Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Siposesiv Aaron



Revan memelototkan matanya ketika alat yang akan digunakan untuk memeriksa Maya dihempaskan begitu saja oleh Aaron. Harusnya Revanlah yang marah kala sesuatu yang sangat berarti untuknya terkapar begitu saja di lantai.


Dan kini yang terjadi Aaronlah yang seperti tengah menahan amarah padanya, Revan sendiri di buat bingung oleh tingkah sang sahabat itu.


"Apasih Ar, Gua kesini mau meriksa bini lu. Kenapa kelakuan lu kayak gini." Ucap Revan dengan rasa geramnya karena Aaron tak meminta maaf atas kesalahannya dan malah menyiratkan kemarahan untuknya.


"Jangan ngambil kesempatan lu Van, Nih bini gua. Mau gua bunuh lu hah.." Bentak Aaron mendekap erat tubuh sang istri.


Yang di pelukpun merasa bingung dengan tingkah suaminya, Mengambil kesempatan yang gimana pikir Maya.


"Kesempatan apaan sih.?" Ucap Revan beranjak dari kasur untuk mengambil stetoskop yang berada di lantai karna ulah Aaron.


"By.." Timpal Maya yang merasa pengap ketika pelukan Aaron semakin mengerat.


Aaron melerai pelukannya namun bukan berarti melepaskan pelukannya, Perlakuan tersebut membuat ketiga orang yang berada dalam satu ruangan dengannya hanya tersenyum samar tampak menampakkannya.


Revan kembali menaiki ranjang dan langsung disambut pelototan mata lagi oleh Aaron, Ia bingung sebenarnya apa kesalahannya sehingga Aaron sepertinya sangat dongkol dengannya.


"Lu kenapa sih Ar, Niat kagak sih manggil gua buat meriksa bini lu." Ucap Revan kesal karena Aaron masih setia melihatnya dengan pandangan yang tak biasa.


"Gua niat manngil lu buat meriksa bukan buat cari- cari kesempatan megang bini gua tolol." Sergah Aaron.


"By, Jangan gini dong. Revan niatnya juga meriksa aku. Kan tadi kamu yang maksa." Timpal Maya yang lumayan terganggu dengan tingkah kedua sahabat itu.


"Iya. aku manggil dia buat meriksa kamu bukan malah megang- megang kamu Sayang. Apalagi ..." Ucapan Aaron terpotong ketika Revan menyela paham dengan apa yang di maksut sahabatnya.


"Lu gendeng apa norak sih, Kalau gak di pegang mana bisa tau gua kondisi bini lu bego." Ucap Aaron menonyor dahi Aaron hingga membuat tubuh Aaron terhuyung ke belakang.


"Tapi kan gak git.." Timpal Aaron membela diri namun tanpa memberi ruang Aaron berbicara Revan kembali menyelanya.


"Kok ada CEO bego kayak lu Ar, Jadi kagak nih periksannya. Gua ada pasien lain soalnya nih." Tanya Revan pada Aaron yang masih bingung akan keputisannya. Tanpa ada jawaban dari Aaron, Tangan Revan menarik stetoskopnya mengarah pada dada bagian atas Maya.


"Van." Sergah Aaron mencekal tangan Revan yang sudah mengecek denyut jantung Maya.


"By... Ini hanya periksa gak lebih by, Jangan aneh- aneh deh." Ujar Maya dengan suara lemahnya, Dirinya muak dengan tingkah posesive Aaron yang takkan berhenti ketika ada sesosok pria yang menyentuhnya.


"Van.." Ucap Aaron yang tak menggubris ucapan Maya, Mana bisa dirinya melihat istri tercintanya tersentuh oleh pria lain.


"Bentar Ar, Gua minta waktunya sebentar plis redam dulu sikap posesive lu kali ini aja." Timpal Revan dengan tampang serius hingga membuat Aaron membeku di tempat, tak biasanya sang sahabat bersikap seserius ini ketika tak ada bahaya pada diri pasiennya.


Tanpa adanya larangan lagi, Aaron pasrah ketika tubuh istrinya disentuh oleh sahabatnya sendiri.


