
Talia dan Arkan yang mendengar kabar bahwa putranya kecelakaan langsung melajukan kendaraannya ke rumah sakit milik Revan.
Dua jam sudah berlalu namun lampu di depan ruang operasi masih menyala. Maya dan yang lainnya harap- harap cemas apalagi tadi perawat mengatakan bahwa Aaron kekurangan banyak darah.
Namun mereka sangatlah bersyukur sebab Revan masih sempat- sempatnya menyediakan darah untuk Aaron yang sangat langkah tersebut.
Talia senantiasa dalam pelukan Arkan dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Orang tua mana yang tak tega melihat anak sulungnya dalam keadaan mengenaskan seperti itu.
Dan pelakunyapun belum di temukan sampai sekarang. Maya duduk bersebelahan dengan Tiara yang setia merangkul pundaknya, Apalagi dia tau masalah yang telah dialami sahabatnya.
"May ikut gua." Ucap Ben yang tiba- tiba datang entah dari mana. Hingga membuat Maya terbangun dari lamunannya.
"Maaf Ben , Aku gak mau jika Hubby bangun aku gak ada disisinya." Sahut Maya memandang wajah Ben yang tak seperti biasanya.
"Kemungkinan Aaron takkan sadar setelah operasi, Bisa kita ngomong." Ucap Ben lagi.
"Ben.." timpal Noah menggelengkan kepala, memberi tahu lewat gelengannya agar tak memaksa kehendak.
"Baiklah." Ujar Maya lemah kala melihat wajah Ben dan Noah secara bergantian.
Maya mengekori Ben yang berjalan lebih dulu darinya, ada hal apa hingga Ben ingin membicarakan berdua dengannya.
"Mas, Kenapa Ben kayak gitu. Dia gak bakal nyakitin Maya kan.?" Tanya Tiara mendekati suaminya dengan tatapan mengarah pada punggung Maya dan Ben yang sudah menjauh.
"Tidak akan sayang, Ben tau batasannya." Timpal Noah merangkul bahu istrinya.
"Maksutnya.?" Tanya Tiara dengan rasa penasarannya, namun noah hanya membalas dengan mengedihkan bahunya.
Sesampainya di taman rumah sakit yang jauh dari hilir mudik perawat ataupun yang lainnya.
Ben bersedekap dada menghadap Maya yang terlihat kebingungan dengan sikapnya.
"Ada apa Ben.?" Tanya Maya dengan suara khas usai menangis.
"Apa lu masih meragukan cinta Aaron untuk lu May.?" Bukannya menjawab, Ben malah kembali bertanya pada Maya.
"Maaf Ben, Sebenarnya apa yang kamu ucapkan benar. Perna sempat meragukan cintanya sewaktu Hubby mengatakan tak mau memiliki keturunan dahulu. Aku sempet mikir kalau dia udah gak cinta sama aku hingga gak mau kalau aku hamil." Papar Maya dengan menunduk menghalau air mata yang akan keluar dari matanya.
"Kamu tau alasan Aaron tak menginginkan anak darimu untuk saat ini, Ingat May untuk saat ini bukan selamanya." Tanya Ben lagi.
Ben ingin tau seberapa tau Maya dalam masalah yang membuat petaka di rumah tangganya.
"Karna kehadiran Rangga." Timpal Maya memalingkan wajahnya.
"Kamu kecewa dengannya ," Tanyanya lagi.
Maya mengangguk membenarkan ucapan yng terlontar dari mulut Ben. Kecewa sudah pasti kala suaminya tak menginginkan dirinya hamil apalagi sudah beberapa kali mereka melakukan hubungan.
Ben menyunggar rambutnya kebelakang dengan masalah pelik yang menimpa keluarga yang baru di bina sahabatnya.
"Detidaknya jangan mengambil keputusan yang gila May . Dengan lu memintai cerai dari Aaron ,emang masalah lu kelar hah . Mau digimanain anak yang lu kandung itu ketika ayahnya gak ada disisinya. Lu gak mikir hah, Lu tau Aaron dalem banget cinta sama lu May." Bentak Ben menggoyangkan bahu Maya yang kembali terisak.
"Aku tau Ben." Sahut Maya dengan suara bergetar. Ben meluruhkan tangannya di bahu Maya karena takut dengan kondisi Maya yang nampak terlihat pucat.
"Tapi kenapa lu lakuin itu hah, Lu gak tau gimana dulu Aaron berjuang hidup di negeri Orang hanya karna ngelupain lu. Ngelupain kenangan manis bareng lu yang udah memilih Noah." Bentak Ben lagi, tak peduli dengan apa yang dilakukannya meskipun membuat Maya semakin menangis sesegukan.
