
Maya dan Ben sedang Asyik menikmati sarapannya di restoran hotel yang sangatlah menggugah selera. Maya nampak gelisah karna Ben tadi menyuruhnya untuk tidak berpamitan pada Aaron . Yang ia takutkan Aaron akan khawatir dan benar saja belum ada satu jam mereka disana . Aaron tiba- tiba memeluk Maya dari belakang, kentara sekali kalau dia terburu- buru dengan nafas yang berderu kasar.
''Honey kenapa ninggalin aku hmm..??.'' Tanya Aaron semakin mempererat pelukannya tak lupa nafas memburunya.
''Bukan ninggalin kali, lu nya aja tidur kayak kebo dasar manja bener.'' Timpal Ben yang berada di depan mereka hanya terhalang oleh meja. Ben kembali menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya kala pemandangan didepannya ini sungguh tak mengenakkan.
'' Gau gak ngomong sama lu. Dasar bawahan laknat lu, Mana ada bawahan ngomongnya gitu sama atasan . Gua pecat baru tau rasa lu.'' Cecar Aaron. Aaron melepas pelukannya, ikut mendudukkan dirinya di samping sang kekasih Ia juga melemparkan serbet tepat di muka Ben .
''Ini nih yang gue bikin gedek sama lu. seenaknya aja main mecat orang.'' Timpal Ben. Ia juga tak terima dilempar serbet alhasil sedotan punya Ben melayang tepat ke arah dada Aaron.
''Udah ah jangan kayak bocah. buruan dihabisin keburu dingin.'' Timpal Maya dengan menyuapkan buah pisang yang telah ia pesan. Dengan secara perlahan Maya melahap pisang itu dengan gerakan sensualnya .Aaron dan Ben yang melihat itu hanya meneguk ludahnya kasar- kasar. Mereka membayangkan kalau kepunyaan mereka yang dilahap habis oleh Maya dnengan gerakan sensual bibirnya.
Aaron melirik ke arah Ben, Ia melihat dengan jelas kalau Ben sedang memandang sang kekasih dengan mulut yang terbuka dan dengan tatapan tak berkedip.
''Sialannn si Ben . pasti dia lagi bayangin begituan.'' Batin Aaron yang mengalihkan lagi pandangannya ke arah Maya, hal itu membuat si Junior kembali tegang.
Aaron berusaha menarik nafas dalam- dalam mencoba menetralkan hasrat yang semakin bergejolak. Melihat pemandangan yang menggugah iman membuat Aaron panas dingin padahal ruangan sudah ber- AC.
''Emmm... Honey sini aku minta pisangnya ya jangan banyak- banyak makan pisang takut gendut.'' Ujar Aaron sembari mengambil semua pisang yang ada dipiring. Melahapnya dengan cepat hingga membuatnya tersedak karena takut Maya akan memakannya lagi.
''Makanya hati- hati.'' Saran Maya memijat tengkuk Aaron yang sudah terbatuk- batuk.
''Gak kuat iman dia May.'' Ejek Ben sembari cengengesan.
''Ya ellah lu itu gak bakalan tau masalah orang gede . Udah diem aja.'' Sahut Ben.
''Udahlah Honey , Dia emang rada stress gak usah di tanggepin. Yuk jalan.'' Pungkas Aaron mengajak sang kekasih jalan- jalan. Membiarkan Ben yang masih terus menggerutu ditempat tadi karena telah dikacangi oleh keduanya.
Menyusuri trotoar dengan berjalan kaki sembari melewati beberapa bule yang sedang asik mengobrol di sepanjang trotoar.
Hingga kini mereka tiba di pinggiran pantai kuta, Dimana banyak bule yang berlalu lalang ditempat itu. ada yang berteduh, Ada yang berjemur dan ada pula yang berciuman di tempat terbuka. Sungguh pemandangan yang bikin gairah turun naik terus.
Aaron mengajak Maya menaiki speed boat awalnya Maya menolak sampai akhirnya Maya menerima ajakan Aaron karna takut ditinggal. Meskipun letak hotel dengan pantai tak jauh, mungkinkah itu hanya sebuah alibi.
''Jangan takut, santai aja ada aku disini.'' Ucap Aaron setelah mereka berada di atas speed boat. Ia menggenggam tangan Maya sesekali mengecup tangan itu dengan lembut.
Tanpa sepengetahuan Maya , Aaron mengabadikan foto Maya dengan sangat anggunnya .Rambutnya bergerak kesana kemari mengikuti arah angin membuat Maya nampak cantik.
Hingga sampai ke tengah laut, Tiba- tiba mesin mati. Hal itu membuat seorang Maya panik setengah mati. Aaron menggenggam tangan Maya agar lebih tenang ,Dengan cepat Maya memeluk Aaron antara takut dan panik semua menjadi satu. Hingga beberapa menit akhirnya speed boat kembali berjalan lagi. Membuat Maya tertawa karna ia di kerjai oleh sang nahkoda speed boat atas suruhan Aaron. Aaron lagi- lagi tak menyia- nyiakan kesempatan itu , Ia menjepret Maya meskipun dari jarak dekat dan hasilnya selalu memuaskan.