
Aaron semakin tak terkendali, kini dirinya dan kedua sahabatnya Ben dan Revan ,karena Noah mendapat telvon jika Tiara pingsan dan sekarang berada dirumah sakit. Mereka berada di bar Grizz terkenal di ibukota atas paksaan dari Aaron. Ya, Aaron sengaja mengajaknya kesana. Dirinya terlalu bingung dan frustasi menerima kenyataan pahit yang menimpa hidupnya. Hingar bingar didalam bar menyeruak di indera pendengaran, Bagi siapapun yang tak pernah masuk ke dalam bar akan merasa tak nyaman dengan dentuman musik yang begitu menggelegar didalam sana.
Ben dan Revan sempat dibuat bingung oleh sifat Aaron , Sebenarnya dirinya bukan pemabuk aktif namun sekarang dirinya mampu menghabiskan beberapa minuman alkohol berkadar tinggi.
Membuat Ben dan Revan yang sedari tadi melihatnya hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Mereka berdua bingung, menghentikan kegilaan Aaron namun hanya dapat cacian dari sipatah hati.
"Sayang kamu dimana, Aku rinduuuu kammuuu." Racau Aaron setelah menenggak minumannya.
"Kamu udah janji sama aku , Kamu gak bakalan ninggalin akuu tapi kenapa kamu jahhattt banget sama aku yank." Racaunya
lagi. Ia menuang minumannya lagi ke dalam gelasnya. Namun diurungkan ketika tangan Ben mencekal lengannya.
"Ar udah, Lu bisa mati kalau terus kayal gini. Gimana lu mau nyari Maya bego." Ujar Ben kesal.
Aaron menghentikan aktivitasnya mendengar ucapan Ben ketika menyangkut wanita tercintanya. Aaron berdiri melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar, Aaron berusaha mencapai pintu meski kepala pening akibat mabuk. Namun belum sampai di tujuannya, tubuhnya ambruk ke lantai membuat orang- orang yang berada didekat Aaron berusaha membantunya.
"Nih bocah pingin gua mandiin kembang tujuh rupa biar hilang begoknya." Cecar Ben memapah Aaron ke mobilnya.
"Coba aja biar sekalian lu nanti langsung dipecat sama dia." Ucap Revan sembari terkekeh.
Mereka berdua kembali memapah tubuh kekar Aaron ke unit apertementnya, Meskipun agak kesulitan karena badan Aaron yang lumayan tinggi dari mereka berdua .
Namun mereka masih sanggup memapah hingga ke kamar pribadi Aaron ketika dirinya menginap disana. Apertement mewah dan memiliki dua kamar membuat seorang Ben jadi sangat nyaman berada disana. Sehingga meninggalkan kediamannya agar dirinya lebih mandiri menurutnya.
Kini Aaron terlentang dikasur king sizenya, Sungguh pekerjaan yang melelahkan menurut Ben dan Revan karena meraka harus mengawasi 24 jam pria yang sedang frustasi ditinggal kekasihnya.
"Akhirnya sampek juga." Ben mendudukkan dirinya disofa kamar Aaron.
"Iya, Capek juga ternyata mantau orang frustasi mending megang pisau bedah menurut gua." Timpal Revan.
"Idiihh itu mah lu, gua mah ngeri liat daleman manusia, Lu itu mirip psikopat van dari pada dokter" Sahut Ben menonyor bahu Revan.
"Gua psikopat penyelamat ribuan manusia." Ketus Revan dirinya melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.
"Terserah lu dah." Teriak Ben ketika Revan menutup pintu kamar mandi. Ben kemudian melihat ke arah ranjang dimana disitu Aaron terus meracau nama wanitanya.
"Sabar Ar kita bakal tetep bantuin lu mencari keberadaan Maya sampai ketemu. Gak tega gua liat lu kayak gitu Ar, Lu kadang bikin gua kesel dengan tingkah lu, tapi gua dan sahabat kita menyayangi lu seperti seorang saudara. Gua janji bakal berusaha dapetin informasi tentang Maya. Gua yakin bajingan itu yang udah bawa Maya pergi dari sisi lu Ar." Monolog Ben dalam hati, Dirinya meneteskan air mata meratapi nasib asmara Aaron yang begitu tragis.