Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Akhir dari segalanya



Aaron berniat memboyong keluarga kecilnya kembali ke ibukota, Walaupun Maya berusaha merengek meminta Aaron untuk tetap tinggal di tempat yang kini sudah membuatnya nyaman. Meskipun rumah itu terkesan kecil dan sempit namun membuat Maya sangat enggan meninggalkannya.


Bukannya apa- apa Aaron mengajak Maya kembali ke ibukota. Sebab segala kecemasan yang dulu sempat terjadi. Kemungkinan besar sudah takkan ada lagi karena seseorang yang telah membuat keluarganya hancur sudah dimusnahkan dengan tangannya sendiri.


Dengan berbagai bujuk rayu sang pria yang begitu pandai dalam meluluhkan hatinya. Aaron berhasil membuat Maya menuruti kemauannya. Bukannya tak suka dengan rumah yang di tempati saat ini, namun pekerjaan juga membutuhkan dirinya. Sebab sudah berbulan- bulan dirinya pergi meninggalkan sanak saudara dan pekerjaannya yang sudah di pegang kendali oleh Ben.


Tekadnya sudah bulat untuk kembali lagi ke ibukota, kota yang sangat bersejarah dalam hidupnya dan kisah percintaannya dengan istri tercintanya.


"Baiklah by, jika itu sudah keputusanmu. Aku akan selalu mengikutimu selagi aku masih menjadi istrimu." putus Maya final, karena dirinya sangat enggan membuat Aaron kecewa padanya.


"Kenapa kamu ngomong gitu sayang, Selamanya kamu adalah istriku. Tak ada lagi yang akan memisahkan kita." Sergah Aaron menggenggam erat tangan Maya.


Seketika mereka menoleh serempak kala berita di tv menyiarkan sebuah kecelakaan beruntun hingga menewaskan beberapa orang. Namun yang membuat Maya membukatkan matanya kala pendengarannya mendengar nama yang sangat familiar menurutnya.


Jantung Maya berpacu cepat kala pendengarannya tak salah, bukan apa- apa Maya bersikap seperti itu. Karena menurutnya dirinya telah bersalah membohonginya di rumah sakit kala itu.


Berbeda dengan Aaron yang nampak tersenyum sinis melihat berita teesebut. Orang suruhannya telah berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Sehingga polisi tak menyadari sesuatu yang membuat korban yang telah meninggal.


"By, dia Rangga Luxio kah?" tanya Maya menunjuk ke arah televisi yang masih meblnyiarkan berita kecelakaan yang menewaskan seseorang yang cukup terpandang di kotanya.


"Biarkan saja sayang, itu ganjaran yang setimpal untuk orang- orang yang sudah membuat penderitaan di hidup orang lain." Sergah Aaron menatap sinis ke arah televisinya.


Maya menoleh ke arah Aaron yang memasang mimik wajah yang tak seceria seperti tadi . Tampang yang menurut Maya sangat sulit di gambarkan olehnya sendiri.


"By..." Panggil Maya sehingga membuat Aaron menoleh ke arahnya.


Dengan alis terangkat satu karena tengah di landa kebingungan kala tatapan istrinya begitu menelisik padanya.


"Sayang aku mengantuk, Besok kita harus bangun pagi- pagi sekali kan untuk berkemas. Yuk kita tidur, dedeknya udah ngantuk mom." Sergah Aaron mengelus perut buncit sang istri kala dirinya tau maksut dari tatapan menelisik Maya di wajahnya.


Pastilah Maya mencurigainya dengan kecelakaan yang menimpa Rangga. Tetapi Maya takkan bisa menuduhnya tanpa bukti yang kuat.


"Baiklah by." Sahut Maya menggapai tangan Aaron yang sudah menggantung di depan wajahnya.


Maya berusaha mengusir fikiran negatif yang mulai bersarang di otaknya.


"Plis enyahlah, gak mungkin juga kan Hubby yang melakukannya. Pliss May, Rangga sudah ditakdirkan mati mengenaskan. Jangan membuat masalah lagi dengan Hubby yang baru saja kembali." Batin Maya berusaha meyakinkan hatinya.


Bukan peduli pada Rangga namun Rangga sempat menyelamatkan hidupnya kala itu.


"Sayang kenapa." Tanya Aaron membelai wajah Maya yang sudah di dudukkannya di ranjang. Terpampang jelas raut wajahnya yang tengah memikirkan sesuatu.


