
Dengan tampang yang acak- acakkan apalagi pakaian yang di kenakan sudah basah kuyub tak membuat Rangga mengurungkan niatnya membawa Maya ke rumah sakit.
Hatinya gelisah melihat wanita yang selalu dipujanya dalam keadaan tak sadar dalam gendongannya.
"Dokter cepat." Teriak Rangga kala dokter mendorong brangkar ke arah ruangan IGD dengan terburu- buru karna Rangga tak henti- hentinya membentaknya.
Setelah sampai di depan ruangan seorang perawat wanita menghentikan Rangga agar tak ikut masuk ke dalam ruangan khusus pasien ,dokter dan perawat saja yang bisa masuk.
"Jangan menghalanhiku *****." Umpat Rangga menodongkan pistol ke arah kepala sang perawat. Hingga membuat sang perawat bergetar kala pistol tersebut menempel sempurna di dahinya.
Sehingga mau tak mau Rangga di persilahkan masuk menemani Maya karena mereka takut akan ada korban kala apa yang di mau Rangga tidak dipenuhi.
"Orang gila apa gimana ini orang serem banget." Batin Sang perawat kala sekilas dirinya melihat ke arah Rangga yang terus saja menggenggam tangan Maya.
Dokter memeriksa secara hati- hati takutnya akan terjadi kesalahan dan menimbulkan nyawanya akan terancam.
"Bagaimana keadaannya." Sergah Rangga ketika Dokter membuka stetoskop yang menempel di telinganya
"Istri anda asam lambungnya kambuh tuan, apalagi dalam keadaan hamil ini membuatnya kekurangan asupan gizi jika tak teratur makannya. Dan lagi karena efek berfikir terlalu keras sehingga membuatnya pingsan seperti ini tuan." Papar Dokter yang bertag joe panjang lebar. Rangga menyimak dengan mengangguk- anggukkan kepala mendengar penjelasan dokter.
Rangga mengalihkan pandangannya ke arah Maya yang masih setia memejamkan matanya. Setelah tadi sudah di ganti pakaian basahnya oleh suster, entah mengapa rasa dingin pada tubuh Maya seakan membuat hati Rangga nyeri.
Dirinya mengaku bersalah atas apa yang dilakukannya pada wanita yang tengah terbaring di hadapannya ini.
Maya mengerjabkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk pada retina matanya. Bau obat dan dinding putih khas rumah saking langsung tertangkap oleh matanya dan indera penciumannya.
"Cantik kamu sadar." Tanya Rangga yang masih setia menggenggam tangan Maya.
Maya yang masih belum sadar sepenuhnya terjingkat kaget kala pendengrannya menangkap suara yang harus di hindarinya.
Maya tak mau berurusan lagi dengan Rangga dan dirinya berencana menjebloskan Rangga ke penjara untuk mempertanggungkan perbuatannya yang sudah membunuh suaminya Aaron.
"Pergii.." Teriak Maya kala Ranggalah yang dilihatnya.
"Cantik, kenapa?" Tanya Rangga kebingungan ketika Maya berteriak.
"Pergi... jangan ganggu hidupku lagi ngga pergi." Papar Maya berusaha mendorong tubuh kekar pria di hadapannya kala Rangga menenangkan dengan memeluknya.
"Tolong dengerin dulu cantik, Bukan aku yang membunuh suamimu . Aku bersumpah akan hal itu, bukan aku cantik." Terang Aren mendekap erat Maya yang masih menangis histeris.
Maya kembali pingsan dalam dekapan Rangga, Sungguh raganya dan jiwanya berasa mati besamaan dengan jasad sang suami yang sudah di kebumikan.
Capek fikiran dan juga fisik belum lagi dengan janin yang bermasalah di rahimnya membuat Maya sangatlah tersiksa apalagi sosok penyemangatnya sudah pergi meninggalkannya.
"Dokter bangsattt." Teriak Rangga ketika dokter tak ada yang datang ke ruangannya.
"Cantik jangan seperti ini, kamu juga menyiksaku cantik." Timpal Rangga mencium kening Maya dengan bulir bening meluruh di pipinya.
Hingga di beberapa menit, para dokter dan perawat berbondong- bondong memasuki ruangan Maya dengan segala kepanikannya.
