Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Chapter 55



Rangga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sungguh dirinya tersiksa mendengar Maya terus mendesah dan merintih. Apalagi sekarang Maya membuka sweater hingga sebatas lengan hingga menampakkan belahan dadanya yang super.


Sesampai di basement hotel, Maya mengumpulkan kesadarannya ia membelalakkan mata ketika mendapati dirinya sudah berada di basement hotel.


Rangga menghentikan mobilnya melirik sekilas Maya yang masih nampak kebingungan.


''Ngga ngapain mstt kesini katanya mau ke dokter.'' Ujar Maya ia melihat ke arah Rangga.


''Dokternya akan datang kesini May.'' Sahut Rangga mendekatkan diri, Ia mengelus lengan Maya hingga membuat Maya hilang kendali dirinya mendesah tak karuan ketika tangan Rangga menyentuh kulitnya. Rangga membenarkan sweater itu, takutnya ada sesama jenisnya horni ketika melihat tubuh Maya.


''Jangan ahh mendekat ngga'' Sahut Maya, dirinya bingung dengan tubuhnya sendiri kenapa bisa menginginkan sentuhan dari pria yang tidak dicintainya.


''Tahan ya cantik kita akan menyembuhkannya.'' Timpal Rangga membelai wajah Maya. Maya memejamkan matanya menikmati sentuhan yang diberikan Rangga meskipun dirinya bingung pada dirinya sendiri.


''Tuhann kenapa dengan tubuhku, Aku ingin menolak tapi tubuhku menerima sentuhan ini.'' Batin Maya.


Rangga menggendong Maya lagi menuju tempat yang sudah di pesannya. Maya pasrah dia sudah tak bertenaga melawan Rangga yang sejak didalam lift ia terus mencumbunya dan respon tubuhnya juga menerima sentuhan Rangga.


Ketika pintu kamar terbuka Rangga menurunkan Maya. Sungguh hasrat Rangga yang tertahan sejak tadi kini akan tersalurkan dengan seorang wanita yang membuat libidonya naik drastis.



Rangga mendorong Maya ke tembok, Ia mengukung tubuh Maya memandang lekat wajah yang kini sayu namun masih tetap cantik. Tak membuang lama Rangga kembali melahap bibir Maya dengan rakus tak hanya di situ dirinya juga membuat tanda kemerahan di lehernya. Maya pasrah dirinya seperti lemah tak bertulang namun bibirnya tak henti- hentinya mendesah.


Rangga menggiring Maya ke arah ranjang tanpa melepaskan ciuman panasnya.


Maya tertidur terlentang bersamaan dengan Rangga yang langsung mengukungnya.


''Ngga jangan ahh'' Ucap Maya. Rangga membuka sweater membung ke sembarang arah. Menyisakan tanktop yang dengan sempurna menutupi sebagian tubuhnya. Dirinya kembali menikmati leher mulus itu tanpa cela , Menyingkap tanktop hingga nampak perut rata milik Maya. Rangga menyingkap lagi sampai ke atas hingga gunung kembar menyembul dibalik branya.


''Aakkuu mohh..oonn jjjaa..ngann'' Ucap Maya tergagap.


Tak menggubris ucapan Maya, Rangga langsung melahap benda kenyal itu seperti bayi kehausan, Memilin, \*\*\*\*\*\*\* dan disertai gigitan kecil hingga membuat Maya merintih.


Tangan Rangga kembali menyusup ke dalam rok pendek yang dipakai Maya. Namun sebelum tangan itu menyentuh area sensitifnya tiba- tiba Rangga terpental ke lantai.


Aaron menghampiri Maya yang terlentang di atas kasur bermaksut menyelimuti dengan jasnya karna Maya sudah hampir terlanjang.



Ketika sudah memasang jasnya Aaron kembali menghampiri Rangga, Mencengkram kerah bajunya.


'' Lu cari mati hahh???Bajingann.'' Bentak Aaron tepat didepan muka Rangga.


Buugghhh.


Rangga kembali tersungkur mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya ia tersenyum sinis.


Melihat senyuman Rangga membuat Aaron kembali tersulut emosi. Menurut Aaron rangga meremehkannya.


***Bughhh


Bughhhh


Bugh***.


"Ar udah kita cabut, Kasian Maya dia sangat tersiksa karna obat setan itu." Bujuk Ben. Aaron melihat ke arah ranjang, memandang wajah Maya yang memerah , Maya juga menggigit bibirnya agar tak mengeluarkan ******* lagi.


Tanpa pikir panjang Aaron menggendong Maya mengeluarkannya dari kamar terkutuk itu. Maya sungguh tersiksa dengan tubuhnya saat ini, Ia berusaha meredam gejolak ditubuhnya namun usahanya sia- sia.


Aaron dan Maya duduk dibelakang sedangkan Ben menjadi sopir mereka. Aaron memandang wajah sang calon istri yang terpejam seperti menahan sesuatu. Tangan saling bertaut dan keringat bercucuran dari pelipisnya.


''Sayang buka matamu.'' pinta Aaron.


Hanya ditanggapi gelengan oleh Maya. Aaron menyibak rambut Maya, Matanya membulat mendapati banyak tanda merah di leher dan sekitar dadanya. Tadi dirinya kurang fokus pada tubuh Maya karna dirinya sudah sangat emosi hingga tak melihat tanda yang diberikan Rangga ditubuhnya.


Aaron mengepalkan tangannya, Kalau sampai dirinya tak datang tepat waktu mungkin Maya akan kehilangan sesuatu yang berharga pada dirinya dan mungkin itu akan membuatnya sampai depresi.