Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Terbongkarnya Rahasia



Seakan mengerti dengan kemauan sang istri yang tak ingin dirinya menjauh, Aaron mendampingi sang istri dengan menggenggam erat tangannya tak lupa sesekali dikecupnya.


Selama pemeriksaan Maya sangat khawatir dengan janin yang tengah di dalam perutnya, Apalagi melihat wajah dokter Nadia yang nampak mengerutkan keningnya.


Dirinya bertanya- tanya dalam hatinya, Apa ada sesuatu hingga wajah Dokter itu seperti tengah kebingungan pikir Maya.


Alat stetoskop itupun tak berhenti bergulir kesana- kemari entah apa yang di carinya.


Revan yang sedari tadi menunggu di ruangan Dokter Nadia pun dibuat gelisah, bisa saja dirinya masuk ke ranah pemeriksaan karna tempat itu hanya disekat oleh gorden putih khas rumah sakit. Tapi perkataan Aaron terngiang di otaknya hingga membuatnya harus mengurungkan niatnya.


"Lu disini aja, gua gak mau tubuh istri gua dilihat pria lain." Ujar Aaron menahan dada Revan yang hendak melangkahkan kakinya ke ranah pemeriksaan tersebut.


Bisa saja Revan melawan Aaron namun dirinya enggan melakukan itu karna takut Maya akan bertambah kefikiran.


Hingga beberapa menit berlalu, Akhirnya gorden putih itu tersibak dan keluarlah Dokter Nadia dan disusul tubuh Aaron yang masih membungkuk mensejajarkan wajahnya pada sang istri.


"Ada masalah.?" Tanya Revan ketika Dokter Nadia terduduk dikursinya.


"Iya dok, Janinnya dalam kondisi lemah aku belum tau pasti apa penyebabnya namun gejala seperti ini biasanya disebabkan oleh obat- obatan yang pantang diminum oleh orang hamil dok." terang Nadia pada Revan, dan hal itu mebuat Aaron yang membantu istrinya duduk sontak menoleh .


Degggh


"M-aksuny obat- obatan apa?." Tanya Maya yang masih lemah. Rasa lemahnya bercampur penasaran dengan penjelasan sang dokter.


"Maaf nona, Gejala yang menimpa anda ini sama persis dengan pasien saya yang menggugurkan janinnya secara perlahan. Apalagi dengan kondisi nona yang tak pasti kadang sehat dan kadang langsung pusingkan atau yang lainnya dan itu pertandanya, Apa anda perna meminum obat- obatan atau semacam jamu nona?" Papar Dokter Nadia


Maya hanya menggeleng dengan ucapan sang Dokter, seingatnya dirinya tak pernah meminum obat ataupun jamu. Meskipun dirinya sakit sekalipun, Maya sangat anti dengan obat terlalu pahit menurutnya apalagi jamu.


"Kok bisa ya gejalanya seperti itu, padahal anda tidak meminumnya." Ujar Dokter Nadia bingung, perasaan apa yang di keluhkan pasiennya selalu benar namum tidak untuk Maya.


"Ar gua mau ngomong sama lu." Ucap Revan dengan raut wajah sulit di artikan.


"Ta..." Ucapan Aaron terpotong ketika tangannya langsung di tarik oleh Revan.


"Sayang jangan kemana- mana ya , aku nanti kesini." Ucap Aaron tergesa- gesa sebab Revan menariknya dengan kuat.


Tanpa melawan ataupun memberontak dengan apa yang di lakukan sahabatnya, Dirinya berfikir mungkin ada sesuatu yang ingin di sampaikannya.


Disepanjang jalanan koridor rumah sakit, fikiran Aaron memikirkan ucapan Dokter Nadia yang sangat bertolak belakang dengan dokter yang ia mintai resep tempo lalu.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Apa mungkin...." Batin Aaron menggantung ketika Revan sudah mendudukkannya di kursi ruanganya.


Revan berdiri di depan Aaron yang tersekat meja kerjanya sembari mencondongkan badannya kedepan.


"Apa mungkin gejala yang di derita Maya ulah lu Ar.?" Tanya Revan dengan tatapan menelisik mata hitam legam milik sahabatnya. Apalagi dengan tingkah Aaron kemarin yang seperti tak menginginkan sang istri hamil ,hingga timbullah kecurigaan Revan pada sang sahabat.


