
Mereka tau apa yang tengah di rasakan Aaron ketika sang istri sedang dalam bahaya atas kesalahannya. Hingga membuatnya sangat gelisah tanpa memikirkan perutnya yang seharian ini tak terisi oleh apapun.
Fikirannya kacau dengan kemunculan Rangga yang akan menjadi boomerang pada rumah tangganya yang baru saja di mulai.
"Ar mending lu pulang aja dah serahin urusan lu sama Ben aja , Kalau bisa temenin Maya di rumah jangan sampek kecolongan." Ucap Noah memberi saran agar kekalutan Aaron terhenti ketika sudah bertemu dengan sang istri. Noah memutuskan tetap berada di Aa corp dan memilih bekerja di belakang monitor hanya karna ingin menemani Aaron yang tengah di landa masalah sedangkan Revan harus kembali ke rumah sakit sebab ada pasien yang tengah menunggunya.
"Gua tetep disini aja Noah, Gua gak sanggup kalau nanti pulang hasrat gua gak bisa gua tahan." Papar Aaron menangkup wajahnya membayangkan raut wajah Maya yang tengah tersenyum padanya.
"Maksutnya apa Ar.?" Tanya Ben penasaran dengan apa yang di maksut Aaron.
"Gua takut gak bisa nahan hasrat ketika nanti pulang ke rumah apalagi gua udah bilang kalau gua masih belum siap dengan hadirnya keturunan gua kalau masalah yang gua hadapi masih belum selesai, Gua takut calon anak gua jadi korbannya." Papar Aaron membuat Ben dan Noah yang berada di ruangan sama dengan Aaron membelalakkan matanya secara reflek.
Mereka berdua merutuki kebodohan yang ada pada diri Aaron karena menurutnya itu tak ada sangkut pautnya dengan masalah yang di hadapinya .Namun dengan gampangnya Aaron mengucapkan kata- kata seperti itu dan bagaimana reaksi Maya ketika suaminya sendiri mengucapkan kata- kata seperti itu.
"Bodohhh Aaron lu bodoh, Apa menurut lu ketika yang di atas memberi rezeki seorang anak untuk lu terus masalah lu itu semakin bertambah, Lu salah Ar bisa jadi dengan hadirnya anak masalah yang kita hadapi akan mereda. Jangan berfikir negatif dulu dong Ar jangan buat Maya semakin tak nyaman dengan sikap lu ini, Apalagi ingatannya belum pulih." Cecar Noah , Ia sangat tak setuju dengan apa yang di ucapkan Aaron.
"Bener apa yang dikatakan Noah Ar jangan berfikir negatif dulu, Gimana perasaan Maya kalau sampai denger lu ngomong kayak gini." Timpal Ben juga tak setuju dengan apa yang di sampaikan Aaron. Menurutnya Aaron sangat berlebihan dengan menjalani masalah yang tengah ia lalui sekarang.
"Gua udah ngomong ke dia." Ujar Aaron dengan pandangan kosong ke depan dan ucapannya itu juga sukses membuat Noah berdiri dan mencekram kerah kemeja Aaron yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
"Lu gila Aaron, Gimana perasaan dia hah lu gak mikir Aaron." Bentak Noah tepat di depan wajah Aaron yang seakan pasrah.
"Gua tau gua bodoh ,begok dan gila tapi kalian harus tau perasaan gua. Udah berapa kali gua gagal menjaga Maya sudah berapa kali juga gua bodoh dalam bertindak. Tapi kali ini gua mohon hargai keputusan gua kalau gua masih belum siap di beri keturunan dalam masalah yang semakin tak karuan. Gua takut, gua takut kalau gua juga gagal ngelindungi anak gua." Ucap Aaron meneteskan air mata, Membuat Noah melepas cengkraman tangannya secara perlahan karna yang ia tau Aaron tak pernah serapuh ini setelah kejadian hilangnya Maya dulu.
"Tapi lu salah Ar, Jangan nyalahin diri lu terus. Itu semua sudah takdir yang sudah tertulis dan harus lu lalui bersama Maya, Pliss jaga perasaan Maya. Noah udah dengan susah payah ngeralain dia buat lu jangan buat Maya salah milih pasangan Ar karena keegoisan lu ini." Timpal Ben karena sedari tadi merasa iba dengan peliknya masalah yang di hadapi Aaron dan istrinya.
