
"Tapi A aku kotor, Aku jijik sama diriku sendiri." Ucap Maya melerai pelukannya.
"Kamu masih suci jadi jangan dipikirin sayang. Meskipun kamu ternoda sekalipun aku takkan membatalkan pernikahan kita, Cukup dulu aku melakukan hal bodoh dengan ninggalin kamu tapi sekarang enggak akan lagi." Sahut Aaron memeluk Maya kembali.
Tookkk....tok...tookkk.
Ben mengetuk pintu mobil belakang karena mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di basement apertement Rainbow. Ya, Aaron memilih apertemen karna dirinya masih belum siap dengan cecaran sang bunda. Toh, dirinya juga sudah beralasan ke bundanya dan bundanya juga mengizinkannya.
Mungkin Aaron besok akan bicara secara perlahan kepada papa sekaligus bundanya kalau dirinya dan Maya akan mempercepat tanggal pernikahannya.
" Woy turun udah nyampek dodol." Teriak Ben terus mengetuk pintu belakang mobil. Ia penasaran kenapa mereka lama sekali membuka pintu, dirinya berinisiatif mencari cela untuk mengintip . Namun sebelum mendapat pemandangan yang menurutnya wow, Pintu mobil terbuka dengan kerasnya. Membuat muka Ben memerah terkena ciuman panas dari pintu mobil.
''Siaaallaannn" Umpat Ben dirinya memegangi hidungnya yang hampir penyok.
"Kenapa lu Ben.???'' Sahut Aaron menutup pintu mobil ketika Maya juga keluar, dirinya menghampiri Ben yang masih memijit hidungnya.
"Sakit dodol lu pikir nih tembok main tabok aja." Ben kesal sangat kesal dengan Aaron.
"Siapa juga yang nabok Ben???" Sahut Aaron kebingungan, Dirinya tak tau apa yang membuat Ben kesal.
"Lu main buka pintu mobil seenaknya gua, kayak gini ulah lu dasar garongg." Timpal Ben.
"Ya mana gua tau lu sendiri juga ngapain ngintipin gua, salah sendiri dong bukan salah gua. Ayo yank masuk jangan ngeladeni bocah semprul ini, Takut ketularan." Pungkas Aaron dirinya menarik tangan wanitanya membuat Ben mengumpat.
"Dasar lu pada gak ada terima kasihnya sahabat laknat lu garong." Teriak Ben, Hingga security yang melihat menghampirinya takut membuat penghuni apertement lainnya terganggu.
"Maaf mas tolong jangan bikin kegaduhan disini" Ucap Security hati- hati dirinya melihat tatapan nyalang dari Ben.
"Berteriak sama saja dengan membuat kegaduhan mas, bisa mengganggu kenyamanan penghuni apertement ini." Sahut Security juga terlihat kesal. Diberitahu malah semakin marah tak jelas pikir security.
"Okelah bapak benar dan selalu benar. Saya pamit pulang bukan mau cari kegaduhan. permisi." Kesal Ben dirinya tak terima dengan ucapan sang security. Ben terus menggerutu hingga mobil yang dikendarainya hilang bersamaan dengan kendaraan yang lain.
"Dasar bocah kongslet diberi tau malah ngeyel ngidam apa dulu ibunya." Security hanya bisa menggeleng- gelengkan kepala melihat tingkah Ben yang membuatnya naik darah.
...****************...
Kini Maya dan Aaron saling berpelukan diatas ranjang, Sama- sama terdiam .Mereka masih menyelami kejadian yang baru saja menimpa dirinya.
Kalau sampai Aaron datang terlambat entah bagaiman keadaan Maya setelah itu, depresi atau bagaimana. Dan jika sampai Maya hamil otomatis Rangga harus bertanggung jawab atas kesalahannya dan itu akan membuat seorang Aaron kehilangan Maya yang ke dua kalinya tapi kali ini beda cerita. Aaron menggelengkan kepala ketika dirinya malah berfikir sampai kesana.
"Ada apa A" Tanya Maya ketika mendapati Aaron menggelengkan kepalanya.
" Gak apa- apa sayang" Aaron mengecup pelipis wanitanya.
"Tapi apa mungkin kejadian tadi ada sangkut pautnya sama Amanda, dia mungkin mendengar kalau kita akan menikah lalu menyuruh Rangga melakukan itu ke kamu" Aaron menduga. Dirinya sangat tau sifat Amanda, Apapun yang dia mau harus segera tercapai meskipun menyingkirkan orang sekalipun.
" Gak usah seudzon A, Mungkin kejadian tadi itu sebuah peringatan kalau aku harus hati- hati."Sahut Maya menenangkan Aaron.
"Iya sayang aku hanya mengira saja.'' Timpal Aaron mengecup pelipis dan turun ke bibir Maya.
Maya mendorong Aaron setelah merasa kekurangan oksigen. Membuat Aaron hanya tersenyum menanggapi semua itu.
"Udah sana keluar tidur dikamar sebelah." Usir Maya dirinya takut jika Aaron akan terus menerkamnya sampai janji yang pernah diucapkan harus terkubur oleh hasratnya.