Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
pingsan



Hatinya nyeri mendapati wajah sang istri yang biasanya segar dan ceria kini tertutupi wajah yang kini nampak pucat pasi.


Rasa bersalah meyeruak di hati Aaron ketika Maya lagi- lagi tak terganggu tidurnya kala Aaron mengangkat tubuh sang istri yang seperti sangat kelelahan.


Menaiki tangga dengan sesekali melihat wajah pucat sang istri dengan air mata yang sudah mengenang di pelupuk matanya. Akankah dia sanggup melanjutkan rencanannya ketika melihat sang istri tampak lemah tak seperti biasanya.


Dengan pelan Aaron membaringkan tubuh itu dengan perlahan seperti kaca yang takut akan pecah jika dirinya menaruhnya dengan sesuka hatinya.


Membelai rambut indahnya dengan rasa campur aduk hingga rasanya sepertinya akan ragu dengan rencana yang sudah setengah jalan.


"Aku tau sikapku ini akan membuatmu kecewa sayang, tapi percayalah niatku hanya melindungi orang yang aku sayang, Termasuk kamu dan calon anak kita.” Batin Aaron sembari memasang selimut hingga sebatas dada sang istri.


Tak lupa mencium lam kening Maya dengan lembut seperti tengah memberikan kekuatan pada sang istri.


Aaron beranjak dari sisi sang istri, Beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah sangat gerah dan tak nyaman. Setelah bangun tidur dirinya dalam keadaan kebingungan mencari sang istri kala tak ada di sisinya hingga tak memperdulikan penampilannya yang acak kadut.


Didalam bathup Aaron memejamkan mata, Berusaha menetralisir kebingungannya dan rasa bersalahnya kepada sang istri yang mulai goyah akan rencananya. Namun dalam sisi lain dirinya berusaha meyakinkan niatnya untut tetap ia jalani.


"Tapi kenapa wajahnya pucat kalau memang efek sampingnya hanya tak bisa menahan kantuk saja." Batin Aaron berusah berfikir dengan efesien, Menurutnya jika dalam keadaan berendam seperti ini fikirannya akan jernih.


"Kalau sampai ada apa- apa sama istri gua , Gua bakal bunuh lu dokter sialannn." Pekik Aaron berdiri dan hendak membersihkan dirinya. Sungguh fikirannya sudah tak menentu jika mengingat kondisi istrinya.


Dalam balutan wardrobe tubuh kekar Aaron tertutupi, Dan dengan gerakan cepat pula kakinya melangkah ke arah ranjang yang terdapat Maya yang masih sama persis dengan posisi sebelumnya.


Tangan Aaron membelai wajah pucat yang sudah banjir dengan keringat bercucuran. Aaron mengerutkan keningnya dengan apa yang di alami sang istri padahal Ac kamarnya sangat dingin menurutnya.


"Sayang." Panggil Aaron menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya yang sudah agak basah oleh keringat sang istri.


"Sayang bangun." Panggil Aaron lagi, Ia sudah nampak khawatir ketika mengecek suhu tubuh istrinya yang hangat.


"Sayang, Pliss jangan bikin aku khawatir." Aaron terus berusaha memanggil sang istri dengan menepuk pelan pipinya dan mengguncangkan bahunya.


Namun usahanya nihil, Sang istri tetap saja memejamkan matanya tanpa mau membuka.


Dengan gerakan cepat, Aaron berganti pakaian secepat kilat tak peduli apapun yang di pakainya. Tujuannya hanya satu memeriksakan sang istri agar keadannya cepat di tangani.


Dirinya tak mau sampai sesuatu terjadi pada wanita tercintanya, Apalagi sesuatu itu ada sangkut pautnya pada dirinya.


"Lila... Mila.." Ucap Aaron ketika sudah berganti pakaian. Membuat yang di panggil kelabakan, Karna teriakan Aaron sangat menggelegar di lantai dua karena memang sedari tadi mereka berdua membersihkan lantai dimana disana terletak kamar privasy majikannya.


"I-ya tuan." Ucap Mereka serempak ketika pintu kamar tuannya dibukanya.