"Mungkin Aaron bakal marah kalau tau gue bentak lu." Ujar Ben duduk di bangku taman menelungkupkan wajahnya di tanganya sebagai tumpuan.
Maya terduduk di atas rerumputan menyesali keegoisannya hingga membuat Aaron berada di dalam ruangan operasi. Dirinya membayangkan dulu sewaktu kuliah kala Aaron selalu berada disisinya tak peduli banyak teman- teman yang membullynya karena dekat dengannya.
Flashback on..
🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶
Sakitnya, perihnya
melihat kau bercumbu dengannya
Kau tega menyiksa
Aku yang selalu setia
Andai rasa di hati tak sedalam ini dari
dahulu engkau tlah ku tinggalkan
Cinta yang ku miliki tak bisa kau bandingkan
Terlalu aku berulang kali
kesempatan bagimu Maafku
untukmu kali tapi tiada arti
sekarang denganku, besok dengannya Aku tak sanggup lagi
Sakitnya, perihnya
melihat kau bercumbu dengannya
Kau tega menyiksa
Aku yang selalu setia
Andai rasa di hati tak sedalam ini dari
dahulu engkau tlah ku tinggalkan
Cinta yang ku miliki tak bisa kau bandingkan
🎶🎶
Maya datang dan duduk tepat di sebelah Aaron yang tengah belajar yang di gurui olehnya. Maya yang habis membeli siomay di kantin harus menahan kesal sebab pria yang membuatnya nyaman malah menyanyikan lagu yang viral pada zamannya dan sangat menyakitkan menurutnya.
"Ihh kok nyanyi itu sih nyakitin banget." Ujar Maya memakan siomay itu dengan lahapnya tak lupa dirinya juga menyuapi Aaron yang sibuk dengan gitarnya.
"Gak tau sih, Tapi aku suka." Timpal Aaron mengambil alih mangkuk siomay yang ada di tangan Maya.
"Ihh Aa, Itu punyaku." Ujar Maya mengerucutkan bibirnya hingga membuat Aaron gemas dan mencubit pipi Maya.
Sedang asyik- asyiknya mereka bercanda datanglah ketiga pria yang di gadang- gadang idola kampus tersebut.
Toni dan Aldo memegang kedua tangan Aaron di sisi masing- masing hingga membuat Gerald sang ketua tersenyum miring pada Aaron.
"Ge, Kamu apa- apaan sih. Lepas gak?." Ujar Maya menarik tangan Toni agar melepas cekalannyan pada Aaron.
"Jangan sampai terlepas ton." Titah Gerald namun matanya memandang ke arah Maya.
Gerald berjalan ke arah Aaron dan memukulnya tanpa ampun.
Bughhh
bughh.
Maya histeris melihat Aaron tengah di hajar habis- habisan, dirinya berteriak meminta tolong pada siapapun yang mendengar teriakannya. Tak peduli dengn tatapan mematika yang Gerald tujukan pada dirinya.
"Lu udah gua pringatin buat jauhin Maya, tapi kenapa lu masih aja mepet mulu hah." Ujar Gerald mencekik leher Aaron.
Maya memukul bahu Gerald dengan tas yang dibawanya agar Gerald tak lagi menyakiti Aaron dan melepaskan cekikannya apalagi raut wajah Aaron sudah nampak pucat.
"Amy pergi." Ucap Aaron lemah dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya. Bukannya pergi Maya malah semakin memukul kuat Gerald dengan tasnya.
"Lepas bajingan, Siapa kamu ngurus hidup orang mau aku deket sama siapapun itu hakku." Timpal Maya. Membuat Gerald melepaskan cekikannya pada leher Aaron namun tangannya berpindah mencekal tangan Maya.
"Kamu gak malu punya pacar cupu kayak dia hah, Udah miskin cupu lagi. Malu dong, mending sama gua yang terkenal dengan ketampanan dan kaya raya." Ucap Gerald sombong setelah berhasil mencekal tangan Maya yang beraninya memukul tubuhnya.
"Bodo, tampan tapi minim ahlak kayak kamu. Sama aja pacaran sama kambing." Seru Maya hingga membuat Gerald melayangkan tangannya hendak menampar Maya, Namun beljm sempat tangan itu mendarat sempurna di pipi Maya .Suara Dosen yang mendengar kegaduhan ditaman membuat Gerald and the geng terburu- buru melarikan diri.
"Kamu gak apa- apa A?" Tanya Maya ketika melihat Aaron luruh ke tanah.
Bukannya menjawab, Aaron malah menelisik wajah tanpa cacat tersebut yang membuat siapa saja mengagumi sesosok Maya termasuk dirinya. Hingga membuat siapapun yang ingin mendapatkan melakukan hal licik sekalipun.
Flasback off.....