
Setelah pergelutan panas di dalam mobil tersebut, Aaron kembali menjalankan kuda besinya ke arah tujuannya. Rasa- rasanya dirinya sangat munafik dengan dirinya sendiri sebab sewaktu di kamar bersama sang istri, Aaron berucap takkan menyentuh Maya karena takut akan menyakitinya dan calon bayinya. Dan akan melahap habis tubuh istrinya ketika dokter sudah memastikan bahwa sang istri tidak hamil.
Tetapi apa yang baru saja di lakukannya sangat di luar dugaannya, dimana dirinya tak henti- hentinya menghujam tubuh inti sang istri tanpa ampun.
Maya mlengos ke samping ketika tatapan Aaron terlihat mengarah padanya, Dirinya kesal tapi semuanya sudah terjadi dan ia pun sangat menikmatinya.
"Gak usah kayak gitu, Tadi juga nikmatin kok." Ucap Aaron menoel dagu sang istri yang tengah bad mood.
"Bodo." Ketus Maya.
"Idiihhh, Ngambek. Baru aja bilang Ahhh By lebih dalam lagi, Aku suka by." Ujar Aaron menirukan gaya bicara Maya dan tak lupa gaya centilnya bahkan bisa di bilang mirip banci.
"By, Sumpah aku jijik lihat kamu kayak gitu." Cecar Maya begidik ngeri, bisa dibayangkan ngerinya seorang pria bertubuh kekar tapi kelakuannya mirip banci.
"Bodo." Ketus Aaron membalas ketusnya kata- kata Maya.
"Ihhh nyebelin." Timpal Maya menggepak bahu Aaron.
Hingga setelah beberapa menit di selingi candaan dan bercinta di sepanjang jalan, kini mobil Aaron terparkir sempurna di pelataran rumah sakit milik Revan.
Kenapa milik Revan, tentu saja jawabanya karena rumah sakit inilah yang sangat di percayai oleh Aaron bukan karna milik sahabatnya tetapi juga rumah sakit ini sangat mengutamakan pasiennya itu yang paling penting. Apalagi dokter yang bekerja disini lulusan internasional jadi jangan diragukan lagi kejeniusannya.
Dan mengapa Aaron tidak membawa ke rumah sakit yang kemarin kala Aaron meminta resep penunda kehamilan. Jawabanya hanya satu yaitu Aaron merasakan janggal di rumah sakit tersebut entah itu apa yanh jelas Aaron masih berusaha mencari tahunya.
"Pegang tanganku." Sergah Aaron mencekal tangan Maya kala melihat sang istri yang melangkahkan kakinya tanpa ada suami disisinya.
"By, aku takut vanilamu masih mengenang didalam sana by." Bisik Maya mengeluarkan apa yang sedsri tadi di fikirkannya.
"Vanila apaan sih sayang." Aaron mengernyit dengan ucapan Maya, dirinya bingung dengan apa yang di bahas sang istri.
"Ihhh dasar loading nih. Ituloh by cairan punya kamu yang di dalam sini." Timpal Maya kesal mengusap perut ratanya.
"Ohhh....hahahaha kamu ada- ada aja sayang, Biarlah mereka tau kalau vanilaku paling topcer." Seru Aaron merangkul pundak Maya dan berjalan bebarengan.
"Ihh by kamu gak malu hah, Dasar muka tembok." Sahut Maya bersedekap dada namun ia tetap menerima perlakuan Aaron.
Dengan wajah tertekuk Maya pasrah ketika mereka sudah masuk ke dalam ruangan spesialis kandungan. Lain halnya dengan Aaron yang tak pernah luntur senyuman yang membingkai wajah tampannya, hingga membuat siapa saja menyangka bahwa Aaron sangat bahagia dengan kehamilan sang istri.
"Ada yang bisa saya bantu tuan." Ucap dokter wanita yang bertag Nadia tersebut berbasa- basi.
"Begini dok, Saya mau cek. Mmm sebenarnya saya hamil atau tidaknya dok." Timpal Maya ragu namun dengan genggaman tangan Aaron membuat Maya lebih rilex lagi.
"Sudah telat datang bulan kah nona?" Tanya Nadia mencari sesuatu di lacinya.
"Bulan ini belum dapat dok." timpal Maya meremas tangan Aaron, ia takut apa yang di inginkannya hanya bayangannya saja dan akan membuat Aaron kecewa apalagi dengan sikap Aaron yang sepertinya juga mengharapkan kehamilannya.
"Bisa di test dulu nona." Ujar Nadin memberikan alat testpack pada Maya, dengan tangan bergetar Maya mengambilnya .
