Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
penyerangan



Seseorang pria yang masih setia memakai pakaian hitamnya dan topeng yang menutupi wajahnya, kini bertandang di rumah megah.


Dengan berbagai benda- benda yang tersimpan rapi di tempat- tempat tertentu dan takkan ada yang tau karna sudah tertutup rapi olehnya. Dalam genggamannya juga sudah ada pistol dengan timah beracun yang sudah siap mencari mangsanya.


***Doorr...


Dorrr...


Dorrr***...


Pria itu dengan gesitnya menembak para bodyguard yang berjaga di depan pintu utama sehingga membuat orang yang terkena tembakannya langsung mati di tempat.


Membuat segerombolan bodyguard dari dalam rumah yang mendengarkan tembakan itu bergerombol melihat apa yang terjadi depan rumah mewah itu. Tak terkecuali tuannya yang baru saja keluar dari ruangan olahraganya.


Rangga, Ya Rangga sang tuan yang baru saja keluar dari ruangan olahraganya langsung tercekat kala tembakan menggelegar di luar rumahnya.


***Dorrr..


Dorrr


Dorrr...


Dorrr


Dorrr


Dorrr***


Pria bertopeng itu semakin membabi buta menembak semua bodyguard yang keluar dari kediaman rumah megah itu.


Tak ada rasa kasihan yang mendera hatinya, Niatnya hanya satu membunuh semua orang yang telah berani mengusiknya.


Rangga tercengan di depan pintu kala tatapannya mengarah pada bodyguardnya yang bersimbah darah di depannya. Rangga mendongak menatap pria berpakaian hitan itu dengan tatapan nyalangnya.


Dengan tangan kosong, Rangga mengahampiri pria itu dengan rasa geramnya karena telah mengusik ketentramannya apalagi pria tersebut sok- sokan menjadi pria misterius dengan memakai topeng.


"Bajingan, siapa kamu hah. " Sergah Rangga berdiri tepat di hadapan pria tersebut tanpa rasa takut. Apalagi dengan keadaan para bodyguardnya yang mati di tangannya. Bodyguard yang tersisa saja merasa takut keluar rumah kala melihat para temannya terkapar tak berdaya.


Pria misterius itu menghempaskan pistol yang sedari di pegannya dan itu tak luput dari penglihatan Rangga.


Dengan gerakan cepat juga, Rangga melayangkan bogeman mentah di wajah pria tersebut namun dengan gerakan cepat pula pria itu menangkisnya.


"Siapa yang menyuruhmu.? " bentak Rangga kala tangannya berusaha menyerang pria itu namun sama sekali tak berhasil.


Bugghhh...


Dugghhh...


Hingga sekian menit lamanya Rangga berhasil memukul wajah pria itu hingga membuat pria itu terduduk di tanah akibat bogeman mentah dari Rangga.


Para bodyguard yang melihat musuh tuannya sudah kala telak, Bergegas menghampirinya dan memegang tangan si pria misterius itu disisi kanan kirinya.


Rangga menyeringai kala pria tersebut terus saja memberontak dari cengkram kedua bodyguard yang memegang erat lengannya.


Bugghhh..


Bugghhh...


Bugghhh


Bughhh..


Dengan brutalnya Rangga menghajar Pria itu di beberapa bagian tubuh yang menurutnya adalah kelemahan si pria. Namun bukannya merasakan sakit, pria tersebut menyeringai mengerikan di balik topengnya.


Rangga dan beberapa bodyguard merasa heran dengan tubuh pria tersebut yang nampaknya tak merasakan sakit, bisa dengan jelas Rangga melihat sorot matanya yang nampak biasa- biasa saja.


Kriiekkkkkk......


Dengan paksa Rangga membuka topeng itu dengan tidak sabaran, Wajah yang sedari tadi merasa bingung dengan tingkah musuh di depannya yang tak merasakan sakit. Kini wajah Rangga semakin pucat pasi kala melihat dengan jelas wajah di balik topeng tersebut.


"Kamuu..... Bukann... "ujar Rangga tergugu, Pria tersebut menghempaskan tangan kedua bodyguard yang setia memegang tangannya. Dengan sekali hempasan kedua bodyguard tersebut terpental ke tanah.


Sungguh kekuatan di luar ekpetasi Rangga dan yang lainnya. Dia tak pernah melawan namun sekali melawan tenaganya sungguh di luar dugaan dan membuat Rangga menelan salivanya secara kasar.


