
Setelah memutuskan kembali ke ibukota, Keluarga kecilnya nampak sangat bahagia. Apalagi dalam hitungan minggu keluarga kecilnya akan semakin lengkap kala si malaikat kecilnya akan hadir.
Aaron dan Maya kembali kerumah minimalis yang dulunya sempat di tinggali mereka. Sebenarnya Aaron sudah membeli rumah yang lebih besar dan mewah lagi dari rumah minimalis itu. Namun entah mengapa Maya tak mau pindah dari sana.
Menurut Aaron selain mengubur kenangan pahit dirumah itu, Ia juga kurang nyaman karena kurang lebar dan luas untuk anak- anaknya bermanin nantinya.
Namun ucapan Maya selalu membuatnya ketar- ketir sendiri, dan kadang pula sang istri menangis kala dirinya membujuk untuk pindah.
"Aw..." Pekik Maya memejamkan matanya, Ia mendudukkan dirinya di kursi makan sebab tiba- tiba saja perutnya terasa kaku.
"Non kenapa?." Tanya Loli yang sedari tadi membantu sang nona memasak. Padahal Aaron sudah sering kali melarang Maya untuk turun ke dapur karena takut kecapekan. Namun seperti biasa, Maya akan menangis kala Aaron tak mau menuruti kemauannya.
"B-iasa bi, Kram akhh..." Ujar Maya terbata- bata kala rasa sakit di perutnya semakin menjadi.
"Nona.." Seru Loli dengan gusar kala sang nona terus saja kesakitan. Ia bingung harus apa sedangkan dirinya di rumah sedang sendiri karena tuannya baru saja dapat panggilan menghadiri rapat.
"Bik tolong anterin ke kamar bik, perutku sakit sekali." Ujar Maya sembari mengayunkan tangannya ke arah Loli agar membantu memapahnya.
"Kita ke rumah sakit aja ya non, mungkin dedek bayinya harus di periksa dulu." Saran Loli namun mendapat gelengan lemah dari Maya.
"Ga.. Akhhh sakit....." Seru Maya lagi dan disusul dengan air mengalir dari balik daster yang dikenakannya.
Mata Loli membulat kala menyaksikan sendiri betapa derasnya air yang keluar dari balik daster itu. Tanpa pikir panjang Loli memanggil supir untuk menyiapkan kendaraan yang akan mengantar Maya ke rumah sakit.
Tanpa persetujuan dari atasannya, dirinya berinisiatif membawa Maya kerumah sakit. Dalam fikirannya hanya satu, Agar Maya cepat di tangani oleh dokter.
Loli kembali ke dalam memapah sang nona yang sudah lemah dan sesekali mengejan dengan sendirinya. Sang sopir yang menunggu di depan pintu terasa khawatir kala Loli dan Nonanya tak kunjung keluar dari dalam rumah. Sehingga membuat supir tersebut masuk kedalam rumah dan mendapati sang nona sudah di papah oleh Loli.
Dengan mata terpejam dan sesekali menghembuskan nafasnya. Maya berjalan tertatih- tatih dengan bagian bawah yang sudah basah oleh air yang entah apa namanya.
"Ya Tuhan Nona, Air ketubannya sudah pecah." Sergah sopir yang mengira bahwa yang membasahi pakaian Maya bagian bawah adalah air ketuban. Sebab dulu sang istri juga sama seperti sang nona kala air ketubannya sudah mengalir.
Tanpa babibu lagi sang supir menggendong tubuh yang mulai mengembang itu tanpa rasa takut. Biarlah nanti tuannya akan marah jika mengetahui hal tersebut. Karena dirinya takut jika nona dan bayinya akan bermasalah karena air ketubanya sudah pecah terlebih dulu.
Maya diletakkan di kursi belakang dengan Loli yang tengah sibuk mengotak- atik telvon pintarnya. Sesekali tak lupa Lolu membantu Maya agar menarik nafas dalam- dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Menurutnya itu akan mengurangi rasa sakit meskipun dirinya tak pernah merasakannya.
"Tahan ya Non, kita akan ke rumah sakit." Ujar Loli menenangkan Maya yang sedari tadi terus saja merintih kesakitan.
"Sakitt bikkk.." Pekik Maya mencengkram pergelangan tangan Loli karena rasa sakit itu kembali bereaksi.
...****************...
