Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Arthur Putra Addison



Aaron mengadzani putra yang baru saja dilahirkan sesekali matanya melirik sang istri yang masih tak sadarkan diri. Air matanya meluruh bersamaan dengan mata Maya yang terbuka dengan perlahan.


Berkali- kali Aaron mengucap syukur kala doa yang sedari tadi di panjatkannya didengar olehNya.


"Sayang." Panggil Aaron kala mata indah itu berusaha terbuka sempurna. Aaron juga mengulurkan bayi yang berada di dekapannya , Agar Maya bisa melihat dengan jelas wajah putranya.


"By.. Ini anak kita." Ujar Maya dengan suara lemahnya, Dengan tangan gemetar Maya berusaha menggapai tubuh mungil itu walau harus dibantu Aaron.


"Maaf tuan. Nyonya Maya akan kami pindahkan ke ruangan sebelah." Izin Perawat dengan hati- hati, apalagi wajah Aaron sangatlah antusias dengan kehadiran makhluk mungil yang baru saja hadir di tengah- tengah mereka.


Aaron dan Maya mengangguk bersamaan, Apalagi kondisi Maya dan buah hatinya juga sudah membaik.


Aaron menggeser tubuhnya dengan setia mendekap bayinya yang tengah tertidur pulas. Para perawat mendorong brankar Maya yang sudah di bersihkan menuju ruang VIP sesuai pesanan bunda Talia.


Senyuman terus saja mengembang di bibir Aaron kala malaikat kecilnya sangat anteng berada di dekapannya. Aaron mengekori brangkar sang istri dengan perasaan yang sulit di jelaskan.


Apalagi kelurga dan para sahabatnya juga berkumpul di depan ruang bersalin tersebut. Mungkin Loli yang sudah mengabari semua orang tersayangnya hingga mereka kini berkumpul


menantikan kehadiran malaikat kecilnya.


"Cucu oma." Pekik Talia kala Aaron keluar mengekori brangkar sang istri.


Talia mengambil alih bayi yang berada dalam dekapan Aaron, Ia sangat antusias mendengar kabar jika sang menantu tengah melahirkan. Hingga dirinya meninggalkan kue yang baru saja di oven, untung saja ada assisten rumah tangga yang membantunya.


"Ihh gembul banget kak." Timpal Tiara yang menghampiri Talia, ia sangatlah gemas dengan pipi gembul sang ponakan.


"Selamat bro, kita sudah jadi ayah.."ujar Noah memeluk Aaron tak lupa dirinya mengusap punggung kekar Aaron sembari memberi nasehat.


"Kalian udah jadi bapak, nah gua masih betah melajang. Nasib- nasib." Celtuk Ben membuat semua menoleh ke arahnya tak lupa ejekan dan candaan hilir mudik di dengarnya.


"Makanya tuh si lastri kawinin." Timpal Revan yang baru saja tiba, Ia menonyor dahi Ben dengan kerasnya hingga membuat Ben mengadu kesakitan.


"Lastri siapa Ben." Tanya Arkan yang juga nimbrung dan penasaran karena menurutnya Ben tak pernah dekat dengan wanita manapun.


"Ituloh Pa, Kebonya pak kumis tetangga sebelahnya si Ben." Seloroh Revan membuat yang berada disana tak bisa menahan tawanya, Hingga malaikat mungil yang sedari tadi tertidur harus bangun kala mendengar kebisingan sekitar.


Oekkk.... Oekkkk.... Oekk...


Talia menimang- nimang sang cucu agar berhenti menangis. Mereka kelupaan kala ada jagoan yang baru saja melihat dunia, dan terpaksa harus mendengar kebisingan para omnya.


"Maaf nyonya, Saya mau memberikan bayinya pada nyonya Maya. Agar nyonya Maya bisa memberikan asi pertamanya untuk bayinya." Papar perawat yang baru saja keluar dari ruangan Maya menghampiri Talia. Ia mengambil alih bayi tersebut dan membawanya ke ruangan Maya saat ini.


Asi pertama sangatlah penting untuk kekebalan tubuh sang bayi. Aaron dan yang lainnya mengikuti perawat yang membawa bayinya masuk ke dalam ruangan sang istri.


