
Matahari mulai menyingsing dari arah timur, menampakkan terik cahayanya dengan sejuta keindahannya. Dengan segenggam cahaya, mampukah memberi warna pada pemilik hati yang kini telah memulai menyelami kerinduan.
Pangeran mana yang tak bahagia ketika putri yang selalu ingin ia gapai sekarang sudah menjadi miliknya. Melalui lika- liku kehidupan yang terjal dan banyak rintangannya. Itulah yang selama ini di rasakan seorang Aaron Addison, Berupaya melupakan wanita yang telah mengisi relung hatinya sepenuhnya. Namun usahanya hanya sia- sia, Dia terlalu sulit melupakan bidadari hatinya meski dalam kenyataannya sang bidadari tak bisa melupakannya juga.
Hingga pada suatu ketika wanitanya sudah mantap menikahi dengan sahabatnya sendiri. Lagi- lagi Tuhan mengujinya agar melapangkan hatinya untuk menerima kenyataan. Namun setelah dirinya berusaha merelakannya, Kejadiaan naas harus menimpa wanitanya ketika calon suaminya telah menghamili sahabatnya sendiri hingga wanitanya harus merelakan Noah menikahi Tiara.
Aaron bernafas lega mendengar berita tersebut, Membuat ia harus segera mendapatkan kembali hati Maya yang tengah kecewa dengan takdir.
Lalu ketika semua berjalan manis kejadian naas kembali menimpa kisah cintanya apalagi pernikahan mereka sudah di depan mata. Maya mengalami kecelakaan tragis dan menghilang entah kemana. Hingga membuat seorang Aaron hampir depresi dan gangguan emosional.
Aaron berharap semoga Tuhan telah selesai menguji cintanya, Apalagi mereka baru saja di pertemukan dan tanpa mau menunggu lama ia mengucap ijab qobul atas nama wanitanya, mengarungi mahliga rumah tangga yang sempurna.
"Kamu kecapekan banget ya Hummy udah siang gini masih belum buka mata padahal kamu yang ninggalin aku tidur." Ucap Aaron pelan membelai pipi wanitanya.
"Semoga selamanya kita bersama ya Hummy." Ucapnya lagi mengecup kening wanitanya.
"Euugghhh.." Maya melenguh ketika merasakan sesuatu yang basah menyentuh dahinya, Ia mencoba membuka matanya yang masih terlihat berat. menyesuaikan cahaya yang masuk ke netra matanya. Ketika terbuka sempurna betapa syoknya dirinya, pandangan pertama melihat Aaron yang masih memejamkan mata.
Mendudukkan dirinya berusaha mengingat kejadian kemarin dimana hari itu hari pernikahannya dengan seorang pria bernama Aaron Addison. Ia berkali-kali mengetok dahinya, Dirinya sampai kelupaan jika telah menjadi istri orang. Hal itu membuat Aaron yang melihat tingkah Maya berusaha menahan tawanya, dirinya ingin tau apalagi yang akan di lakukan istrinya ini. Berpura- pura tidur membuatnya tau kekesalan yang menimpa istrinya.
"Aku kok ketiduran sihh, kan gak jadi main oreo sama Hubby. Nyebelin banget mandinya kelamaan sih kayak kebo." Gerutu Maya melirik sekilas ke arah Aaron takutnya dirinya telah bangun dan mendengar ucapannya.
"Mau minta duluan kan gensi, secara cewek gitu yah mahal dong di depan lakik meski udah sahh. Aaron gila nyebelin aku sunat lagi biar tau rasa, Biar gak ada tuh ular pitonnya sekalian upppss kok ular piton sih emang aku pernah tau. Ih Mayra- mayra sok tau banget sih, Tapi tadi malem kayak gede, Pliss otak jangan aneh- aneh jangan seperti pelacur dong yang suka nyari yang jumbo." Maya menggelengkan kepalanya mengusir pikiran kotor yang tengah bersarang di otaknya.
Ia melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi, ingin sekali membersihkan otaknya yang sudah terkontaminasi dengan hal yang berbau mesum.
Aaron yang melihat Maya pergi dengan Lingerie masih membalut tubuh indahnya berusaha bangkit dan mengekori wanitanya yang tengah berendam di tambah lagi ia juga memejamkan mata. Mungkin capek banget pikir Aaron yang sudah berhasil masuk ke kamar mandi mungkin Maya lupa mengunci pintunya jadi bisa memudahkan Aaron untuk masuk.
