yang di alaminya tapi tenang saja, saya sudah memberi pengertian pada nona. Dan sekarang nona ingin bertemu dengab tuan Aaron." Papar Dokter Elea yang sudah berbulan- bulan menangani kehamilan Maya hingga bisa menjadi teman bagi seorang Maya Afriaresa.


Aaron bergegas masuk ke dalam kamar Maya yang empunya berusaha mendudukkan dirinya di kepala ranjang. Dirinya begitu kaget kala tubuhnya sudah terhuyung ke depan dan di persekian detik dekapan hangat nan lembut menerpanya.


"Hubby." Ucap Maya tergugu kala yang mendekapnya adalah seorang yang teramat di rindukannya*. Masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya namun dekapan hangat itu membuatnya seakan harus dipaksa mempercayai semuanya.


"Iya sayang ini aku Hubby, Suamimu." Ujar Aaron membelai rambut hitam milik sang istri.


Maya melerai pelukannya dan tangannya menangkup wajah Aaron yang sangat dirindukannya ini. Takdir selalu mempermainkannya hingga suami yang di anggapnya mati kini kembali lagi kedekapannya.


"Kamu masih hidup ,lalu siapa yang dikebumikan itu. T- api aku melihat sendiri jika jenazah itu kamu by." Ujar Maya masih mencoba mengelak karena dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Aaron tersenyum manis dengan mata tak hentinya menatap lekat wajah sang istri. Digenggamnya tangan wanita yang sangat dicintainya kala tangan itu mengusap lembut pipinya.


Ia mengecupnya dengan mata terpejam, menikmati kerinduan yang mendalam dalam dirinya pada sang istri.


"Ceritanya panjang sayang, Adek Daddy kembali dek. Jangan nakal ya di perut Mommy." Ucap Aaron dengan menyapa ke arah perut buncit Maya tak lupa mengusapnya.


"By..." Seru Maya kembali menubruk dada bidang Aaron yang tak lagi seperti dulu. Otot- otot yang sekarang lebih menonjol dari pada yang dulu apalagi dadanya yang ada banyak roti sobeknya.


"Udah sayang, ini aku suamimu. Jangan nangis dong, kasian babynya." Ujar Aaron menangkup wajah yang sudah basah oleh air matanya.


Cuppppp....


Aaron mengecup lama kening sang istri dengan begitu intennya, Maya pasrah dengan perlakuan yang Aaron berikan. Karena dirinya juga sangat merindukan sentuhan itu.


Bibir Aaron kembali mendarat sempurna di benda lunak dan manis milik Maya, namun belum sempat kedua bibir itu bertemu suara seseorang membuat mereka menoleh ke arah pintu.


"Ehemmmm, langsung gaskeun." Seru Ben membuka lebar pintu kamar dan disusul oleh Noah, Tiara , Arkan, dan yang lainnya.


Aaron memutar matanya jengah kala Ben menjadi manusia yang selalu membuatnya gagal dalam aktivitasnya.


"Lu ganggu mulu sih Ben." Ujar Noah mendorong bahu Ben hingga empunya terhuyung ke samping.


"Jangan mas, kasian tau." Sahut Tiara menegur sang suami kala Ben sampai membentur dinding.


Noah mencebikkan bibirnya kesal karena Tiara membela Ben temannya. membuat yang ada disana tersenyum simpul , bahagia kala keluarganya kembali seperti sedia kala.


Dalam keadaan yang sangat bahagia kala salah satu keluarga telah kembali berkumpul. Setelah berbulan- bulan kesepian dengan keheningan yang teramat menyiksa.


"Kebiasaan si Noah mah syirik banget sama gua." Seru Ben duduk di belakang Aaron , karena posisinya sekarang Aaron berhadapan dengan Maya sehingga tubuhnya membelakangi Ben.


Maya teringat kala dulu Ben pernah memarahinya dengan teganya, kini giliran Maya yang akan membuat Ben ketakutan atas ulahnya. Rasa dongkolnya bisa dirasakaannya sampai saat ini kala dirinya bertemu dengan Ben.


"Hubby, aku sering dimarahin sama Ben." Ujar Maya menenggelamkan wajahnya di dada Aaron.


Noah dan Ben mendelik dan saling pandang kala Maya masih membahas perihal itu, dan itupun juga sudah berlalu. Namun rasanya Maya sengaja membalaskan dendamnya lewat Aaron sang suami.


Aaron spontan menengok kebelakang melihat ke arah Ben yang sedang memelototkan matanya. Dirinya kaget kala namanya terucap dari bibir Maya dengan gamblangnya.


Ben melihat sekilas wajah Aaron yang nampak masam melihatnya. Dirinya hanya mampu menampakkan cengiran khasnya yang diyakininya mampu membuat Aaron luluh dan takkan marah padanya.


"Ben.." Suara bariton Aaron membuat sang pemilik nama terlonjak kaget saking tegangnya.


Aaron mengapit kepala Ben dengan erat, ingin mendengar sendiri alasan yang akan Ben berikan karena telah menyakiti wanita tercintanya.


"Aw Aaron gua gak sengaja sumpah." Seru Ben menahan lengan Aaron karna terlalu kencang apitan itu.


"Sayang dengar kan? Dia gak sengaja." Sahut Aaron menengok ke arah Maya yang menahan tawanya karena sudah puas melihat Ben menderita.


"Mana ada sengaja berkali- kali by. Aku sakit hati loh." Ujar Maya masih terus mengompori Aaron agar tetap melanjutkan aktivitasnya.


"Suer May gua gak sengaja.." Timpal Ben terus berusaha meyakini.


Aaron semakin mempererat apitannya dengan Noah yang ikut membantu memegang kaki Ben dan menggelitikinya. Tawa Ben lepas kala kakinya sudah tak beralas dan kini menjadi sasaran empuk kedua sahabatnya. Menahan sakit dan geli menjadi satu di tubuhnya, Sungguh kebahagiaan ini yang dirindukan sejak lima bulan terakhir ini.


Karena semenjak kepergian Aaron, Baik Ben dan Noah menjadi pribadi yang sangat dingin dan datar.


Namun kini semuanya sirna kala Aaron sudah kembali di tengah- tengah mereka lagi.