Maya menyambutnya dengan senyuman yang melegakan hati bagi Aaron walaupun wajah pucat sang istri masih nampak. Namun hal itu membuat hati Aaron sangatlah lega.


"Nyonya, waktunya memberi asi pertama anda." Ucap Perawat membuat Maya berusaha duduk di bantu oleh Aaron suaminya.


"Sayang mau ngapain." Sergah Aaron menahan tangan Maya yang tengah membuka kancing bajunya.


"Mau nyusuin By." Sahut Maya berusaha melelas pegangan tangan Aaron.


Aaron menoleh ke samping, dimana ada Ben dan Revan yang tengah menelan ludahnya kasar. Apalagi pandangan makhluk lajang itu mengarah pada dada sang istri.


"Ben, Revan, dan kamu Noah keluarlah." Ucap Aaron membuat Ben dan Revan menelan kekecewaannya Sebab baru saja dirinya hampir saja melihat sesuatu yang menggugah syahwatnya.


"Ar, gua pengen....."


"Keluar sekarang." Bentak Aaron karena pasalnya, Ben hendak menegosiasi.


Ketiga pria itu keluar dari ruangan Maya dengan langkah lunglainya. Padahal sedikit lagi mereka akan melihat sesuatu yang sangat didambakannya. Namun semuanya sirna kala Aaron mengerti dengan tatapan mereka.


"Pa, Keluar juga ya. Aku gak mau papa lihat milik Aaron." Ujar Aaron menatap papanya dengan memelas. Talia dan perawat hanya bisa geleng- geleng melihat posesivnya Aaron.


Arkan keluar dengan langkah lebarnya, karena dirinya tak mau melihat cucu pertamanya menderita. Kala Aaron masih tak mengizinkan istrinya menyusui buah hatinya .


"Kak Aaron mah sensi amat sama bapak sendiri. Kasian kan pak Arkan diusir." Celtuk Tiara yang merasa jengah dengan tingkah Aaron. Namun Aaron tak menggubrisya karena buah hatinya terus saja merengek.


Setelah berdebatan kecil itu usai, Maya mengambil alih tubuh mungil Putranya dari tangan perawat.


Glekk....


Aaron bernafas kasar kala netranya melihat bongkahan kenyal dan semakin mengembang itu menyembul dari bra sang istri. Nafasnya tercekat kala sang putra langsung melahap ****** pink itu dengan buasnya. Hingga membuat Maya menggigit bibirnya kala rasa geli dan perih menjadi satu.


"Sakit nak.?" Tanya Talia kala melihat Maya tengah memejamkan matanya, Seperti tengah menahan rasa sakit di ***********.


"Iya bun, mungkin awal emang gini ya rasanya." Sahut Maya.


Ucapan Maya yang baru saja terlontar membuat Aaron mengernyit. Dirinya tak paham dengan apa yang dimaksut sang istri, Hingga menafsirkan sesuatu yang tak terduga.


"Sayang bukankah aku sudah melatih biar lebihh aww sakit.." Ucap Aaron terhenti kala Maya mencubit lengannya dengan keras. Meskipun perkataan Aaron belum usai, namun Maya mampu mengerti dengan ucapannya.


"Insyaf kak, Udah punya anak juga." Ucap Tiara tertawa kala Aaron sangatlah menderita karena ulah Maya. Tiara sangatlah bahagia kala keluarga sang sahabat nampak bahagia walau dulunya terdapat banyak rintangannya.


"Namanya siapa nak, Udah siap apa belum nih." Ujar Talia menoel pipi bayi gembul yang tengah menikmati makanan barunya.


"By, siapa namanya?" Tanya Maya kala Aaron masih setia mengusap lengannya yang nampak memerah karena ulahnya.


Aaron tak bergeming namun dirinya seperti tengah memikirkan sesuatu. Hingga di persekian menit ucapan yang keluar dari mulut Aaron membuat Talia dan yang lainnya mengembangkan senyumannya.


"Arthur putra Addison." Sergah Aaron dengan lantangnya.


Malaikat kecilnyapun tersenyum kala nama itu di sematkan pada dirinya. Sungguh suasana yang sangat mengharukan. Dimana berbulan- bulan yang lalu mereka harus kehilangan Aaron namun dibulan ini keluarganya kembali berkumpul dan bertambah lagi seorang bayi gembul nan menggemaskan.