Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Celline bertemu Mayra



Seharian penuh Mayra dimanjakan dengan seseorang yang telah di utus oleh Rangga untuk melayani kemauan Mayra.


Mayra begitu antusias jika kedatangan tamu yang diharapkan apalagi tamu itu berusaha membuat dirinya tampil cantik dan lebih fress.


Dua orang yang telah memanjakan Mayra mengubahnya menjadi sesosok wanita yang sangat cantik ala putri kerajaan.


Rambutnya disangul ke atas memperlihatkan leher jenjangnya, di atasnya diberi tatanan mahkota kecil menghiasinya dengan rambut yang terjatuh di bagian depan di curly .Terkesan menambah keimutan seorang Mayra sedemikian rupa. Apalagi ditambah gaun yang memperlihatkan belahan dadanya dan bahunya, Gaun berwarna soft dengan butiran mutiara asli di bagian pinggulnya.


Mayra memutar- mutar tubuhnya di cermin, Memastikan dengan seksama takutnya ada yang kurang pas di matanya.


"Sempurna" Batin Mayra tersenyum bangga dengan pekerjaan dua orang yang telah di utus Rangga.


Sebenarnya Mayra walau tak berdandan sekalipun dirinya selalu cantik, Apalagi saat ini dirinya tengah disulap sedemikian rupa hingga menampakkan ratu ellizabet di dirinya.


Ceklekkkk.


"Woooww honey you're so beautiful honey." Ujar Rangga menghampiri Mayra ketika dirinya mendapati orang suruhannya telah menyelesaikan tugasnya. Dirinya tak sabar melihat betapa seksinya Mayra dengan gaun yang dibelinya kemarin dengan asistennya.


Rangga melangkahkan kakinya ke arah Mayra yang masih setia di depan cermin. Memeluknya dari belakang tak lupa mencium ceruk Mayra yang membuat seorang Rangga kecanduan dengan harum tubuh Mayra.


Netra matanya melotot ketika penglihatannya mengarah pada gundukan tersembunyi dibalik gaun itu.


"Sialll salah pilih gaun dia anjingg, Kalau kayak gini bakalan jadi tontonan pria bejat yang ada disana." Batin Rangga menelan ludahnya sendiri.


Tangan Rangga terulur menggapai sesuatu yang menanantang di balik gaun itu, Mayra yang masih sibuk dengan tatanan rambutnya tak menggubris apa yang dilakukan Rangga yang ia tau Rangga akan mengambil sesuatu.


"Aaww honey jangan." Mayra terjingkat ketika benda sensitifnya tiba- tiba diremas oleh Rangga. Hal itu membuat Rangga menarik tangannya kembali agar keluar dari balik gaun tersebut. Spontan juga dirinya memutar kursi yang diduduki Mayra agar melihat ke arahnya.


"Heyy denger Honey. Disini itu, wanita seperti itu sudah biasa apalagi hilang keperawanannya disini udah lumrah. Malah yang masih virgin dianggap norak." Terang Rangga agar Maya dengan lapang dada memberikan kenikmatan yang selama ini diimpikannya.


" Sudah berapa lama aku di london." Tanya Mayra antusias, Dirinya akan sedikit demi sedikit mengorek tentang fakta dirinya.


"Mmm darii kecil juga kamu disini." Sahut Rangga tergagap dirinya takut akan salah bicara.


"Kamu tau kalau aku virgin." Tanyanya lagi. Membuat seorang Rangga kelabakan atas pertanyaan yang terlontar dari bibir Mayra.


"Mmm gimana ya.." Rangga mencoba mengalihkan pembicaraan dengan melihat jam yang tengah melingkar di tangannya.


" Honey kita udah terlambat.Ayo kita jalan." Ujar Rangga menarik Mayra agar mengikuti dirinya. Rangga takut jika sampai rahasianya bocor sebelum waktunya, Apalagi cintanya pada Mayra tengah bersemi dengan indahnya. Dirinya enggan kehilangan moment dimana dirinya dan Mayra bersama sebelum ingatannya pulih.


Membukakan pintu untuk tuan putrinya, Membuat siapapun iri melihatnya termasuk pengawal dan pelayan yang melihat langsung tuannya berlaku romantis pada kekasihnya. Setau mereka tuannya itu jarang berlaku manis dengan seorang wanita karena menurut mereka jika tuannya adalah pria terkejam. Akan melakukan apapun demi mendapatkan sesuatu yang diinginkannya itulah Rangga Luxio.


Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Dirinya sekilas melirik ke arah Mayra yang tengah tersenyum dengan ponselnya. Membuat Rangga bingung, Dengan siapakah dirinya bertukar pesan sehingga nampak binar bahagia dari Maya.


"Honey lagi apaa kamu?" Tanya Rangga melirik sekilas ke arah Mayra.


"Oh ini lagi bales chat sama temen." Sahut Mayra tanpa mengalihkan netranya pada ponselnya.


" Temen siapa? kenapa selama ini gak ada yang ngomong sama gua kalau Mayra ada temen disini." Batin Rangga gelisah.


"Cewek apa cowok honey." Tanya Rangga penasaran karena pengawalnya tak ada yang melapor jika Mayra sudah ada teman di London.