***Degggggg...
"Enggak , Dia harus bahagia bersama gua . Bener apa kata Ben jangan sampek Maya menyesal memilih gua." Batin Aaron seakan tersengat dengan ucapan Ben baru saja***.
Membahagiakan Maya adalah jalan satu- satunya agar sang wanita tak mampu berpaling darinya dan tak berfikir salah memilih pasangan. Meskipun dirinya masih belum siap mempunyai keturunan namun dirinya harus bermain cantik agar sang istri belum bisa hamil meskipun berkali- kali bercinta.
Ia tak mau jika nanti apa yang dalam fikirannya menjadi kenyataan. Bukannya takut jika Rangga melukainya atau menyerangnya menggunakan senjata api atau semacamnya dan dengan banyaknya anak buah. Aaronpun sama memiliki banyak anak buah dan banyak senjata api hanya untuk koleksi ,tetapi jika dalam keadaan mendesak mau tak mau senjata yang sudah ia koleksi harus keluar dari sarangnya. Apalagi senjata tersebut ada ratusan dengan di desain sedemikian rupa agar lawan yang terkena serangannya mati di tempat. Itulah peninggalan kakek Aaron sendiri mantan ketua Mafia yang teramat di segani walau Aaron masih tak tau menau tentang identitas kakeknya, karena Arkan enggan menceritakan masa kelamnya sang ayah hingga ajal menjemputnya.
Aaron bertekad apapun alasannya takkan ada yang boleh mengganggu keluarganya, Namun untuk kali ini biarlah Aaron yang akan bermain tanpa adanya campur tangan dari para sahabatnya. Karena Aaron sangat yakin jika para sahabatnya tau mereka akan melarangnya dengan segala cara.
"Gua cabut sekarang, Gua mau nemuin Maya dan bilang minta maaf gak seharusnya gua kayak gini. Masalah yang lalu gua anggap pelajaran dan kali ini gua akan menjaganya lebih ekstra." keputusan final Aaron membuat hati Ben dan Noah yang mendengarnya lega. Aaron sudah kembali lagi bertekad dan tak segelisah tadi, mereka yakin Aaron akan menyelesaikan masalahnya tanpa melukai siapapun dan itu tak berlaku pada Rangga.
Mungkin saja Rangga akan babak belur di tangan Aaron jika telah berani menyentuh ataupun menyakiti Maya.
Begitulah sifat Aaron, Jika hatinya gelisah dan tak ada ketenangan di sekitar. Ia akan gegabah mengambil keputusn namun jika sendiri dan berfikir dengan ektra di tengah kesunyian para sahabatpun yakin seyakin- yakinnya dengan keputusan Aaron. Karena itu sudah keputusan yang terbaik untuknya dan menanggai masalahnya.
"Ben selama seminggu ke depan, Gua mau bekerja di rumah aja lu yang ngawasi setiap karyawan disini. Kalau lu perlu tanda tangan datang ke rumah gua. Kalau ada meeting atau pertemuan dengan kolega lu bisa telvon gua " Ucap Aaron memasang jasnya kembali setelah melepaskannya sedari pagi karena menurutnya gerah walau ada AC, mungkin bawaan dari rasa gelisahnya.
"Siap Bos." Ucap Ben berdiri dan memberi hormat seperti tengah melaksanakan upacara bendera sewaktu sekolah.
"Jangan lupa mainnya jangan kasar yang santai aja, biar si istri bisa merem melek gitu nikmatinnya." Guyonan Absurd Ben mendapat timpukan di kepala belakangnya oleh Noah.
"Kayak tau rasanya lu Ben." Timpal Noah.
"Taulah sama kebonya pak hadi belakang rumah dulu." Ucap Ben dengan cengirannya membuat Noah dan Aaron melototkan matanya bersamaan.
"Amit- amit, Cabut Ar geli gua deket sama Ben." sergah Noah membawa laptopnya dan menarik tangan Aaron keluar dari ruang kerjanya.
Ben yang melihat sahabatnya terburu- buru meninggalkannya hanya bisa tertawa lepas sebab sedari tadi mikir serius mulu hingga Ben berinisiatif bergurau agar otak yang sedari tadi beku untuk berfikir kini bisa cair dengan guyonan absurd Ben.