Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Menunjukkan jati diri



Dengan berjalan tertatih- tatih pria misterius menahan sakit di ulu hatinya yang sempat mendapat bogeman mentah dari Rangga. Di medan pertempuran dirinya berusaha menahan rasa sakitnya namun kini rasa sakit itu tak bisa di elakkan lagi.


Seperti susah bernafas hingga membuatnya hampir terjungkal ke depan untung saja ada dua sebuah tangan kekar yang menghalaunya.


"Ben..." Ujar pria tersebut melirik sekilas ke arah kedua pria yang berada disisinya.


"Misi lu udah selesai, udah waktunya lu kembali ketempat lu yang semula." Ujar Noah memapah tubuh yang sangatlah kekar itu menuju mobilnya.


Ben dan Noah menyaksikan langsung adegan live, dimana pria bertopeng itu menaklukan lawannya. Patut di acungi jempol karena perubahan yang begitu drastis dalam diri pria itu hanya karena faktor balas dendam.


"Yeaah aku akan kembali." Ujar pria itu sembari menyunggingkan senyumannya membayangkan wajah menggemaskan orang tercintanya.


Noah dan Ben hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pria di kursi belakang nampak tersenyum bahagia. Mereka tak heran kala pria yang masih menampilkan senyuman menawannya terlihat sangat antusias , menanti moment- monent saat ini. Hingga memakan waktu berbulan- bulan lamanya.


"***Sayangg aku kembali," batin pria itu bersorak gembira dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ***...


Setelah kepulangan dari tempat peristirahatan suami tercinta, Maya kini sudah kembali ceria lagi. Apalagi kehadiran Nina yang selalu mensuport dirinya dan janin yang ada didalam rahimnya.


Maya sangat bersyukur karna Ben memaksanya untuk menerima Nina sebagi temannya selama dirumah kecil dan sepi tersebut.


Setelah dirinya dan Nina berkutak di dapur selama hampir satu jam kini Maya lebih memilih menyiram tanaman di samping rumahnya. Biarlah Nina yang mengurus menyusun makanan yang sudah di olahnya bersama- sama di meja makan.


Maya butuh udara segar yang bisa ia gunakan untuk menetralisir perasaannya yang sedari kemarin berdegub kencang. Entah perasaan bagaimana yang di rasakannya namun ia berusaha berfikir positif atas apa yang akan terjadi.


"Nak, kamu bergeraknya lincah banget ya." ujar Maya mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit, Dirinya hanya menunggu dua bulan lagi perkiraan yang dokter berikan untuk melahirkan.


"Kalau Daddymu masih ada mungkin dia akan bahagia nak." ujarnya lagi, dengan tangan kirinya masih setia memegang selang untuk menyirami bunga- bunga disana.


Grepppp...


Jantung Maya memompa lebih cepat kala tubuhnya di peluk erat oleh seseorang dari belakang. Maya melihat ke arah bawah, dimana tangan kekar itu mengelus perut buncitnya dengan lembut.


Fikirannya mulai melayang, dirinya terbayang sekelebat malam panas itu terlintas di otaknya dengan pria misterius.


Maya spontan membalikkan badannya dan benar saja, pria bertopeng itu sama dengan pria yang menggagahinya malam itu. Dengan tubuh yang gemetar Maya memundurkan langkahnya dan menghempaskan tangan pria yang masih bertengger di perutnya.


Cukup malam itu dirinya terlena dengan sentuhan pria yang kini ada di depannya. Maya berusaha menahan gejolak di hatinya yang semakin berdebar kala tatapan itu mengarah padanya.


Pria itu menyunggingkan senyumannya dan perlahan langkahnya maju, mengikuti langkah Maya yang terus saja memundurkan tubuhnya.


Hingga kini langkah Maya harus terhenti kala tubuhnya sudah terpentok di pagar pembatas. Keringat dingin sudah mulai mengucur di dahinya kala tubuh pria itu membungkuk seperti hendak menciumnya.


"Tolong jangan ganggu aku." Cicit Maya pelan, dirinya memejamkan mata kala deru nafas pria di hadapannya ini menerpa kulit wajahnya.