"Ahh Gak apa- apa kok by." Sahut Maya dengan senyuman dibibirnya tak lupa menggenggam tangan suaminya yang tengah membelai pipinya.


"Sayang, Jangan pernah memikirkan pria lain selain aku. Jangan buat aku menyesal karena sudah kembali padamu." Sergah Aaron dengan kilat kecemburuan di matanya.


Maya tercengang melihat raut wajah Aaron, tak seharusnya dirinya memikirkan Rangga yang telah mengusiknya. Biarlah rasa bersalahnya terkubur bersama jasad yang entah kapan akan dikebumikan.


"Hubby, jangan berfikir macam- macam. Aku istrimu hy, maaf kalau aku masih sempat- sempatnya memikirkan Rangga . Tapi aku punya kesalahan padanya yang belum perna aku mengucapkan maaf padanya. Tolong sayang, jangan berbicara yang aneh- aneh ya. Aku menderita ditinggal kamu berbulan- bulan." Papar Maya kala Aaron menggeletukkan giginya sebab menahan amarahnya. Tangan Maya terulur menangkup wajah sang suami agar menghadap padanya.


Terlihat jelas penyesalan di mata Maya kala tatapan Aaron mengarah padanya. Sungguh Aaron sangat lemah kala menyangkut wanita tercintanya.


"Maafkan aku sayang,." Ucap Aaron menarik tangan Maya agar mendekap ke arahya. Tak lupa kecupan mesrah mendarat sempurna dikeningnya.


"Aku tau perasaanmu, karna memang dialah yang dulu perna menyelamatkanmu dan dia juga yang sudah memisahkan cinta kita. Namun aku sudah melupakannya karna kamu sudah menjadi milikku saat ini dan selamanya." Ujar Aaron semakin mempererat pelukannya. Aaron takut melukai hati Maya yang membuatnya semakin tak berdaya di hadapannya.


Biarlah Maya tak tau jika kematian Rangga ada sangkut pautnya pada dirinya. Aaron tak mau membuat Maya banyak beban yang di fikirkannya apalagi mengingat sebentar lagi malaikat kecik akan hadir di tengah- tengah mereka.


Aaron tak sabar menanti hari itu, hari dimana jiwanya semakin kuat karena kehadiran malaikat kecil yang ditunggunya.


Walau hanya dalam pantauan jarak jauh, Tak membuat Aaron melupakan jiwanya yang masih tumbuh di rahim wanita yang begitu di cintainya.


"Sayang jagain Mommy ya Son, jangan biarkan Mommy kecapekan ya." Ujar Aaron mengelus perut sang istri tak lupa kecupan hangatnya.


"Sok tau deh by. Belum di USG juga." Sungut Maya bersedekap dada kala kecupan itu sudah terlepas dari perut sang istri.


Aaron merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya kala biang masalahnya sudah di musnahkan oleh tangannya sendiri. Kini keluarga yang semula banyak masalah dan ujiannya yang bertubi- tubi, Ia usahakan untuk membuat sang istri dan calon buah hatinya bahagia sebisanya.


Sudah cukup penderitaan berbulan- bulan yang lalu bahkan bertahun- tahun yang lalu sirna bersamaan dengan lenyapnya sang pembuat onar di hidupnya.


Aaron bersyukur, karena Tuhan memberi kesempatan dirinya untuk tetap bersama wanita yang begitu di cintanya. Walau rintangan itu terlalu berat untuknya, Aaron yakin jika Maya adalah jodoh dunia akhiratnya.


Tangan Aaron menggenggam tangan Maya dengan ketulasan yang begitu dalam untuk sang istri.


***Cupppp...


Cuppppp***...


Kecupan pertama mendarat sempurna di kening Maya, dan disusul kecupan kedua mendarat tepat di bibirnya hingga beberapa menit lamanya.


"I LOVE YOU." ujar Aaron kala kecupan bibirnya terlepas, dirinya menangkup kedua sisi pipi sang istri dengan penuh kasih sayang.


Setelah berbagai cobaan menimpa kedua insan tersebut , tak sekalipun membuat kedua putus asa dan patah semangat. Sejatinya jika terus berikthiar dan bersabar niscaya, pengorbanan dan pernah mengkhianati hasilnya.


TAMATTT