"Ihh cemburuan bangett .Niihhh lihat.." Mayra memperlihatkan layar ponselnya pada Rangga, Dirinya takut Rangga akan curiga jika dirinya mempunyai teman baru.


"Celine." Ujar Rangga memastikan.


"Heem baru kenal kemarin waktu di mall, Dia gak sengaja jatuhin barang- barangku. Dan sekarang kita berteman, Dia lucu banget orangnya." Papar Mayra.


" Tapi kamu gak apa- apa kan honey." Tanya Rangga.


Flasback on.


Mayra dan katty menyusuri toko sepatu di mall terbesar di London .Namun ketika Mayra ke toilet , ia ditabrak oleh seseorang yang tengah berjalan tergesa- gesa entah apa yang mengejarnya. Hingga gadis tersebut jatuh terpental bersamaan dengan Mayra yang terjatuh.


Ketika gadis tersebut melihat ke arah Mayra yang terjatuh , Ia begitu syok terligat jelas gadis tersebut melihat Mayra dengan mulut terbuka lebar.


" Kak Maya." Pekik Celine berusaha membantu Mayra berdiri.


"Siapa ya?" Tanya Mayra dengan bingung, seingatnya dirinys tak mengenali gadis di depannya ini.


" Aku celine kak sepupu kak Aaron, calon suami kakak." Sergah Celine memeluk Mayra dengan erat.


"*Sepupu Aaron berarti bisa dong aku minta titik terang semuannya dia pasti tau." Batin Mayra.


"Aku gak inget apapun, Aku lupa semua kejadian di masa lalu. Jadi aku gak inget siapa Aaron dan siapa kamu." Papar Mayra membuat raut muka Celine berubah menjadi mendung.


"Berarti lupa ingatan dong, Lahh bukannya kecelakaannya di indonesia ngapain kak Maya ada disini kalau gak ada yang bawa. Harus cari tau ini." Batin Celine penasaran.


Celine mengajak Mayra duduk di taman Mall , Dirinya sangat antusias menunggu cerita dari Mayra. Apalagi selama dua bulan ini keluarga Addison mencarinya dengan mengerahkan seluruh orang suruhannya namun hasilnya nihil.


"Kak tolong jelaskan kenapa kakak ada disini, Bukannya kakak kecelakaannya di indonesia kenapa sekarang ada didisini. Aneh benget." Tanya Celine antusias.


"Aku gak tau, Yang aku tau sewaktu aku bangun udah di negeri London dan punya tunangan. Itu aja." terang Mayra.


"Whatt tunangan" Pekik Celine membuat beberapa orang menoleh ke arahnya. Celine membekap mulutnya sendiri, Dirinya terlalu kaget hingga terjadilah mulutnya kelepasan.


"Iya, Dia Rangga yang mengaku tunanganku." Sahut Mayra menerawang kedepan dengan tatapan kosong.


"Aneh. tapi aku yakin si Rangga itu dalang dari masalahnya." Mayra hanya menanggapi dengan mengedihkan bahu, Sungguh dirinya tak tau apa- apa.


"Padahal bunda Talia disana nungguin kakak lohh dia sampek sakit- sakitan ketika tau kakak menghilang, Aku aja lihatnya gak tega." Terang Celine sekilas melihat raut wajah Mayra yang sepertinya terhanyut.


"Bundaku." Tanya Mayra.


"Bukan sih lebih tepatnya bundanya kak Aaron yang udah nganggap kak Maya seperti anaknya ,kalau orang tua kak Maya sendiri udah meninggal" Ungkap Celine lagi.


"Mmm celine kamu ada foto Aaron?" Mayra hanya memastikan.


"Oh ada.. Sebentar." Celine mencari foto Aaron yang menurutnya jelas agar Maya dengan mudah mengingatnya.


"Ini kak."


Mayra mengambil ponsel itu dan melihatnya dengan jeli. Wajah Aaron sangat familiar, dia selalu hadir di mimpi Mayra selama ia sembuh dari komanya.


"Pria ini selalu hadir dimimpiku cel." Sergah Mayra ketika netranya menelisik setiap inci wajah Aaron.


"Lah emang dia kan calon suami kakak, Berarti kalian berjodoh kak. Kak Aaron selalu hadir dimimpi kakak, Itu saja sudah menunjukkan bahwa kak Aaron sangat mencintai kakak. Dia hampir depresi loh kak gara- gara kehilangan kakak." Ungkap Celine lagi membuat hati Mayra bergemuruh.


"Non Mayra." Panggil seseorang terlihat tergesa- gesa. Ya, Katty kelabakan mencari sang Nona kala mencari di toilet tak menemukan sang Nona. Dirinya takut jika tuannya akan murka padanya.


"Oh katty. Sebentar ya." Sahut Mayra, mengetik sesuatu di handpone milik Celine.


"Simpan nomerku ,nanti hubungi aku dan jangan bilang ke siapa- siapa kalau kita pernah bertemu?" Bisik Mayra sembari mengembalikan handpone Celline.


Celinne hanya membalas dengan angkat jempolnya sebelum Mayra berlalu.