"Kamar mandinya di sebelah sana nona.?" Ujar Dokter Nadia menunjuk ke arah kamar mandi.
Maya menoleh sekilas ke arah Aaron dan hanya diangguki oleh Aaron ,menyampaikan lewat anggukkan bahwa Maya harus yakin dengan semuannya.
Setelah punggung itu sudah menghilang Aaron menarik nafas kasar, entah bagaimana nanti hasilnya dirinya harus bisa berlapang dada menerimanya.
"Haaahhhhh." Aaron menghembuskan nafas kasar kesekian kalinya. Hingga membuat dokter Nadia menggelengkan kepala.
"Gelisah ya tuan." Ujar Dokter Nadia membuat Aaron tersadar jika bukan hanya dirinya saja yang berada disana.
Ceklek......
Tanpa permisi seseorang berjas putih memasuki ruangan spesialis kandungan hingga membuat Aaron dan dokter Nadia menole bersamaan.
"Udah percaya lu hah?" Sergah Revan menonyor bahu Aaron hingga terhuyung.
"****** lu." Umpat Aaron.
Interaksi mereka berdua hanya ditanggapi senyuman samar oleh sang dokter cantik spesialis kandungan tersebut.
"Hon dimann...." Ucap Revan namun setelah itu dirinya merapatkan kembali bibirnya. Bisa gawat kalau Aaron tau, jadi bulan- bulanan sahabatnya dirinya pikir Revan.
"Apasih van." Tanya Aaron kala melihat Revan terdiam sebelum menyelesaikan ucapannya.
"Anu.. itu.. Mmm Bini lu mana?." tanya Revan gelagapan. Sekilas dirinya melirik Nadia yang menunduk dengan menahan tawanya.
***ceklekk....
Maya membuka pintu kamar mandi dengan rasa gelisahnya***, Maya menatap sorot mata tajam Aaron yang juga menatap ke arahnya.
Maya berjalan pelan ke arah Dokter Nadia yang juga sama menatapnya.
"Dok." Panggil Maya menyerahkan benda pipih itu kepada sang Dokter.
Hingga detik kemudian suara Dokter Nadia membuat Aaron dan Maya mematung di tempat.
"Selamat nona anda hamil, Dan sebentar lagi anda akan menjadi seorang ibu." Ucap Nadia dengan senyuman merekahnya.
Maya bahagia kala apa yang selalu di panjatkan sekarang terkabul dengan kuasaNya.
Lain dengan Aaron yang entah bagaimana perasaannya antara bahagia dan gelisah menjadi satu.
"By..." Panggil Maya yang melihat Aaron masih saja terdiam.
"I-ya sayang." Sahut Aaron gelagapan.
"Aku hamil by." Timpal Maya memeluk Aaron yang baru saja berdiri. Air matanya menetes bersamaan dengan rasa bahagia yang menimpa dirinya.
"Iya sayang kita akan menjadi orang tua." Ujar Aaron kelu, Apakah pantas dirinya menjadi seorang Ayah sedagkan dirinya sudahh ahh entalah......
"Selamat sobat, kau akan menjafi bapaknya anak- anak. Jadilah panutan yang beriman." Ucap Revan mengusap bahu Aaron yang masih memeluk istrinya.
"Terima kasih sob, pesanmu akan selalu ku ingat." Ujar Aaron melepas pelukan sang istri dan kini gantian dirinya memeluk sahabatnya.
"Maaf nona, Mmm bagaimana kalau kita periksa saja kandungan nona. Nanti bakal ketemu udah berjalan berapa bulan kandungan Nona." Saran Dokter Nadia yang takut kala melihat wajah pasiennya seperti pucat, yang di takutkannya adalah ada yang bermasalah dengan kandungannya sehingga membuatnya pucat secara drastis.
"Nona jangan banyak berfikir ya, saya liat wajah nona pucat sekali berbeda dengan tadi sewaktu datang kesini dengan fres." Timpal Dokter lagi menuntun Maya ke brangkar yang sudah siap di dalam ruangan tersebut.
"Sayang kamu kenapa." Tanya Aaron berusaha menghampiri Maya yang sudah terlentang di atas brankar. Menggenggam tangan sng istri agar menyalurkan energi positif pada tubuh istrinya.
"Pusing by." Sahut Maya memijit pelipisnya.
"Jangan berfikir berlebihan nona, itu sangat mempengaruhi kehamilan anda." Ucap Nadia sembari memakai stetoskopnya dan memeriksa detak jantung pasiennya.
Revan yang masih di dalam sana nampak bangga terhadap sang dokter Cantik itu, netranya tak pernah berpindah dari sosok wanita memukau di hadapannya kini. Biarlah jika Aaron melihatnya ,bodo amatlah.