
"By." Teriak Maya memanggil Aaron ketika pintu mobilnya sudah dikunci otomatis oleh Aaron. Maya hanya bisa menangis melihat punggung kokoh itu melawan banyaknya orang memaki topeng tersebut.
Tanpa bisa melakukan apa- apa Maya hanya bisa berdoa agar suaminya selalu dalam lindungan-Nya. Hingga beberapa detik ia teringat dengan ucapan Aaron jika ada apa- apa dengan dirinya , Maya diminta untuk segera hubungi Ben.
"Gak perlu nunggu ada apa- apa kan, Iya sekarang aja." Monolog Maya pada dirinya sendiri.
Dengan segera ia memencet hanphone pintar sang suami yang sudah ia wanti- wanti ketika terjadi sesuatu pada dirinya . Bukannya tega mengunci sang istri dalam mobilnya sendiri, Namun yang di lakukannya semata- mata takut jika salah satu yang menyerang mereka menyakiti istrinya. Aaron tak mau sampai itu terjadi, Cukup dulu dirinya selalu gagal melindungi wanitanya.
***Tuuuutttt.
📲Ben: Apa Garong, malem- mal.....
📱Maya: Ben tolong, Aaron di kroyok sama preman Ben, Pliss tolongin.
📲Ben: lokasinya dimana.?
📱Maya: Gak tau Ben, Aku sharelok ya. Bentar Ben.
📲Ben: Oke gua tunggu, Gua langsung Otw may.
📱Maya: iya Ben.
tuuuuttttttt***.....
Ben mematikan sepihak telvonya, ia segera berlalu dari rumah sakit menuju lokasi yang sudah dikirim oleh istri sahabatnya .
Maya membekap mulutnya ketika Aaron mendapat serangan mendadak dari arah samping hingga mengakibatkan dirinya terpental.
Dengan gerakan gesit si preman itu menindih tubuh Aaron yang tersungkur di aspalan.
"Buka mobilnya brengsek." Bentak salah satu preman yang berhasil melumpuhkan Aaron. Memegang kerah Aaron dengan erat hingga membuat Aaron seperti tengah tercekik.
" Gak akan." Ucap Aaron dengan nafas tersenggal- senggal. Namun ia berusah melawan dengan sekuat tenaga, Menoleh ke arah mobil dan matanya melihat pemandangan yang membuat hatinya ikut teriris. Sang istri menangis di dalam mobil mungkinkah karena dirinya sudah di bawa kendali sang preman.
Hingga ....
Dugghhhhh...
Aaron menghantam kepala preman tersebut dengan batu yang berada dalam genggamannya. Ia tersenyum sinis mendapati darah mengalir di dahi si preman yang tadi mengukung dirinya.
"Akhh sialannn." Umpat preman yang sudah tergeletak di atas aspa seperti Aaron yang tadi di kukung dirinya.
***Bugghhttt
bugghht
bughhhh
bughhhhh***
Aaron kembali memukul dengan membabi buta, Ia tak mau membuat Maya terlalu lama menangis di dalam mobilnya karena Aaron tak kunjung selesai memberi pelajaran pada preman yang telah mengusik dirinya.
"Bangsatttt.." Teriak Aaron ketika bogeman terakhir mengarah pada satu preman yang masih kuat berdiri karena serangannya.
Tiiinnnn... tinnnn.....
Mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi hingga tepat di titik lokasi, Ia melihat para preman yang sudah mengganggu sahabatnya tergolek lemah di atas aspal.
Ben turun dengan kerennya, Namun di tanggapi jitakan kepala oleh Aaron . Menurutnya kedatngan Ben membuatnya pusing tujuh keliling apalagi dengan tampang yang sok kerennya
"Apasih garong main jitak ajah." Ucap Ben kesal bukan preman yang harus di lawannya malah sang sahabat yang menjahilinya.
"bodo ,Yang penting gua datang sebagai penyelamat lu, kalau gua gak datang gak mungkin mereka pada tiduran di aspalan." Cecar Ben.
"Bukan tidur begok" Sahut Aarob kembali menjitak kepela Ben
"Garong lo...."
***Pyarrrrrrrr...
sontak kedua yang mendengar pecahan tersebut menoleh ke arah sumber suara. Mereka membelalakkan mata ketika kaca mobil Aaron sudah menjadi serpihan. Apalagi yang membuat Aaron terhenyak ketika salah satu preman tersebut memukul kaca tepat di samping Maya.