Bagaimana pria dihadapannya ini bisa sekuat itu, apakah selama dirinya pergi semata- mata mengasah kemampuan terpendamnya.


"Maksut kamu apa membunuh semua orang-orangku hah... ?" Tanya Rangga ketar- ketir apalagi melihat kemampuan pria di depannya yang berlipat- lipat ganda.


Pria itu tersenyum sinis menelisik tatapan Rangga yang sepertinya tengah mengumpulkan keberanian di dalam dirinya. Apalagi dengan kaki yang bergetar membuat si pria itu semakin lihainya mengerjainya.


Pria tersebut mengeluarkan belati dari saku jaketnya, tanpa melihat ke arah lawannya. Belati kecil namun tajam itu berhasil ia layangnkan dan tepat mengenai mata bodyguard yang masih terduduk di belakangnya karna hempasan tangan yang di berikannya.


"Akhhhh... " Pekik salah satu bodyguart kala matanya sudah bercucuran darah dengan derasnya, hingga di persekian detik nyawanya sudah tak tertolong lagi akibat belati tersebut.


"Hentikan bajingann... " Sergah Rangga melangkahkan kakinya ke depan pria dengan aura iblisnya.


"Aku takkan berhenti ketika melihatmu masih hidup dengan bahagianya sedangkan aku, kamu membuat keluargaku hancur bajingannn... " Sergah Pria tersebut mengarahkan belati yang baru saja di ambil dari saku yang lainnya ke leher Rangga.


Nafas Rangga tercekat kala benda tajam itu mulai melukai permukaan kulitnya yang mulai terasa perih.


"Kenapa, takut?. " Tanya pria itu melukis leher Rangga dengan belatinya hingga bercucuran darah di leher Rangga karna belati tersebut.


Pria tersebut menyunggingkan senyumannkan kala Rangga sangat tersiksa, bisa di lihat dengan jelas jika tangan Rangga terkepal enggan melawan.


"Lawan gua Rangga , kenapa lu diem hah. Mana keberanian lu yang udah ngehancurin keluarga gua" Bentak pria itu memancing kemarahan Rangga yang sedari tadi hanya diam dan pasrah.


"Bunuh G-ua, Hidup gua gak A-da artinya J-ika lu masih hi... " Belum usai ucapan Rangga tubuhnya sudah terpental ke tanah.


Dugghhh...


"Bacottt... " Umpat pria itu menendang tulang kering hingga membuat Rangga berdiri dengan lututnya sebagai penyangga.


***Bugghhh...


Bugghhhh***...


Perlahan tapi pasti, Dengan mengesampingkan luka nyeri ditulang keringnya. Rangga meninju bagian perut Pria itu hingga beberapa kali.


Membuat pria itu mundur beberapa langkah kala tinjuan itu mengarah ke ulu hatinya.


Nafas pria itu mulai tak beraturan kala apa yang sangat dihindarinya dengan mudahnya sang musuh mengetahuinya.


"Bagaimana Ar... " Belum selesai ucapan Rangga, pria tersebut menyeruduk badan tegap Rangga yang masih tertawa.


Sembari menahan rasa sesaknya, Pria tersebut memukul membabai buta Rangga dengan tenaga dalamnya. Sudah cukup menurutnya bermain- main dengan makhluk licik seperti Rangga.


tubuh Rangga yang sudah terkapar namun masih membuka mata itu hanya bisa meludah dengan gaya sombongnya. Pria itu geram, dirinya menaruh pistol di dahi Rangga dengan seringai iblisnya.


"Ucapkan selamat tinggal pada dunia yang begitu kejam padamu Rangga Luxio. " Ucap Pria itu seperti berbisik namun Rangga menanggapinya dengan senyuman meremehkan.


Satu bodyguard yang masih mencari cela, menyelamatkan tuannya berinisiatif memukul kepala Pria tak berperasaan itu dengan batu yang baru saja di dapatkannya.


Dengan berjalan mengendap- ngendap si bodyguard berjalan pelan ke arah pria yang masih mengukung tubuh tuannya.


***Duggghhh..


Dorrr***...


Belum usai langkahnya, si bodyguard tiba-tiba saja tumbang dengan dahi berdarah dan bolong.


***Dorrr...


dorr***..


Setelah menembak si bodyguard, pria tersebut menembak dahi Rangga dan jantungnya berulang kali. Dan itu bisa dipastikan bahwa nyawa Rangga takkan tertolong.


"Matilah bersama para iblis yang selalu membuntutimu. " Batin Pria itu tersenyum devil.