
Maya, Aaron dan Ben kini sudah turun dari awak pesawat, setelah sekitar 1 jam 52 menit mereka menempuh terbang di udara. Padahal Aaron sudah menyiapkan jet pribadinya namun Maya menolak dengan keras karena menurutnya lebih seru jika naik beramai- ramai.
Mereka tiba di hotel berbintang yang ada di Bali dan Memesan 3 kamar VIP Suit . Aaron dan Maya menunggu di loby karna Ben sedang mengurus administrasinya yang memakan waktu lumayan lama.
''Kamu capek.'' Tanya Aaron mendekat ke arah Maya yang tengah duduk di kursi tunggu sembari memijat lututnya.
''Lumayan A . Capeknya itu terbayar kalau naik pesawat.'' Sahut Maya dengan senyuman yang tak pernah luntur di bibirnya.
''Oh iya ,aku ingat kalau dulu kamu pengen sekali naik pesawat ya'' Tanya Aaron memandangi mata Maya yang menampakkan binar bahagia.
''Iya. setelah kerja di kantor papa ,aku jadi tau gimana rasanya pesawat. Papa juga sering banget ngajak aku naik pesawat A''' Jawab Maya dengan senyum khasnya yang membuat siapa saja tak bisan memandangnya.
''Berarti aku kalah dong sama papa.Dulu kan aku yang berencana ngajak kamu naik pesawat.'' Timpal Aaron dengan sembari mencebikkan bibirnya.
''Udahlah A gak usah di inget. Itukan hanya janji manis seorang cowok dimasa lalu'' Sindir Maya sekilas melirik ke arah Aaron yang juga melihat ke arahnya.
''Ya gak usah di bahas juga Amy . Aku kan jadi Malu nih'' Sahut Aaron dengan bibir semakin mengerucut.
'' Hahaha ... Aa jelek banget kalau gitu.'' Tawa Maya lepas. Begitulah Maya, Jika ia sudah merasa nyaman akan mudah sekali jatuh cinta. Apalagi hatinya masih untuk seorang Aaron .
Ben datang dengan terus menggerutu di sepanjang langkahnya . Ia teramat kesal dengan sang atasan sekaligus sahabatnya itu. Dirinya harus mengantri, Meskipun hotel berbintang namun yang menginap disana cukup banyak apalagi para bule yang datang dari mancanegara. Sedangkan sang atasan malah lagi asik- asikkan mojok dengan bawahannya.
''Enak ya. Gua ngantri disana panjang kali lebar lu malah asik pacaran disini.'' Ben datang dengan muka ditekuk tak lupa nada bicaranya yang lumayan tinggi.
'' Ben kami gak pacaran jangan fitnah dong'' Sahut Maya tak terima dengan tuduhan Ben karna ia ingat betul mereka sahabat Noah . Takutnya akan menjadi masalah lagi nantinya.
''My.. Ben hanya bercanda jangan dimasukin dalam hati'' Timpal Aaron mencoba menghindari rasa kesal yang mulai hinggap dihatinya.
''Ya tapi kalau sampai Noa......'' Aaron meletakkan jari telunjuknya di bibir Maya. Agar Maya tak menyebut nama seorang yang dibencinya untuk saat ini.
''Ssttttt... Jangan sebut nama
Dia disini. Cukup kita yang akan memulai cerita baru disini dan membuka lembaran baru.'' Ucap Aaron memasang raut wajah yang sudah tak terbaca.
''Tapi A ..'' belum usai ucapan Maya, Aaron dengan gesitnya menimpalinya.
''Aku mohon sama kamu. Aku hanya meminta waktumu selama disini, Kita hidup disini layaknya seorang kekasih hanya disini. Sungguh ,aku masih sangat mencintaimu tolong kasih aku waktu bahagia bersama wanita yang aku cintai .'' Ungkap Aaron membelai wajah Maya. Matanya nampak menelisik dalam ke arah mata indah wanita di depannya kini. Takut dapat penolakan dari calon kekasih sekilasnya.