"By...." Teriak Maya ketakutan ketika dirinya di paksa keluar dari mobil lewat kaca tersebut.
"Cepattt." Ucap pria bertropong itu.
Mendengar suara itu Maya terhenyak, Suara yang sangat familiar menurutnya.
"kKamu..." Ucap Maya tergagap, Dirinya malah ketakutan mendengar suara tersebut.
Bugghhhhh...
Aaron menendang tubuh preman tersebut hingga terpental ke aspalan, Ia juga membuka pintu mobil yang sedari tadi di kuncinya agar tau keadaan sang istri. Aaron takut ada luka yang di sebabkan oleh preman tersebut padanya.
" kamu gak apa- apa sayang." Ucap Aaron menangkup wajah Maya yang sudah berada di luar mobil. Hendak memeluk namun tangan Maya memberi jarak agar Aaron tak memeluknya.
Bukannya menjawab Maya malah melangkahkan kakinya ke arah preman yang tadi telah memaksanya hingga membuat mobil Aaron rusak.
Melangkahkan kakinya dengan pelan, Matanya menatap lekat wajah yang tertutupi kain tersebut. Mata mereka bersitubruk, hingga pria tersebut memalingkan wajahnya hendak pergi darinya.
"Tunggu." Ucap Maya ketika punggung kokoh tersebut memunggunginya.
"Hummy apa- apaan kamu?" Tanya Aaron kesal ketika Maya menolak untuk di peluknya malahan menghampiri pria yang akan mencelakainya.
"Aku tau siapa kamu, Tapi aku mohon jangan usik aku dan keluargaku biarkan aku bahagia dengan pilihanku." Ucap Maya kehati- hatian agar masalahnya cepat teratasi.
Pria tersebut menoleh,Tersenyum sinis walau tak nampak karena kain yang menutupi wajahnya. Sorot matanya memandang kebencian yang teramat namun juga ada kerinduan untuk wanita tersebut.
" Itu takkan terjadi cantik, Kau harus membalas rasa sakitku ini." Ucap Pria tersebut dan langsung hengkang dari hadapan mereka. Maya tak bisa lagi memendung air matanya yang sedari tadi ia tahan.
Menerima kenyataan bahwa pilihannya menyakiti hati seseorang yang telah berjasa dalam hidupnya.
"Hummy." Ucap Aaron membalikkan tubuh Maya yang sudah banjir dengan air mata, Ia bingung mengapa sang istri mengenal salah satu preman tersebut. Dan mengapa istrinya seperti sangat tersakiti oleh ucapannya. Meskipun hatinya bertanya- tanya dengan rasa penasaran dan kecemburuannya , ia takkan memaksa biarlah sang istri yang akan bercerita sendiri nantinya.
Aaron tau jika hati istrinya sekarang tengah tak baik- baik saja, sebab itu Aaron berpura- pura diam saja seperti tak mendengar apa yang di bicarakan istrinya.
"Segitu bencinya kamu , Hingga tak membiarkan aku hidup tenang." Batin Maya menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Aaron.
"Siapa sebenarnya dia hummy kenapa kamu sangat terluka sekali setelah kepergiannya, Aku cemburu sayang, Aku sakit hati melihatmu menangisi pria lain di depanku." Batin Aaron mencium pucuk kepala Maya dengan lembut.
Kini mereka kembali menjalankan mobilnya, Mereka sengaja menumpang pada mobil Ben karena menurut Aaron teralu bahaya jika menaiki mobil yang kacanya sudah pecah dengan tragisnya.
Biarlah itu menjadi urusan orang bengkel yang menangani mobil Aaron, ia tak mau memikirkannya cukup memikirkan istrinya yang diam saja dirinya sudah pusing.
Aaron sekilas melirik ke arah Maya yang bersedekap dada namun matanya memandang luar cendela dengan tatapan kosong. Mungkinkah Maya akan bercerita sendiri nantinya jika Aaron tak bertanya- tanya tentang kejadian malam ini.
Begitupun dengan Ben, Ia juga sangat penasaran dengan kejadian yang baru saja terjadi antara si preman dan istri sahabatnya.
"Apakah Maya punya selingkuhan.?" Batin Ben bertanya- tanya***.