
Terik Matahari sudah menampakkan sinar terangnya dengan diselingi kicauan burung yang hinggap di batang pohon hingga membuat gadis cantik dengan perut buncitnya terbangun dari tidur pulasnya.
Ya, Maya terbangun dengan mata yang sangat berat untuk terbuka. Namun ingatannya kembali pada kejadian tadi malam hingga membuat matanya yang semula enggan terbuka kini terbuka dengan lebarnya.
Ia terduduk bersandar di kepala ranjang sembari menelungkupkan wajahnya di tangannya. Kejadian semalam terngiang- ngiang di kepalanya, Namun yang dia bingungkan mengapa sekarang dirinya berpakaiannya utuh. Seingatnya pada malam kejadian itu, dirinya tak memakai sehelai benangnpun. Dan bukankah lelaki semalam telah merobeknya hingga tak berbentuk.
"Aku pasti mimpi, dan aku lupa kalau udah berganti pakaian. Tapi mengapa seperti nyata ketika pria misterius itu menggagahiku. " Batin Maya mencengkram dadanya kala sekelebat bayangan Aaron menghampirinya. Dia seperti tengah bersalah kala sangat menikmati sentuhan si pria tersebut, hingga melupakan pria yang begitu di cintainya Aaron Addison.
"Aku mimpi pasti hanya mimpi, " Ujar Maya meyakinkan hatinya.
Maya menyunggar rambutnya ke belakang terlalu pusing menurutnya memikirkan hal yang tak tentu benar. Ia menuruni ranjang dengan kasar namun sesuatu hal yang membuatnya tercengang. Kala merasakan area intinya sangat perih dan seperti mengganjal.
Jantungnya berdetak tak karuan kala ingatan tentang semalam benar adanya, Berarti dirinya tidaklah mimpi melainkan kejadian kenyataan.
Maya menangis dalam diam, Dirinya merasakan telah mengkhianati suaminya yang sudah pergi untuk selamanya. Merasa berdosa juga kala ingatannya semalam jika dirinya terlalu menikmatinya hingga tak sadar sudah beberapa kali mencapai puncaknya.
Dengan keadaan berantakan, Maya berjalan tertatih - tatih kala benda besar dan tumpul itu masih bisa di rasakan sampai sekarang olehnya. Mengganjal di dalam intinya setelah sekian lama tak ada yang menjamahnya.
"By, Maafin aku yang tak bisa menjaga diri by. " Ucap Maya memandangi wajahnya di depan cermin westafel kala tanda merah di leher dan dadanya terlihat jelas di matanya.
Hati yang sedari tadi di yakininya kini sudah tak terarah kala kejadian yang menurutnya mimpi malah menjadi kenyataan.
Dengan hati mencelos dan air berlinang di kedua pipinya tak mampu membuatnya merasakan sakit hati yang sangat dalam. Apalagi pria misterius itu memiliki suara yang sama dengan suaminya hingga membuatnya terlena dengan sentuhannya.
"Sebenarnya dia siapa? kenapa begitu teganya menggagahiku dengan keadaan hamil seperti ini, Dan betapa bodohnya aku ketika tak menolaknya. Maafkan aku by, Aku adalah wanita hina. " Cecar Maya pada dirinya sendiri
...****************...
Setelah berkenjung di desa yang sangat terpencil, pria misterius dengan pakaian serba hitam tak lupa dengan topeng yang menutupi wajahnya.
Bertandang ke markas milik Luxio di dalam hutan rimba. Dirinya mempunyai dendam tersendiri dengan ketua Mafia Elang, Dan ingin menghancurkan dengan tangannya sendiri .
Berbulan- bulan berlatih dengan kesungguhanannya hingga kini dirinya mampu mewujudkan impiannya. Menantang Mafia Elang tanpa campur tangan dari siapapun.
Dooooorrrrr....
Pria itu menembakkan timah panas yang ada di dalam benda kesayangannya ke arah atas. Hingag membuat yang berada di dalam gedung usang itu tergopoh - gopoh mencari sumber suara tembakan tak terkecuali sang ketua.