Aaron merebahkan tubuh Maya menurutnya agar Revan lebih mudah lagi dalam melakukan pemeriksaan meski dirinya dalam keadaan berat hati. Aaron tak ingin beranjak dari kasurnya, Biarlah dirinya di cap terlalu lebay oleh ke dua pelayannya yang terpenting dirinya ada di saat istrinya membutuhkannya.


"Kalau tau gini, mending gua panggil dokter cewek dari pada Revan sableng ini yang nangani bini gua." Batin Aaron dengan netra terus melihat ke arah gerakan tangan Revan.


Hingga beberapa menit dengan keseriusan, Revan kembali menurunkan stetoskop ke arah perut rata Maya di balik bajunya, Namun dengan sigap Aaron kembali mencekal lengan Revan dengan erat .


"Van.." Panggil Aaron.


"By.. Makin lama kalau kamu gak bisa diem by." Timpal Maya.


"Oke baiklah, Van lanjutkan." Ucap Aaron kembali pasrah ketika suara lemah itu juga berbicara.


Aaron duduk sembari bersedekap dada di samping tubuh sang istri. Berusaha memahami apa yang di lakukan Revan pada perut istrinya hingga di persekian detik dirinya seperti tersengat listrik kala tangannya di tarik oleh Revan dan di taruh di atas perut sang istri.


Degggg.....


"A- apaa mungkin?." Batin Aaron bertanya- tanya walau tak ada pergerakan di dalamnya namun Aaron sangat paham dengan yang di lakukan sahabatnya padanya.


"Kau merasakannya sobat.?" Tanya Revan dengan antusias.


"Jangan mengada- ngada Van." Ucap Aaron menarik tangannya kembali, Maya tak mengerti dengan Interaksi kedua sahabat itu sangat membuatnya bingung. Tanpa mampu menahan rasa penasarannya Maya bertanya kepada sang dokter.


"Kenapa Van.?" Tanya Maya ragu, Dirinya takut dirinya memiliki penyakit serius yang dirinyapun tak tau menau.


"Kamu sepertinya ham..."


"Van, Jangan mengada- ngada. Aku yakin istriku hanya kecapekan bukan apa yang ada di dalam fikiranmu." Sergah Aaron menyela ucapan Revan.


"Tapi Ar.."


"Gua bilang berhenti Revan." Bentak Aaron berdiri menghampiri Revan dan mecekram kerah jas Revan.


"By, Ada apa? Apa yang terjadi denganku?." Tanya Maya mendudukkan dirinya kala melihat Aaron yang tengah kalap dengan ucapan Revan yang terus terpotong olehnya.


"Pergi sekarang van." Ucap Aaron tak menggubris pertanyaan bertubi- tubi dari sang istri.


"Aku berbicara apa adanya Ar." Ujar Revan bingung dengan sikap Aaron yang di luar dugaan menurutnya, padahal dirinya sangat antusias ketika memeriksa istri dari sang sahabatnya yang tengah hamil.


"Pergi." Bentak Aaron mendorong tubuh kekar Revan ke sembarang arah.


Revan mengalah dengan apa yang dilakukan Aaron, Dirinya akan mencari tau tentang apa penyebab Aaron menjadi seperti itu.


"Oke fine gua cabut." Ujar Revan mengalah, ia mengambil tas dan alat- alat yang di gunakan tadi dan memasukkannya lagi ke dalam tasnya.


Revan melenggang pergi dengan perasaan bingung bercampur dongkol, Tak biasanya Aaron semarah itu padanya dengan kesalahan yang dirinya tak tau apa.


Hingga Revan menerka- nerka jika Aaron tak menginginkan janin yang berada di dalam kandungan istrinya saat ini.


"Mana mungkin Aaron tak menginginkannya bukanya inilah hal yang di tunggu- tunggu oleh mereka berdua setelah cinta mereka bersatu." Batin Revan menuruni anak tangga dengan perasaan yang campur aduk.


Bagaimanapun seorang pria dan wanita yang saling mencintai menyatu dalam sebuah hubungan rumah tangga, Hal pertama yang di inginkannya adalah seorang keturunan. Namun apa yang di lakukan Aaron sangat berbanding terbalik.


Bersambung........