Pria itu menegakkan kembali badannya, dirinya merasa bersalah telah membuat wanita tercintanya ketakutan hingga tubuh mungilnya sudah di basahi oleh keringat.


"Buka matamu Amyku." Suara maskulin itu membuat Maya seakan mati rasa untuk sementara, jantungnya bekerja dua kali lipat seperti biasanya.


Deggg...


"Jangan takut bukalah matamu." Ujarnya lagi seperti tengah berbisik, hingga membuat Maya merinding dibuatnya.


Maya membuka matanya secara perlahan, bisa dengan jelas netranya melihat wajah yang selama ini dirindukannya berada di hadapannya. Biasanya dirinya akan bermimpi jika rindu itu sudah kembali hadir dalam benaknya.


Bibirnya melengkunkan senyumannya , dirinya seperti tengah berkhayal di siang bolong seperti ini. Tapi rasanya seperti nyata fikirnya.


Maya menangkup wajah itu dengan kedua tangannya sesekali mengusapnya dengan gerakan lembut penuh kerinduan.


"Jangan pernah bangunkan aku jika mimpiku ini selalu bersamamu by." Ujar Maya meneteskan air matanya, ia menyakini dirinya jika wajah di depannya ini hanyalah sebuah mimpi ataupun khayalan. Sudah sering Maya mengalami itu namun untuk kali ini rasanya sangatlah nyata. Hingga Maya bisa berkata dengan keinginan hatinya.


Pria itu tersenyum kala Maya masih berusaha menyangkal kehadirannya padahal memang faktanya nyata.


"Aku merindukanmu by." Ujar Maya memeluk erat Pria di hadapannya ini dengan penuh kerinduan yang mendalam.


"Aku juga sayang, aku juga merindukanmu." Sahut Pria itu membalas pelukannya.


Degggg.....


Maya mendongak menatap wajah pria di hadapannya ini, Dengan jantung tak beraturan Maya mencubit pipinya hingga dirinya merintih kesakitan.


"Awww..."pekik Maya kala pipinya sudah nampak memerah karena ulahnya sendiri.


"Sayang, Kamu kenapa.?" Tanya pria itu penuh kekhawatiran, dirinya takut janin yang berada di dalam rahim wanita tercintanya ada masalah hingga membuat sang Mommy merintih.


" Enggak... Kamu bukan Aaron. Aaron udah meninggal, " Seru Maya kala dirinya sudah tersadar jika dirinya bukanlah bermimpi, Maya hendak berlari ke dalam rumah menghindari pria yang menurutnya bukanlah suaminya Aaron Addison. Namun belum juga melangkah, Aaron menariknya dan memeluknya dengan erat.


Maya tak tau harus bagaimana, disisi lain dirinya tak ingin mudah mempercayai namun disisi lain hatinya bahagia bisa melihat kembali sosok yang begitu berarti dalam hidupnya.


Maya memberontak dalam dekapan Aaron, jika memang Aaron sebenarnya masih hidup. Lalu siapa yang diliatnya lima bulan yang lalu kala jenazah yang diyakini suami sendiri.


Penglihatannya tiba- tiba saja mengabur dengar air mata yang terus berderai. Bersamaan dengan itu kepalanya berdenyut nyeri dan kesadarannya mulai hilang dalam dekapan pria yang membuatnya tak habis pikir.


Aaron panik kala tubuh Maya melemah dalam pelukannya. Bukannya tak mau berterus terang, namun ada hal penting yang perlu di selesaikan tanpa melibatkan orang tercintanya. Termasuk sahabatnya sendiri, cukup dirinya yang menanggung semua masalahnya.


Dirinya membawa Maya kedalam kamar yang selama ini ditempati Maya. Tak lupa Ben, Noah dan tak luput Nina mengekori Aaron yang tengah membawa Maya kedalam kamarnya.


Mereka khawatir dengan kondisi Maya yang akan shock jika tau fakta sebenarnya. Dan terbukti jika Maya pingsan kala Aaron menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.


Entah bagaimana nanti reaksi Maya kala sudah terbangun dari pingsannya.