"Telvon dokter cepat.. dan kamu ambilkan minyak angin cepat." Bentak Aaron merengkuh tubuh lemah Maya.


"B-aik Tuan." Ucap mereka menunduk secara serempak, Berlari agar titah sang Tuan cepat terlaksana.


"Sayang, Bangun yuk." Ucap Aaron mengecup pelipis Maya yang sangat basah oleh keringat tersebut.


Lila masuk dengan membawa botol minyak angin yang di perintahkan tuannya. Tanpa bertanya , Lila mengoleskan pada hidung Maya agar lekas sadar dari pingsannya.


"Tuan, Dokter Revan sudah dalam perjalanan." Ucap Mila yang juga masuk ke dalam kamar majikannya dengan nafas ngos- ngosan.


Tanpa menggubris, Aaron hanya meliriknya sekilas dan kembali memfokuskan pada sang istri. Jika terjadi apa- apa dengan istrinya, dirinyalah orang pertama yang harus di salahkan.


"Sayang bangun." Ucap Aaron kembali mencium pucuk kepala Maya dengan lembutnya.


Kedua orang disana setelah melakukan tugasnya hanya menunduk tanpa mau menegakkan kepala sebab mereka tau jika tuanya dalam mode garang kala sang nona tak sadarkan diri.


"Eunggg..." Lenguhan Maya yang membuat Aaron sepontan tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


"Alhamdulillah.." Ucap syukur Aaron ketika sang istri mnegerjablan matanya dalam pelukannya.


"By..." Panggil Maya dengan suara lemahnya, Menurutnya pelukan Aaron sangat erat sehingga membuatnya agak kesulitan bernafas.


Tau apa yang dimaksut sang istri, Aaron melonggarkan pelukannya tapi dirinya enggan melepaskannya. Kekhawatirannya masih menguasai dirinya sehingga masih betah berlama- lama dengan posisi seperti itu.


"Kamu kenapa?." Tanya Aaron kala melihat Maya memjamkan matanya kembali sembari tangannya memijat pelipisnya.


"Pusing By... Badanku juga lemes banget daribl kemarin- kemarin padahal kalau di buat berjemur biasanya badanku enakkan, Tapi ini gak kayak biasanya." Papar Maya dengan suara yang masihb lemah, Tangan Aaron memegang tangan Maya yang di gunakan memijit pelipisnya .


Menggenggam tangan itu seperti tengah menyalurkan sesuatu yang Mayapun tak tau apa maksutnya.


Bisa dilihat dengan jelas di netra Maya ketika pandangannya melihat ke arah mata Aaron yang sudah mengenang air matanya. Tanpa berbicarapun Maya sudah tau jika Aaron sangat khawatir pada kondisinya.


"Kita ke dokter ya.?" Ujar Aaron dengan air mata yang sudah lolos berlinang di pipinya.


"Heyy.. Jangan nangis. Aku beneran gak apa- apa by, Ini cuma kecapekan aja." Sahut Maya menghapus air mata si pria kekarnya.


"Tuan, Dokter Revan sudah datang." Ucap Mila setelah keluar dari kamar sang majikan dibelakangnya Dokter mengikutinya.


"Ar , Apa yang terjadi?." Tanya Revan pada sang karib, Ia sampai meninggalkan pasiennya yang tengah di tangani sebab panggilan dari pelayan Aaron.


"By. .aku gak apa- apa, Kenapa manggil Revan segala." Ucap Maya dengan berusaha duduk namun Aaron melarangnya dengan menahan tubuh Maya agar tetap di dekapannya.


"Akan jauh lebih baik jika sudah di periksa Sayang. Pliss nurut, Jangan buat aku gila karna kamu gak mau di periksa. Van lakukannlah." Titah Aaron mengarah pada Revan, Mau tak mau Maya menurut dan pasrah dengan apa yang di lakukan sang suami. Toh, ini juga demi kebaikannya.


Revan menempelkan stetoskopnya pada dada bagian atas Maya, Namun dengan gesit Aaron menghempaskannya tanpa ragu.


Membuat yang berada disana membelalakkan mata dengan kelakuan Aaron, Apalagi seseorang pria yang bergelar dokter tersebut.