
Kini mereka saling memeluk setelah ciuman panas itu berakhir. Masih dengan nafas tersengagal- senggal baik Aaron ataupun Maya sama- sama kehabisan nafas.
Berpelukan di atas ranjang mencari kenyamanan meski tak melakukan hubungan intim, namun siapa saja yang melihat mereka akan salah faham. Saling berpelukan dengan ditutupi selimut sebatas leher .
Aaron membelai rambut wanitanya sesekali dirinya juga mengecupnya. Aaron sangat bersyukur dirinya mempunya wanita yang mampu memahaminya dan mencintainya meskipun setelah sekian lama berusaha dilupakannya. Namun cintanya masih utuh untuk satu nama Aaron Addison.
Maya mendongak terlihat jelas raut bahagia terpampang jelas diwajah Aaron. Dirinya menahan firasat buruk yang akhir- akhir ini dirasakannya, Maya menekan egonya agar tak menyampaikannya kepada Aaron . Dirinya takut Aaron dan keluarganya berfikir yang entah bagaimana endingnya. Cukup dirinya yang merasakan.
"A seandainya aku pergi dari hidup Aa, apa yang bakal lakukan.?" Maya mendongak melihat ekpresi prianya yang terlihat terkejut.
"Jangan aneh- aneh sayang. Aku akan mencari kamu meskipun jauh sekalipun. Dan stop jangan berfikir untuk pergi dari aku. Kalau sampai itu terjadi aku bakal benci sama kamu. dan gak akan ada kata maaf lagi." Sahut Aaron merapatkan pelukannya.
"Kalau perginya itu dipanggil yang maha kuasa, Apa Aa akan benci aku.?" Pertanyaan Maya mampu membuat Aaron membeku. Dilihatnya wajah sang kekasih, Aaron mengubah posisinya menjadi mengukung Maya. Tangan satunya memegang kedua tangan Maya di atas kepala , Dan satunya meraih tengkuk wanitanya. Dengan bringas Aaron mencium kembali bibir Maya hingga nampak bengkak. Sungguh Aaron tak terima dengan ucapan sang kekasih jika menyangkut kematian.
"Aku akan ikut denganmu bagaimanapun caranya." Aaron menyatukan kembali benda lunak itu namun kali ini dengan kelembutan. ******* dan dicecapnya bibir wanita tercintanya. Hingga kini wajah Aaron menjalar dileher Maya, meninggalkan kecupan merah dileher dan sekitar dadanya.
"Udah jangan mikir yang aneh- aneh ,aku belum unboxing dan nanti malam pertama aku mau 6 ronde. Bersiaplah sayang kita akan melakukan petempuran sengit dan aku pastikan paginya kamu gak bisa jalan." Tutur Aaron kembali ketempat semula. Memberi guyonan agar wanitanya tak membahas sesuatu yang menurutnya aneh. Membenarkan selimut yang tersingkap atas ulahnya tadi, Kini dirinya memeluk wanitanya kembali menjadikan lengannya menjadi bantal agar wanitanya nyaman dipelukannya.
"Udah A aku ngantuk. Awas lo jangan macem- macem." Pinta Maya.
"Gak akan mungkin hanya satu macam aja." Sahut Aaron cengengesan.
"Berani macam- macam kutendang kamu A" Ujar Maya dirinya membelakangi Aaron namun bukan Aaron namanya kalau dirinya mengalah. Dirinya melingkarkan tangannya dipinggang Maya , Meremas benda kenyal yang menurutnya gunung kembar itu hingga Maya merintih.
"Aw A. Apa sihh?." Maya memukul tangan Aaron yang menurutnya sangat lancang.
"Suruh siapa imamnya gak dipeluk. Dosa tau." Ujar Aaron menahan tawanya dirinya sangat senang membuat Maya kesal.
"Masih belum A. Kita kayak gini ini yang dosa." Tutur Maya dirinya membalikkan tubuhnya ke arah Aaron.
"Tinggal menghitung hari juga." Tukas Aaron tak mau kalah.
"Walaupun seperti itu tapi masih gak boleh Aa jelek, udah jelek minim pengetahuan lagi." Tutur Maya menahan tawa dirinya juga tak mau kalah dengan Aaron yang menurutnya ingin menang sendiri.
"Mesum." Maya tertawa dirinya menutupi wajahnya dengan selimut.
"Oh mesumm." Aaron membuka selimut yang menutupi tubuh Maya dengn kasar. Dirinya mengukung Maya dan menggelitikinya hingga wanitanya tak bisa menahan tawanya. Hingga Maya mengeluarkan air mata karna dirinya tertawa lepas.
"Ampun A udahhh.." Ucap Maya ditengah guyonan Aaron dirinya tak sanggup lagi menahan geli.
"Bilang jelek lagi." Timpal Aaron masih terus menggelitiki Maya.
"Aa ganteng sumpah. Aku bercanda A." Ucapan Maya membuat Aaron menghentikan aktivitasnya, bibirnya mengembangkan senyuman.
"Nah gitu kan enak bicara secara fakta." Timpal Aaron , dirinya mendudukkan kembali ke tempat semula.
"Ihh A aku sampek nangis nih . Jahat banget sama calon istri." seru Maya, ia juga mendudukkan dirinya disamping Aaron.
"Maaf ya sayang aku khilaf." Sahut Aaron desertai cengiran.
"Tau ahhh." Maya mlengoskan wajahnya.
"Yahhh ngambek." tukas Aaron menarik Maya agar tertidur, Tak lupa menyelimuti tubuhnya dan tubuh wanitanya hingga tak nampak. Aaron kembali menggelitiki Maya didalam selimut.
"Udah A gak akan ngambek lagi." Ucap Maya lelah.
Cuuup
Maya mencium Aaron terlebih dulu agar Aaron berhenti menjahilinya.
" ayo sini tidur besok kita fitting baju kan.?" Tanya Aaron dirinya menarik Maya ke dalam pelukannya.
Maya hanya menganggukkan kepalanya, sungguh capek menurutnya. Hinnga kini jam menunjukkan pukul 03.02 mereka terlelap menyelami mimpi masing- masing.