Aaron yang sedari tadi sibuk di ruangan meeting nampak mengernyit kala melihat nama Loli diurutan pertama menelvonya. Bukan hanya sekali tapi ada berpuluh- puluh kali. Dirinya memang sengaja mengesilent handpone agar tak ada yang mengganggu meetingnya menurutnya
Aaron keluar dari ruangan meeting dengan tergesa- gesa dan wajah cemasnya. Apalagi dirinya menelvon balik Loli namun tak diangkatnya. Perasaannya semakin kacau kala nomor sang istri tak bisa di hubunginya.
Dengan langkah lebar dan tak sabaran Aaron keluar dari gedung perusahaannya. Sedari tadi perasaannya tak tenang di pertengahan meeting, hingga dirinya berinisiatif mengechat istrinya namun panggilan tak terjawab dari Loli membuatnya mengurungkan niatnya.
Tak peduli dengan meeting yang sedang berlangsung di dalam sana. Benpun yang dari tadi memanggilnya tak sekalipun dihiraukannya.
Didalam mobil Aaron masih terus berusaha menelvon nomor Loli dan istrinya. Telvonnya tersambung namun tak diangkat oleh pemiliknya, sehingga fikiran positif hilir mudik di kepalanya.
Tuutt.....
"Ayo angkat Loli.." Ujar Aaron dengan rasa tak gentarnya, walau tak di angkat tak membuat Aaron berhenti menghubungi Loli.
Hingga telvon yang kesekian kalinya, akhirnya Loli mengangkat telvonnya. Aaron mengernyit kala suara Loli berubah menjadi cowok. Entah cowoknya atau siapalah itu tak membuat Aaron pusing memikirkannya.
📱Loli: Hallo..."
📲Aaron: "Siapa kamu, Dimana Loli.? " Tanya Aaron meninggikan suaranya.
📱Loli: Ini saya tuan, pardi. Supir tuan. Loli lagi menemani Nona diruangan bersalin tuan.
📲Aaron:" Maksutmu istriku hahh.. Jawabb...?" Bentaknya lagi
📱Loli : " I- ya tuan, ketuban nona sudah pecah."
📲Aaron:" Sharelok sekarang."
Tuuuutt.....
Aaron mematikan telvonnya dengan sepihak, tak terasa air matanya menetes kala mendengar istrinya tengah berjuang sendirian. Aaron kembali melajukan kuda besinya kala muncul notif dari sang supir.
Aaron tak mau jika Maya harus berjuang sendirian di dalam ruangan bersalin. Dirinya harus sampai sebelum sang buah hati melihat dunia untuk pertama kalinya dan orang yang harus melihatnya haruslah dirinya, bukan dokter atau yang lainnya.
Detik demi detik hingga menit demi menit, mobil yang di kendarai Aaron tiba dirumah sakit dimana istrinya tengah berjuang. Aaron melemparkan kunci mobilnya ke arah security agar memparkirkan mobilnya, Dirinya tak ada waktu memparkirkan mobil kala wajah kesakitan sang istri terus saja terngiang- ngiang di pelupuk matanya.
Sang supir yang sedari menunggu di depan pintu masuk segera menghampiri tuannya.
"Mari tuan." ucap sang supir membuat Aaron menghentikan langkah lebarnya. Dirinya kembali melangkah mengikuti sang supir yang sudah sejak tadi menemani istrinya.
Setiba di depan pintu bersalin, nampak Loli dengan wajah yang tengah gusar berbincang dengan dokter yang diyakini sebagai dokter bersalin. Tatapan Loli berbinar kala melihat tuannya mendekat ke arahnya walau wajahnya sudah sangat menyeramkan.
"Ada apa dok?." Tanya Aaron ketika sudah berada di depan sang dokter.
Sang dokter nampak kaget dengan kemunculan Aaron yang tiba- tiba saja apalagi wajah yang acak- acakan terlihat sangat menyeramkan.
"Apa anda suami nyonya Maya, tuan?" Tanya dokter penuh kehati- hatian.
"Benar." jawab Aaron penuh antusias.
"begini tuan, Nyonya Maya harus di operasi karena tenaganya semakin melemah tapi nyonya bersikeras ingin melahirkan normal, saya hanya takut jika nanti nyonya akan drop setelah melahirkan." Papar Dokter membuat Aaron lunglai tak bertenaga.
***Degggg...
"Ada apa lagi ini.." batin Aaron dengan mata yang sudah memanas*** .