''Bukannya Aa udah punya kekasih.'' Tanya Maya dengan raut wajah yang nampak tengah menahan cemburu. Ia mengingat pernah ada seorang wanita datang ke kantor dengan pakaian seksi. Setaunya dialah kekasih Aaron.
''Maksut kamu celine??'' Tanya Aaron.
''Mana aku tau'' Jawab Maya ketus sembari memalingkan wajahnya, menghindari tatapan menusuk milik pria dihadapannya ini.
Maya melihat sorot tulus dari mata yang ada di hadapannya. Namun ia tak bisa berbuat apa- apa, Meskipun hatinya masih terpaut dengan Aaron. Demi membahagiakan sang pemilik hati, Maya menerima ajakan Aaron untuk menjadi kekasih sekilasnya. Mungkin dengan begitu Maya bisa menggantikan penderitaan yang selama ini dilakukannya pada Aaron.
''Baiklah A aku bersedia. Tapi aku mohon Ben jangan bilang ke No...''
''Oke.. oke .. Maya jangan dilanjutkan. Kau tau kekasihmu itu sudah seperti zombi yang siap menerkam.'' Sahut Ben memotong ucapan Maya. Maya melirik ke arah Aaron dan benar saja dia sudah melototkan matanya ke arah Ben. Hal itu membuat Ben dan Maya tertawa terpingkal- pingkal.
''Udah ketawanya. Ayok honey kita mojok biarin yang jomblo siapa tau dapet gebetan mbak kunti.'' Aaron pergi ke kamar yang sudah di pesan Ben sembari menarik tangan Maya.
''Eh... eh Ar . Mbak kunti siapa?? Kenalin dong sama gua biar gak jadi nyamuk lu pada.'' Tanya Ben mengikuti langkah Aaron.
'' Seriusan pengen kenalan.'' Ujar Maya dengan tawa yang susah paya di tahannya.
''Dua rius malah .'' Sahut Ben dengan yakin sembari menganggukkan kepalnya.
''Mbak Kunti....lanak'' Jawab Maya dan Aaron serempak. Mereka berlari ke arah kamar yang sudah Ben pesan sedari tadi .Aaron mengunci kamar itu dari dalam sedangkan diluar Ben terus mengumpat sahabat yang telah mengerjainya.
''Awas lu Ar . gua potong si jono lu itu besok'' Sarkas Ben sembari menggedor pintu kamar Aaron.
Maya dan Aaron yang berada di belakang pintu hanya bisa tertawa lepas. Sangat senang bagi Aaron menggoda sahabatnya yang terkesan somplak itu.
Aaron memandang lekat wajah gadis yang sekarang berstatus kekasihnya dengan begitu dalamnya. Dalam keadaan remang- remang wajah cantik itu semakin cantik, Kulit putih bak porselen tanpa cacat menjadikan Maya wanita paling beruntung.
Setelah puas tertawa ,Maya melihat juga ke arah Aaron yang sedang melihat ke arahnya juga. Mata mereka bersitubruk, Dengan pelan Aaron memiringkan kepalany dengan pasti .
''Kenapmptttt.'' Ucapan Maya terpotong ketika Aaron menyambar bibirnya.
Aaron terus menekan tengkuk kekasihnya dengan lembut namun tak ada balasan dari sang kekasih.
''Balas honey.'' Ketika ciuman terlepas.
''Aku gak bismppppttt.'' tanpa memberikan cela , Aaron kembali mencium Maya. Ia merasakan Maya mulai membalas ciumannya namun masih terkesan labil. Tangan Maya di arahkan memeluk lehernya, Aaron semakin erat mendekap sang kekasih dan menekan tengkuknya. Aaron menggiring Maya ke ranjang hingga pada akhirnya Maya terjatuh di ranjang dengan kaki menggelantung.
''A Jangan '' Ucap Maya pelan seperti berbisik.
''Aku gak akan melebihi batas honey.'' Bisik Aaron tepat ditelinga Maya, Membuat Maya merinding dibuatnya. Tangan Aaron membelai wajah ayu itu yang sudah merah merona karena ulahnya.
Cuppp...
Dengan sekilas kecupan yang diberikan Aaron padanya membuat jantung Maya semakin berdetak tak karuan.