
Dengan hati masih bahagia lantaran kabar dirinya tengah hamil membuat Maya yang kemarin lemah tak bertenaga kini sudah bisa beraktivitas kembali. Ia takut Aaron akan melarangnya lagi ketika tubuhnya terlihat lemah di mata Aaron.
Terekam jelas di ingatannya kala Aaron melarangnya cek ke rumah sakit, ingin memastikan apa dirinya sungguhan hamil atau hanya terkaan Revan saja.
Dirinya memaksakan diri untuk sehat kembali, Menurutnya ia sudah tak sanggup menunggu kepastian yang masih belum terungkap.
"By, Ayo bangun. Udah janjikan kalau aku sehat kita cek kehamilan." Ujar Maya menggoyangkan bahu Aaron yang tengah tertidur dengan pulasnya, Meskipun jam sudah menunjukkan waktu menjelang siang namun tak membuat Aaron terbangun dari tidurnya.
"Euugghhh...." Lenguhan Aaron namun malah memunggungi Maya yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Yeyyy.... Malah ganti posisi." Ujar Maya mendengus kesal dengan tingkah Aaron yang sulit di bangunkan.
Memang semalam Aaron tidur larut malam bersamaan dengan Ben yang tengah membahas perihal pekerjaannya.
Entah jam berapa semalam Aaron dan Ben menyelesaikan pekerjaannya sehingga Maya tak mengetahui kapan masuknya Aaron ke kamarnya.
"By.. Bangun yuk." Panggil Maya lagi namun dengan kejahilannya yang membuat tanda merah di leher Aaron.
Hal itu sukses membuat Aaron mendesah dalam keadaan mata terpejam lalu ia membalikkan badan mencoba melihat siapa yang telah mengusik tidurnya.
Senyumannya mengembang kala mendapati istrinya sudah nampak fres dan lebih segar dari kemarin apalagi dengan riasan naturalnya yang membuat Maya lebih berseri lagi.
"Ayo by, Anterin ke dokter." Ujar Maya manja, Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Aaron yang masih berposisi terlentang. Niat hati agar Aaron bisa cepat bangun dari tidurnya namun apalah daya niatnya malah membuat Aaron lebih lama menahannya.
"Kamu nakal ya." Timpal Aaron menarik Maya dengan gerakan cepatnya lalu mengukungnya.
"Aww.." Pekik Maya sudah dalam kukungan Aaron. Bukannya bersalah , Aaron malah mengedipkan mata genitnya pada sang istri.
"Suruh siapa bangunin aku malah bikin si ono tegang." Ucap Aaron menunjuk bagian bawahnya dengan gerakan matanya.
"Ihh by,.. Kamu bau tau. Bau acem, bau jigong juga. Lepasin ihhh." Ujar Maya kakinya memberontak dengan menendang- nendang namun usahanya nihil, Aaron terlalu pandai untuk menghindarinya.
"Beri aku morning kiss baru aku lepasin kamu. Kalau tidak jangan coba- coba kabur dariku sayang." Sahut Aaron mengedipkan mata genitnya.
Bukannya menuruti ,Maya malah memeloti Aaron dengan garangnya. Kesal sudah pasti, Namun tingkah yang di tunjukkan Maya padanya membuat Aaron ingin tertawa namun ia sangat pandai menahannya.
"Jangan aneh- aneh by kammppttt." Belum selesai dengan cecarannya, Aaron membungkam bibir bawel istrinya dengan sebuah ciuman lembut nan intens.
Kedua tangan Maya yang sedari tadi berusaha mendorong dada bidang Aaron sudah diamankan dengan mengunci di atas kepala sang istri dengan kedua tangannya.
"Mppttt..." ******* Maya kala Aaron semakin menuntut mencumbunya.
"Kamu membuatku gila sayang." Ucap Aaron dengan nafas memburu dirinya memandang wajah Maya dengan binar kebahagian. Jika saja dirinya tak ingat dengan ucapan Revan walau terpotong olehnya, Mungkin Maya sudah habis dilahapnya kini.
"Kamu beruntung kali ini sayang berkat baby aku urungkan memakanmu untuk hari ini.. Tapi jangan senang dulu jika tidak benar tentang kehamilanmu ini jangan harap kamu bisa nyenyak tidurnya nanti malam." Ucap Aaron kemudian bangkit dari atas tubuh sang istri tak lupa mendaratkan kecupan kasih sayangnya tepat di dahi sang ratu hatinya.
