Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Chapter 73



" Kalian mau saya pecat hahh.? Bikin proposal aja gak becus. Udah berapa lama kamu bekerja disini hah." Suara bariton Aaron menggelegar diruangan rapat. Membuat siapa saja yang berada dalam ruangan tersebut kekurangan oksigen padahal di ruangan itu sudah tersedia Ac dengan suhu sedang. Namun tak membuat orang yang berada disana merasakan dinginnya Ac.


"2 tahun Tuan." Ucap kepala devisi keungan dengan tergagap, Aaron sekarang sangat keras mendidik karyawannya. Tanpa mentolerir kesalahan sedikitpun, Membuat karyawan di Aa corp bekerja dengan penuh ke was- wasan.


"Cihh 2 tahun seperti ini kerjaan kamu." Aaron melempar map ke meja kepala devisi keuangan.


"Perbaiki, Jika masih kacau seperti itu siap- siap Aa corp tak menerima kesempatan kedua dan seterusnya. Apa kalian paham." Aaron menggebrak meja rapat.


"Pppahham Tuan." Sahut mereka serempak.


"Kembali ke tempat kalian." Aaron kembali mendudukkan dirinya dikursi rapat. Ben masih setia berdiri disamping Aaron, Ben juga merasakan takut jika Aaron terus- terusan tak berhati pada siapapun. Hingga handpone yang berada dalam saku Ben berbunyi, Ben meminta izin untuk mengangkatnya pada sang Bos.


"Bos, izin mau nerima telvond." Tanya Ben.


Aaron mengangguk sembari tanganya mencorat- coret file yang membutuhkan tanda tangannya.


Ben berjalan ke arah dinding pemisah antara ruang rapat dan ruangan Aaron.


Mendengar dengan seksama seseorang dibalik telvonnya hingga Ben tersenyum. Dia bahagia ternyata sesuatu yang selama berbulan- bulan ia tunggu membuahkan hasil.


Ingin memberitahu pada sang Bos, Namun diurungkan . Akan sangat menarik jika para sahabat memberikan kejutan padanya dan kejutan itu akan membuat seorang Aaron yang terkenal kejam, Dia akan menangis.


"Apa lupa ingatan." Ben membungkam bibirnya ketika suaranya membuat Aaron menoleh walau tak lama.


Setelah selesai nelvon , Ben kembali berdiri di samping Aaron. Menyampaikan rencana yang telah ia susun bersama para sahabatnya.


"Bos minggu depan, Kita di undang oleh Mr. Green untuk menghadiri ulang tahun perusahaannya." Ujar Ben.


"Dimana?" Sahut Aaron tanpa mengalihkan pandangannya pada kertas dan penanya.


"London." Sergah Ben.


"Kamu saja yang mewakili."


"Baiklah, Persiapkan semuanya." Timpal Ben bernjak dari duduknya.


"Siap Bos." Ben tersenyum penuh kemenangan. Dirinya harus membuat strategi yang epik untuk sang Bos Aaron. Ben Rindu Aaron yang selalu membuatnya kesal, yang julid pada dirinya. Namun kini biar waktu yang menjawab semua.


Aaron menjalankan mobilnya menuju rumah sakit, Menengok sang Bunda yang sekarang sakit- sakitan. Sebenarnya ia tak tega melihat bundanya sakit tapi dirinya juga tak dapat membuat obat untuk bundanya pulih. Obatnya Maya Afriaresa, Karena dirinya bunda Talia sakit- sakitan. Arkan yang selalu menemaninya ikut iba pada kondisibsang istri , Entah sampai kapan istrinya akan sembuh.


Dan untuk Aryan, Dirinya dirawat pelayan khusus yang diperintahkan Aaron untuk melayani si kecil Aryan ,agar sang bunda tak memikirkan sibungsu ketika bunda seperti sekarang ini.


Ceklekk.


" Bunda." Sapa Aaron yang melihat bundanya melamun dibelakang cendela.


Talia menoleh, Ia hanya tersenyum menanggapi sapaan Aaron.


Aaron berjongkok didepan Talia yang memakai kursi roda, Menatap lekat sang Bunda yang mulai kurus dan pucat.


"Apa ada kabar nak.?" Pertanyaan itu yang selalu keluar dari bibir Talia ketika Aaron berkunjung.


Aaron menggeleng tanpa berani menatap netra Talia yang mulai mengembun oleh air mata. Aaron tau bundanya masih belum bisa menerima kenyataannya namun sampai sekarang titik terang tentang Maya seperti hilang ditelan bumi.


"Sudahlah gak perlu bersedih, Ini bukan salah kamu . Ini sudah takdir nak, Bagaimanapun kita menolak takdir, kita tak bisa menghalaunya." Papar Talia mengelus Bahu Aaron.


"Iya bun aku tau tapi.."


"Ssttt jangan berfikir yang macam- macam. Rawatlah dirimu nak, Potong rambutnya sama ini juga cukur siapa tau nanti ada yang kesemsem sama kamu." Canda Talia namun hal itu membuat Aaron terpukul dengan ucapan bundanya.


Menurutnya Talia sudah mengiklaskan Maya pergi dari hidupnya.


"Enggak bun. Aku akan tetap menanti Maya sampai kapanpun, Hanya dia wanita yang ku mau." Sergah Aaron.


Talia memeluk putra sulungnya itu, Talia tau seberapa besar cinta Aaron pada Maya namun apa mau dikata kalau takdir tak mempersatukan mereka.