"Mau apa kau kemari anak muda. " Ujar Luxio memperhatikan tubuh pria tersebut dari atas hingga bawah, walau wajahnya tak terlihat namun Luxio yakin jika pria di hadapannya ini adalah sosok anak muda yang tak jauh dari umur putranya.
" Aku kesini menjemput nyawamu tua bangka, akulah malaikat kematianmu hahhahahaha. " Suara menggelegar dari sosok pria tersebut. Membuat para anak buah Luxio menodongkan senjatanya ke arah si pria.
"Tak perlu terburu- buru wahai budak. Santai saja, Aku hanya ingin berduel dengan tuanmu bukan dengan kalian. Aku pengen tau seberapa hebatnya tuan Luxio yang kalian junjung tinggi ini. Atau hanya seorang pecundang yang terus saja bersembunyi di balik ketiak para budaknya. " Papar Pria itu dengan nada meremehkan, apalagi dirinya juga berludah di depan Luxio. Hal itu membuat Luxio naik pitan di buatnya.
"Jangan sok jago kamu anak muda. " Ujar Luxio mengambil benda yang sudah terselip di saku celannya. Ia juga maju beberapa langkah hingga dirinya berada tepat di depan sang pria misterius yang jauh lebih tinggi darinya hingga membuatnya harus mendongakkan kepala.
"Satu lawan satu apa seciut itu nyalimu tua bangka, Cih memalukan sekali. " Cecar Pria itu lagi, hingga membuat Luxio menempelkan pistolnya di dahi pria tersebut dengan api kemarahan yang berkobar.
"Lawan aku. " Timpal Luxio dengan tubuh terhuyung kala pria itu tiba-tiba menendang dadanya dengan keras hingga membuat Luxio terpental di tanah.
"Hanya seperti itu saja sudah mau mati, Cih ketua macan apa ini.. " Ujar pria itu dengan tatapan sinisnya. Membuat Luxio kembali berdiri dengan bersusah payah ketika sakit di dadanya semakin menjadi dan tak karuan.
" Cepat ambilkan obat. " Bentak Luxio kepada anak buahnya sembari tangannya memegang dadanya secara erat.
"Pastilah anda akan mati pak tua, Selamat tinggal. " Timpal Sipria menodongkan senjatanya ke arah Luxio yang tengah kesakitan.
***Dorrr
dorrr
dorrr***.
Tiga kali tembakan membuat tubuh ringkih Luxio meluruh ke tanah, bisa di pastikan besok keluarga besar Luxio akan berduka.
"Tuaannn... " Teriak anak buah yang disuruh Luxio mengambil obat, Ketiga anak buah itu juga yang selalu menemani Luxio kala sang anakpun tak mau berada disisinya.
" Bajingann.. " Umpat salah satu anak buah Luxio mengarahkan pistolnya ke arah pria dengan gaya sombongnya.
***Dorrr
dorrr***
Dua kali tembakan yang dilayangkan anak buah Luxio tak membuat pria itu tumbang atau merintih kesakitan.
Ketiga anak buah Luxio terheran-heran dengan adegan live di depannya yang membuat pria bertopeng itu tak apa- apa.
Dorr...
Sekli lagi peluru itu di layangkan namun berhasil di tangkap oleh kedua jarinya, Kok bisa pikir mereka masing- masing.
***Dor..
Dorrr
dorr
dorr
dorr***..
Pria bertopeng itu kalap, Ia secara membabi buta menembak ketiga anak buah Luxio hingga nyawanya menghilang bersamaan rasa dendam yang semakin berkurang.
Pria bertopeng itu pergi dari sana tanpa ada jejak dan orang yang mengintainya. Satu misi telah usai dan misi satunya lagi akan makin seru kala yang menjadi lawannya adalah pria seumuran dengannya. Bisa dibilang kekuatannya jangan di ragukan lagi.
"Tunggulah kedatanganku. " Batin pria bertopeng dengan senyuman mengerikan.
Dirinya sudah tak sabar menanti hari itu, hari dimana musuh teemrbesarnya musnah dengan tangannya sendiri. Biarlah mereka menerka- nerka di wajah balik topengnya, yang menjadi tujuannya adalah membunuh orang-orang yang telah menghancurkan keluarganya.