Bisa di bayangkan semenjak kejadian di kamar mandi tempo lalu baik Aaron ataupun Maya masih enggan membahas hal intim seperti itu.
Apalagi kalutnya hati Aaron tak bisa membuatnya berfikir jernih sehingga melangkahkan kakinya ke arah jalan yang salah, Tak tau nanti jika istrinya tau yang sebenarnya tentang kelakuan buruknya.
"Dasar Hubby nyebelin, Aku udah rapi juga malah di jadiin wewegombel kayak gini." Teriak Maya kala Aaron dengan santainya memasuki kamar mandi.
"Kamu juga nyebelin." Sahut Aaron dengan di balas teriakan pula, Tak terima dengan apa yang di ucapkan sang istri.
"Aku jitak kamu nanti by." Sergah Maya merapikan kembali penampilannya di depan meja riasnya. Akankah ini akhir dari segalanya ketika kehadiran sosok mungil di tengah- tengah mereka berdua.
"Semoga kamu beneran hadir ya diperut Mommy, Dengan kehadiranmu juga semoga semua masalah yang menimpa Mommy dan Daddy sudah tidak ada lagi." Batin Maya mengelus perut ratanya dengan senyuman kebahagiaan.
Dunianya seakan kembali berwarna ketika apa yang ada di dalam doanya kini terkabul meski awalnya ragu dengan respon sang suami seperti yang tak menginginkannya.
Kini hatinya lega jika memang Aaron menerima calon bayinya ini dengan kelapangan dadanya.
Maya sempat ragu dengan rasa cinta yang dimiliki Aaron ketika mengingat bahwa sang suami belum siap memiliki keturunan dan meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
Wanita mana yang tak kecewa ketika pria yang di cintainya dengan sepenuh jiwa dan hatinya masih belum siap memiliki keturunan dengannya. Apalagi mereka saling mencintai, Tak ada halangan lagi untuk membuahkan hasil.
Namun dengan kata- kata Aaron saja membuat dunia Maya runtuh seketika. Seharusnya setelah menikah, Kedua insan tengah panas- panasnya berlomba- lomba membuat keturunan. Bukankah hal itu sangat aneh untuk Aaron jika tak menginginkan keturunan pikir Maya. Bukankah setiap hubungan rumah tangga yang diinginkan memiliki keturunan.
"Apa yang sedang kamu fikirkan sayang." Ujar Aaron memeluk mesra Maya dari belakang hingga membuat Maya terjingkat kaget saking asiknya melamun bahkan sampai tak menyadari kehadiran Aaron.
"Kamu ngagetin by." Ujar Maya mengelus dadanya.
Aaron menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Maya, Bisa di lihat dari pantulan kaca betapa Maya sangat menikmati aktivitasnya dengan memejamkan matanya.
Melihat tingkah sang istri membuat Aaron tersenyum bahagia, Bisa di pastikan dirinya sangat beruntung memiliki istri seperti istrinya saat ini.
Walau sering dikecewakan tak membuat Maya meninggalkannya eh ralat Aaron yang berusaha sekeras mungkin agar wanita yang di cintainya tetap di sampingnya.
"Akkhhhhh..." Pekik Maya membuka sempurna kelopak matanya kala merasakan panas yang menjalar ke seluruh sarafnya.
"Sakit by." Sergah Maya memukul tangan Aaron yang masih setia melingkar di perut ratanya.
"Whattt, By... kenapa jadi gini sihhhh.." Ujar Maya kesal kala melihat dari pantulan cermin. Menampakkan warna merah keungu- unguan di leher yang sengaja ia perlihatkan karena dirinya menguncir kuda rambutnya, hingga menampakkan leher jenjangnya yang mulus.
"Jangan pernah menampakkan sesuatu yang ada pada dirimu selain padaku sayang." Timpal Aaron menarik kuncir yang bertengger manis di rambut Maya, Alhasil rambut hitam leganya terurai dengan indahnya.
"Biar gak gerah by." Sahut Maya membalikkan badanya agar dengan bebas melihat suami yang selalu membuat dirinya dongkol setengah mati.