Deggggg....


"G-ua...." Belum selesai dengan ucapannya Revanpun menyela.


Aaron menunduk tak berani mendongakkan kepala karena memang yang dilakukannya sangatlah di luar dugaan . Tetapi ada yang salah, Bukannya Dokter Melly yang memberinya resep tempo lalu mengucapkan jika gejalanya akan sering capek jika yang mengosumsinya wanita hamil.


Namun kenapa sekarang menjadi sangat fatal dan yang paling mengerikan lagi adalah membunuh janin yang tak berdosa.


"Kamu mendapatkan obat itu dari siapa Ar.?" tanya Revan lagi yang melihat Aaron enggan menjawabnya.


"G-ua dapat resep dari dokter Melly van .Tapi sumpah, Gua gak ada niatan bunuh darah daging gua sendiri. Dia bilang jika yang meminumnya wanita hamil itu hanya akan membuatnya sering capek." Papar Aaron mendongak dan mendapati sahabatnya seperti tengah geram padanya.


"Buat apa lu ngasih bini lu obat kayak gitu, Apa maksut lu Ar. Gua gak habis pikir sama lu Ar." Cecar Revan menyunggar rambutnya, Seperti seorang ayah yang tengah memarahi anaknya.


"Gua hanya ingin menunda kehamilannya van dan gua...


Pyaaaarrrr......


Bunyi seperti kaca pecah itu membuat keduanya menoleh dan tak mendapati apapun sebab ruangan kerja Revan masih tersekat dinding. Menjadikan mereka tak melihat apa yang terjadi di ruang santainya tepatnya di samping pintu masuk.


"Siapa disana?." Teriak Revan namun tak ada jawaban ,hingga mau tak mau Revan melangkahkan kakinya ke arah sekatan dinding tersebut.


Seketika matanya membulat sempurna melihat sosok wanita yang masih terlihat pucat mematung disana dengan air mata membasahi pipinya.


"Maya..." Ujar Revan tercekat.


Deggggh....


Dengan spontan Aaron menoleh dan melangkahkan kakinya ke arah Revan yang mematung di pertengahan terhubungnya ruang kerjanya dan ruang santainya.


Begitupun Aaron tak kalah syoknya mendapati sang istri berdiri mematung di belakang pintu. Ketika netra Maya melihat Aaron, buru- buru dirinya pergi dari tempat itu. Berlari entah kemana langkah kakinya mengayun, Dunianya hancur ketika mendapati orang yang paling di cintainya dengan tega akan membunuh darah dagingnya ,buah cinta mereka.


"Sayang...." Teriak Aaron mengejar sang istri yang ia ketahui tengah salah paham padanya.


"Plissss, Jangan tinggalin aku sayang." Batin Aaron celingak- celinguk ketika sampai diluar rumah sakit tak mendapati istrinya, Dirinya kehilangan jejak sang istri yang sekarang entah berada dimana.


Aaron kembali berlari menyusuri jalan yang dilewatinya tadi, ia berfikir baha sang istri masih belum jauh dari rumah sakit.


Tepat di pertigaan jalan Aaron menoleh ke kanan dan kiri siapa tau dirinya mendapati sosok sang istri disana, namun nihil sebatas bayanganpun tak ada.


Aaron mengeram dengan meninju udara kala apa yang dilakukannya membuat Maya pergi darinya.


"Akhhhhh......" Teriak Aaron menyunggar rambutnya ke belakang meratapi nasibnya yang entah bagaimana nantinya.


Seorang pria dengan kaca mata hitamnya yang bertengger di hidungnya tersenyum sinis. Menyaksikan dengan hati penuh kemenangan ketika rencana yang di susunnya dengan matang berjalan dengan lancar tanpa ada yang sadar dengan tindakannya.


"Baru permulaan Aaron, dan masih banyak lagi kejutan yang menantimu. Tunggu saja." Batin pria tersebut dengan senyuman smirknya.


Dirinya takkan membiarkan seorang yang mengambil miliknya secara licik hidup dengan bahagia. Apalagi berbahagia di atas penderitaannya karna ulah Aaron yang sengaja mengambil miliknya.