Melepas weardrop yang ia pakai dari semalam, Membuangnya ke sembarang arah.
Ia ikut merendamkan tubuhnya di samping Maya yang belum menyadari kehadirannya. Segampang itukah dirinya tertidur, padahal cuma sebentar masuk ke kamar mandi dan di susul Aaron.
Aaron meremas titik sensitif itu dengan gemasnya hingga wanita yang bisa di juluki putri tidur itu terjingkat kaget dengan ulah Aaron.
"By." Ucap Maya bingung karena setahunya Aaron masih tidur.
"Kamu capek banget ya kesana kesini tidur mulu." Tanya Aaron namun tangannya masih bergerilya kesana kemari.
"I-ya by capek banget." Sahut Maya tergagap, mencoba menghalagi akativitas tangan Aaron tapi sia- sia.
"I-itu by ihh tangannya lohh geli tau. Makanya mandi lama bener jadi ngantuk kan yang nunggu, syukurin." Ucap Maya memalingkan wajahnya. Ingin hatinya dan bibirnya selalu bertolak belakang.
"Tapi tadi aku denger ada yang ngomong sendiri pengen main oreo- orean kayak gini kan." Ucap Aaron ketika tangannya berada di sela- sela lembah wanitanya dan itu sukses membuat Maya memekik keenakan.
"Awwww...." pekikan Maya ketika tangan Aaron tenggelam sempurna di antara pahanya. Tak menolak, Maya malah memberi akses agar Aaron tak kesulitan dalam menjalani aktivitasnya yang luar biasa, Apalagi sensasi di dalam air membuat Maya sangat menikmati dengan ulah Aaron.
"Kamu suka sayang." Bisik Aaron ketika Maya memejamkan matanya dan menggigit bibirnya menahan ******* yang keluar dari bibirnya.
Maya menganggukkan kepala membenarkan ucapan Aaron bahwa ia memang menyukainya malah teramat menyukainya .
Aaron membawa wanitanya ke dalam pangkuannya, membiarkan si ono berada di tengah- tengah paha wanitanya bahkan hampir menyentuh lembah kenikmatannya.
"Buka matamu sayang, Pitonmu sudah bangung." Sontak Maya membuka mata dan langsung tertegun dengan ukurannya. Dan yang ia bingungkan, Berarti Aaron mendengar dengan jelas apa yang di ucapkannya di kamar tadi.
"By kamuuu." Tanya Maya terhenti ketika tangan Aaron kembali tenggelam disana.
"iyaa aku mendengarnya sayang semuanya tanpa terkecuali." bisik Aaron membuat Maya begidik ngeri. Namun ia berusaha acuh karena menerima serangan dari Aaron yang sangat memabukkan.
******* Maya semakin menjadi ketika tangan Aaron mempercepat temponya. Mencapai sesuatu yang baru pertama kali keluar dari dalam tubuhnya sangatlah nikmat. Aaron mencabut tangannya dan memeluk erat wanita yang nampak tengah mengatur nafasnya.
"By." Ucap Maya dengan terengah-engah. Namun ia berusaha membalikkan tubuhnya menghadap pria yang telah membuatnya hilang kendali.
"Hmmmm kenapa." Tanya Aaron mengelus punggung itu dengan lembut. Ia suka sifat Maya yang bermanja padanya, seperti sekarang ini,ia berinisiatif memeluknya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya.
"aku mau sesuatu yang baru,." Bisik Maya namun mampu membuat semburat merah di pipinya, Ia terlalu malu mengakui jika dirinya menginginkan sentuhan Aaron. Hingga dirinya memberanikan diri mengucapkan sesuatu yang sangat memalukan menurutnya.
"Apa itu Hummy." Ucap Aaron berpura- pura tak tau menau maksut wanitanya.
"Itunya by aku mau yang lainnya." Sahut Maya yang malu mengangkat wajahnya.
"iya apa, aku gak mengerti coba bilang biar aku paham." Pancing Aaron membuat Maya kesal.
"aku mau ngerasain itunya by." Ucap Maya semakin mengeratkan pelukannya, Malu setengah mati ketika hasratnya menginginkan sesuatu yang lebih.
Persetan dengan rasa malunya toh dia meminta seperti itu pada suami sendiri, Biarlah Aaron mengecapnya sebagai wanita murahan karena meminta anunya dahulu.