Mereka seperti itu kala para bodyguard Rangga mendatangi ruangan si dokter dengan pistol di tangannya. Hingga dokter dan perawatpun di buat gemetaran dengan tidakan itu.
"Cepat, kenapa dia pinsang lagi hah. Kau sudah muak hidup?." Cecar Rangga memegang kerah jas si dokter.
"M-aaf tuan kami tak mendengarnya." Ucap si dokter tergagap ketakutan.
Walau dalam ketakutan ,tapi sang dokter memeriksa Maya lebih jeli lagi. Ia tak mau nyawanya atau nyawa perawatnya melayang atas kekejaman seorang Rangga.
***Tuuuuutttt...
📱Rangga: Temukan dia hari ini juga, Seret dia ke alamat yang ku kirim.
Tuuuttt***...
Rangga mengakhiri telvonya secara sepihak, Dirinya enggan terlalu bertele- tele pada bawahannya.
"Ini semua karna kamu tua bangka, tunggu pembalasanku selanjutnya." Batin Rangga mengepalkan tanganya dengan urat yang sudah menonjol di tangannya.
Dokter yang memeriksa Maya bernafas lega kala tugasnya yang menurutnya biasa saja kini berasa menegangkan.
"M-aaf tuan sepertinya istri anda sedang tertekan." Ucap dokter kala dirinya melihat Rangga mematikan sambungan telvonnya apalagi tergurat jelas kemarahannya di wajahnya.
"Pergilah." Ujar Rangga dengan gerakan tangannya tanpa menggubris ucapan sang Dokter.
Dirinya melangkahkan kakinya ke arah Maya yang masih tercetak raut pucat pasi di wajahnya. Apalagi efek dirinya hujan- hujanan membuat wajah ayu itu semakin pucat saja.
"Maaf kan aku cantik, Entah bagaimana caranya agar aku bisa menebus rasa bersalahku padamu. Aku memang menginginkan Aaron pergi dari sisimu tapi jika keadaanya kamu akan seperti ini, aku tak tega cantik. huhhhhh." Ujar Rangga dengan bernafas kasar.
"Tapi semu yang aku lakukan akan menjadi kenyataan cantik, biarlah kamu sekarang menderita tapi nanti aku akan membuatmu bahagia bersamaku." Timpal Rangga lagi mencium pucuk kepala Maya.
Braakkkk....
Dua pria berpakaian hitam melempar seorang pria yang juga memakai kaos hitam dengan kumis tebal di bawah hidungnya.
Rangga melangkahkan kakinya ke arah pria yang masih tersungkur itu sembari mencekik lehernya agar pria itu berdiri.
Maya mulai mengerjabkan matanya lagi kala suara bising dikamarnya mengganggu tidur indahnya bersama sang suami tercintanya. Bukannya bangun malahan dirinya berpura- pura memejmkan mata, Sebenarnya apa yang akan direncanakan Rangga selanjutnya pikir Maya.
"kamu tau aku hahh?" bentak Rangga tepat di depan wajahnya.
"T-uan muda luxio." Ujar Pria itu dengan terbata- bata karna saking eratnya cekikan Rangga.
"Kamu yang membunuh Aaron Addison hah jawabb." Bentak Rangga lagi.
"B-enar tuan akhh..." Rintih Pria itu kala Rangga semakin menusukkan kukunya pada lehernya.
"Siapa yang menyuruhmu, katakann." Tanya Rangga lagi dengan suara yang masih meninggi.
"T-uan Luxio." Papar Pria itu lagi.
Rangga mengehempaskan tubuh tua itu ke lantai tanpa merasakan iba sekalipun. Meski darah bercucuran si leher pria itu disebabkan oleh kuku Rangga yang menancap.
"Beritahu padanya jika kamu yang membunuh Aaron Addison dan ingat jangan pernah mengatakan jik tua bangka itu yang menyuruhmu. Paham" terang Rangga membelakangi pria yang masih tersipuh di lantai.
"B-aik tuan" Ucapnya seraya mengangguk- anggukan kepala.
"Untuk kalian jaga dia jangan sampai kabur." Titah Rangga pada dua orang pria yang tadi dihubunginya.
"Jadi bukan Rangga pelakunya tapi bukankah Luxio itu ayahnya." batin Maya.